Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 21. KEMBALI


Hari ini Sam baru saja kembali dari luar negeri, ia berniat untuk bertemu dengan sahabat masa kecilnya yaitu Dita. Sewaktu kecil, Dita memang mempunyai tetangga laki-laki yang sering bermain bersama Dita, dialah Samuel atau lebih sering dipanggil Sam.


Selepas masa sekolah dasar, Sam dibawa pergi kedua orang tuanya ke luar negeri karena ayahnya mendapatkan beasiswa, sehingga mau tidak mau anak dan istrinya dibawa pergi. Sejak saat itu Sam dan Dita berpisah.


Di dalam mobil, Sam terus tersenyum membayangkan pertemuannya dengan Dita. Ia tidak sabar untuk memberikan kejutan untuknya. Oleh karena itu, selepas turun dari pesawat ia berniat untuk langsung datang ke Rumah Dita.


Saat ini ia memang sudah selesai kuliah, jadi ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Hal yang paling ia rindukan dari Indonesia adalah Dita.


"Bagaimana kabar Dita sekarang? Apakah ia tetap tomboy seperti dulu?" ucap Sam sambil memandang hamparan sawah di sekitar jalan raya yang telah ia lewati.


Sesekali ia tersenyum senang, membayangkan Dita.


"Apakah ia akan tumbuh cantik? Ah, rasanya sudah tidak sabar," gumamnya.


"Pak, percepat laju mobilnya, ya," titah Sam pada sopirnya.


"Baik, Tuan."


Laju kendaraan kini mulai bertambah, beruntung jalanan sudah terlihat sepi dan lengang, sehingga perjalanan mereka lancar tanpa hambatan.


Lengkungan senyum tidak pernah terlepas dari wajahnya. Bayangan Dita yang cantik sejak kecil membuat Sam terus menerus membayangkan dirinya. Namun, Sam tidak tahu jika Dita dan keluarganya sudah pindah rumah.


Sementara itu, Dita masih mencari cara untuk menyelamatkan Juna. Ia merasa jika Juna seperti itu karena dirinya. Oleh karena itu ia akan membantu memulihkan Juna bagaimana pun caranya.


"Aku harus membantu Juna, bagaimana pun ia tidak boleh seperti ini. Semua ini terjadi karena kehadiranku."


Dita terus memandangi halaman belakang rumahnya. Hembusan angin sore yang menyapa kulitnya sama sekali tidak ia hiraukan. Sampai ketika Ibunya datang, Dita tidak tahu.


"Dita, ngapain sore-sore begini melamun di dekat jendela? Anak gadis tidak baik seperti itu."


Seketika Dita menoleh, ia tersenyum kecut ketika menanggapi ucapan ibunya itu. Sejak Juna sakit, kehidupan Dita sedikit banyak telah banyak berubah menjadi kacau.


Ketika di kampus, Dita kurang fokus pada materi yang disampaikan oleh dosen. Saat di rumah, Dita kebanyakan melamun. Padahal kenyataannya, ia sedang mencari solusi untuk masalah yang terjadi saat ini. Nyonya Sekar memegang bahu Dita, putrinya.


Dita mengangguk, lalu ia menghentikan langkahnya, Dita kembali duduk di tempat semula. Ia memandang lekat-lekat wajah ibunya.


"Apakah Juna akan mengalami hal yang sama dengan Mas Wisnu?"


"Entahlah, Nduk, yang penting kita tidak usah berpikiran buruk seperti itu. Kita doakan saja supaya Juna baik-baik saja. Sejujurnya Ibu juga tidak tega jika Juna sampai seperti ini."


Tidak ingin terlihat lemah, Nyonya Sekar menguatkan hati putrinya. Ia tidak mau melihat kondisi Dita akan bernasib sama seperti wanita yang terkena kutukan, karena menurut Nyonya Sekar, Dita tidak pernah mendapatkan kutukan. Hanya saja dirinya sangat istimewa dibanding para gadis yang lainnya.


"Sudahlah, sebaiknya kita masuk!"


Dita mengangguk dan mengikuti langkah ibunya. Hawa dingin angin pegunungan tiba-tiba menyapa dirinya.


Senja kini telah berganti malam. Cahaya jingga keemasan yang terlukis di ufuk barat sudah menghilang berganti dengan kegelapan malam. Suara burung hantu samar-samar terdengar dari kamar Dita, begitu pula dengan nyanyian jangkrik yang bersahut-sahutan.


Selepas makan malam, Dita sudah mengurung dirinya di kamar. Ia mencoba memejamkan kedua matanya, tetapi tidak bisa. Hembusan angin dari celah jendela meniup-niup tengkuk Dita. Memberikan sebuah ketenangan bagi siapa saja yang menikmatinya, tetapi tidak dengan Dita. Lalu Dita segera menutup jendela kamarnya.


Tiba-tiba saja Dita merasa ingin buang air kecil, ia pun turun dari ranjang lalu keluar dari kamarnya. Suasana rumah malam itu terasa lebih dingin dari biasanya, sehingga membuat Dita tidak bisa menahan rasa ingin buang air kecil.


Sesaat setelah keluar dari toilet, kaki Dita seolah terasa berat. Meskipun begitu, Dita tetap berjalan meski sedikit tertatih.


"Kenapa lagi sih? Perasaan nggak ada siapa-siapa?" ucapnya menguatkan hatinya.


Lalu Dita mulai membaca doa, berharap makhluk yang datang mengganggu, segera pergi. Benar saja, sesaat kemudian langkahnya kembali normal.


"Hm, ada-ada saja," ucapnya dalam hati.


Namun, di tengah perjalanan, harum bunga kantil dan melati kembali tercium. Aromanya semakin tajam ketika ia kembali ke dalam kamarnya. Jendela kamar Dita yang semula tertutup kini malah terbuka lebar. Hingga dari kamar Dita terlihat bulan purnama.


Sontak saja Dita ingin melihatnya, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat bayangan hitam yang berada di gazebo belakang rumah.