Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 60. FIRASAT


"Ibu sudah tidak apa-apa, Nak. Oh, ya, coba lihat ibu mertua kamu."


"Si-siapa?"


Dita yang ketakutan akan sebutan mertua, beringsut mundur. Tubuhnya sampai terantuk pintu. Dari luar pintu Rani berdiri memandang aneh ke arah Dita. Ia masih takut dengan ancaman orang tua Yudistira yang mendoakan keburukan kepadanya.


Belum lagi ucapan bahwa Dita wanita pembunuh. Bagaimana ia bisa mendapatkan dua suami yang meninggal secara tragis dalam jangka waktu kurang dari satu tahun.


"Dit-Dita ... kamu kenapa?"


Tepukan halus Rani membuat Dita terjingkat. Kedua mata Dita masih terlihat ketakutan.


"Ran ... kamu Rani kan?" tanya Dita tergagap.


"Iya ini gue, kamu kenapa sih?"


Tiba tiba saja Dita memeluk Rani karena ketakutan. Ia merasa tidak nyaman saat ini, sehingga salah satu hal yang buatnya nyaman adalah memeluk Rani.


"Aku takut, Ran."


Rani mengelus rambut Dita dan memeluknya. Dita semakin mengeratkan pelukannya. Entah kenapa suara Ibunda Yudistira tiba-tiba terngiang di telinganya.


"Bagaimana bisa kamu menjodohkan anak semata wayang kita dengan pembunuh, Mas?" gertaknya pada Ayah Yudistira.


Sementara itu Baskoro merasa marah lalu perlahan mendekati Dita.


"Jangan harap kamu mendapatkan harta gono gini dari Yudistira! Kamu sama sekali tidak pantas!" ucapnya dengan geram.


Dada Dita terasa sesak, kepalanya berputar dan ia pingsan.


"Dita ...." teriak Nyonya Sekar dan Rani secara bersamaan.


Nyonya Anggraeni yang baru saja keluar dari kamar segera berlari menuju sumber suara. Suara teriakan mereka juga membuat para pekerja pagi itu kalang kabut. Di satu sisi Dita pingsan di kamar lain Pak Joko dinyatakan meninggal.


Tenyata ia keracuan sejak semalam. Ia memang terkena gigitan ular, tetapi langsung dipanggilkan mantri. Sayangnya, bisa ular itu sudah menyebar ke seluruh tubuh dan obat dari Pak Mantri tidak berguna.


"Innalillahi, bagaimana ini Jeng?" Nyonya Anggraeni tampak khawatir saat ini.


"Sebaiknya kita kasih uang bela sungkawa ke keluarga korban karena ia meninggal disaat jam kerjanya."


Nyonya Anggraeni mengangguk. Sementara Dita masih berada di dalam kamarnya bersama Rani.


"Dit, setelah semua ini berakhir, memang sebaiknya kamu ikut denganku."


Rani masih mengingat jelas pertemuannya dengan kakek berjenggot putih. Ia juga telah menemukan alamat yang kakek itu sisipkan ke dalam tas ranselnya.


Di sebuah rumah kecil, Danu sempat mendengar jika ada berita lelayu di desa sebelah.


"Beruntung kamu sudah sampai sini, Danu."


"Di desa sebelah ada seorang wanita terkutuk."


"Ma-maksud Nenek?"


Danu masih belum memahami ucapan neneknya barusan. Apalagi ia tidak terlalu percaya dengan takhayul. Bagaimana bisa neneknya mengatakan hal-hal aneh se-pagi ini.


Nenek Romlah yang melihat cucunya tidak percaya akan hal itu menatap tajam ke arahnya.


"Kamu tidak percaya ucapan Nenek?"


Sorot mata tajam dari nenek Romlah membuat Danu mengernyitkan dahinya. Ia tidak habis pikir dengan kebiasaan orang di desa tersebut, yang masih mempercayai sebuah tahayul bahkan bisa mengatakan bahwa ada wanita pembawa sial di zaman seperti ini.


"Bukannya seperti itu, Nek, tetapi bukankah kita sudah hidup di zaman modern dan --"


"Kamu tidak mengenal dia, Danu! Jadi kamu tidak usah banyak komentar. Kalau kamu tidak ingin ketularan sial, ya seharusnya kamu itu mengikuti ucapan Nenek!" ucapnya dengan tegas.


Danu tidak mengiyakan atau pun menolak ucapan neneknya. Ia hanya mendengkus kesal saat ini. Di satu sisi ia ingin percaya, tetapi sisi keimanan yang ia miliki membuatnya sadar bahwa hal tersebut tidak boleh diyakini olehnya.


"Atau jangan-jangan kamu sudah ketemu wanita pembawa sial itu?"


Sorot mata Nenek Romlah tidak seramah biasanya.


"Dia memang sangat cantik Danu, siapapun akan tersihir oleh kecantikannya itu. Bahkan ketika kamu mengingkarinya, bayangan wanita itu akan selalu membayangimu!"


"Apakah yang nenek maksud Dita?"


Entah kenapa perasaan Danu sudah tidak enak. Apalagi pagi-pagi sudah ada berita lelayu. Membuat suasana pagi itu terasa anyep baginya.


"Biarlah pertemuanku dengan Dita menjadi sebuah misteri," gumam Danu.


Nenek Romlah yang notabene indigo sudah merasakan hal tidak beres ketika cucunya datang. Apalagi ia datang dihari terlarang dalam hitungan keluarganya.


"Jika ini takdirmu, maka nenek yang akan berdiri di garda terdepan untuk menyelamatkanmu."


Sementara itu Danu masih asyik menyantap sayur bening dengan tempe garit miliknya. Nenek Romlah juga tidak ingin membahas hal ini kembali.


Bersambung.


.


.


Sambil nunggu up jangan lupa mampir kakak