Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 25. KE KAMPUS LAGI


Hari berganti hari, semakin lama kondisi Juna semakin memprihatinkan. Tidak ada yang bisa menyembuhkan kondisi Juna selain kedatangan Dita. Namun, kedua orang tua Juna masih enggan untuk menghubungi Keluarga Handoko.


Terlebih niatan untuk membatalkan rencana perjodohan antara Dita dan Juna sudah terdengar di sana. Rasa tidak enak dan takut bisnisnya hancur menghantui pikiran Ayah Juna.


"Bagaimana ini? Kenapa rasanya tidak mungkin kita menemukan seseorang yang bisa menyembuhkan Juna?" ucap Nyonya Sinta semakin gusar.


"Entahlah, Bu. Aku masih sangsi jika kita harus kembali berhubungan dengan Keluarga Handoko atau memutuskan hal ini secara sepihak."


Ayah Juna berdiri dari kursi kebesarannya, ia menatap hamparan sawah di hadapannya itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi ia ingin putranya selamat, di sisi yang lain ia menginginkan bisnisnya semakin lancar.


Namun, jika hal tersebut harus dilakukan dengan menggadaikan nyawa putranya, ia tidak akan pernah menyetujuinya. Apalagi Juna merupakan anak tunggal mereka sekaligus calon penerus Keluarga Atmadja.


"Terlebih saat ini Keluarga Handoko sudah tau, jika kita akan membatalkan rencana perjodohan Dita dan Juna."


Nyonya Sinta menoleh memandang ke arah suaminya.


"Lalu apa Bapak mau dan tega melihat kondisi Juna yang seperti mayat hidup terus menerus?"


Nyonya Sinta sudah putus asa dengan keadaan putra semata wayangnya. Ia tidak mau lagi berdebat banyak dengan suaminya dan memilih untuk pergi ke kamar Juna.


"Terserah Bapak mau yang mana, tetapi Juna adalah anak kita satu-satunya, aku berharap tidak akan ada lagi kesakitan ataupun musibah setelah ini."


Setelah mengatakan semuanya, Nyonya Sinta segera meninggalkan suaminya dan memilih pergi ke kamar Juna. Matanya terlihat sendu ketika melihat keadaan Juna yang semakin memprihatinkan.


Di dalam kamar itu, terlihat seorang pemuda yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Senyum dan canda tawa yang biasa ditunjukkan olehnya, kini terhapus sudah. Tubuh Juna yang semula kekar dan tampan kini tinggal tulang dan kulit.


Bahkan mirisnya, tubuhnya masih bertahan sampai saat ini hanya karena bantuan bantuan dari saripati makanan yang berasal dari selang infus yang mengalir ke tubuh Juna. Ternyata suaminya mengikutinya sampai ke kamar Juna. Kini tangannya memegang bahu Nyonya Sinta.


"Pak, lebih baik kita bicarakan baik-baik, lagi pula mereka yang meminta pada kita agar Juna mau menikah dengan putrinya."


"Apa yang kamu katakan benar Buk, sebaiknya kita yang datang ke sana, tetapi kita tunggu sampai kondisi Juna membaik."


"Sudahlah, Pak. Kalau memang Bapak tidak mau mengantar Ibu ke rumah Nak Dita, maka Ibu akan berangkat sendiri."


"Iya, iya Bu, biarkan Bapak menitipkan urusan bisnis pada Aji terlebih dahulu baru kita berangkat ke kota."


"Bapak nggak bohong, kan?"


"Enggak, Bu."


"Ya sudah kalau begitu."


.


.


Keesokan harinya Dita sudah bersiap untuk berangkat kuliah. Seperti biasa Dita akan menggunakan mobil pribadi untuk sampai di kampus. Selepas berpamitan pada ibunya, Dita segera melajukan mobilnya meninggalkan area pegunungan.


Dita sama sekali tidak tau jika sedari keluar dari pegunungan tadi ada satu mobil yang mengikutinya hingga ke kampus. Setelah memastikan Dita sampai, pemuda tersebut memutar kembali arah lajunya.


"Sekarang aku sudah tahu tempat dimana kamu sekolah, maka setelah ini akan lebih memudahkan aku untuk melakukan semuanya."


Rani yang kebetulan sudah sampai di kampus segera mendekati mobil Dita yang sudah terparkir rapi tersebut. Sejak melihat mobil Dita sudah masuk area kampus, Rani sengaja datang untuk menyambutnya.


Tidak lupa ia menyambut Dita dengan sangat heboh. Satu ciri khas yang disukai dari Rani adalah sikap apa adanya dan cenderung lebih ceria dibanding dirinya.


"Selamat pagi Raden Ayu Anindita Puspa Ayu Batari, sugeng rawuh," ucapnya menirukan abdi dalem ketika menyambutnya.


Entah kenapa kali ini ia mengunakan logat Jawa.


"Elah, ngapain sih, Ran. Bikin bete aja, deh!"


Dita kebetulan baru sensitif sehingga tingkah laku Rani seolah salah di matanya.


"Nah, loh kenapa sih, apa ada yang salah dengan ucapan gue?"


"Gue tuh lagi latihan menyambut seorang gadis ningrat loh Dita."


"Terserah kamu, deh, yang penting kamu suka."


Rani menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu berlari kecil mendekati Dita agar bisa menyamai langkahnya.


"Makanya cerita dong Ibuk, biar gue nggak penasaran gitu."


"Iya nanti gue cerita, tapi kita kuliah dulu, oke."


Belum sempat langkah Dita sampai di kelasnya terdengar keributan dari arah taman.


"Tolong ... tolong ...." teriak para mahasiswi.


"Ada apa ya?"


"Nggak tau Ran, kita ke sana aja yuk!"


"Ayok!"


Sebenarnya ada hal apa sehingga membuat para mahasiswi histeris?


.


.


Bersambung