Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 77. MENJADI ISTRI BISMA


Kini dari kejauhan sudah terlihat dengan jelas. Kediaman rumah Dita yang semula sepi, kini sudah terlihat sehat dan suasana rumah sudah ramai. Bahkan beberapa dekorasi pernikahan seperti penjol dan tarub sudah terpasang di sana.


"Apakah Dita akan segera menikah?"


"Lalu kenapa rasanya suasana malam hari terasa berbeda. Lebih anyep dan sedikit terasa aura mistik. Ya, Tuhan semoga keadaannya baik-baik saja. Aamiin."


Meskipun sudah terlihat jelas, tetapi keinginan Danu untuk bertemu dengan Dita semakin tinggi. Ia sedang memikirkan cara untuk bisa menyelinap masuk.


.


.


Suara gamelan Jawa terdengar mengalun indah di Kediaman Handoko. Mengisyaratkan jika hari itu ada sebuah perhelatan akbar. Sebuah upacara penyatuan dua keluarga besar dengan menikahkan Bisma Abimayu dengan Anindita Puspa Ayu Batari.


Saat ini, Dita sudah menggunakan pakaian tradisional dodot, ia mengenakan kain kemben panjang dan lebar yang disebut kain dodot. Dengan dilengkapi paes Yogya Ageng. Dita masih saja tampak manglingi saat mengenakan pakaian itu. Begitu pula dengan Bisma yang tampak gagah.


Setelah mengucapkan ijab kabul maka Dita resmi menjadi istri dari Bisma. Kini keduanya sedang melakukan acara resepsi. Meskipun begitu selama prosesi berlangsung tidak ada raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah Dita.


Danu bisa melihat hal tersebut, bahkan sejak Dita baru saja keluar dari rumah pengantin wanita. Detak jantung Dita dan Danu sempat terhenti sejenak, manakala tatapan keduanya saling beradu.


"Danu ... kamu datang ke sini?" gumam Dita.


"Maafkan aku yang datang terlambat ke sini, Dita. Maaf," ucap Dita lirih sambil memegang dahan pohon mangga agar wajahnya tidak terlihat dengan para pengawal Dita.


Meskipun begitu keduanya tidak bisa berbincang-bincang karena Dita sudah resmi menjadi istri Bisma. Lagi pula selama prosesi resepsi pernikahan berlangsung, Bisma selalu menggenggam tangan Dita.


"Kalau adek haus, biar Mas panggil pramusaji ke sini?" ucap Bisma dengan nada lembut.


"Iya, Mas. Boleh kalau tidak keberatan."


"Tunggu sebentar."


Sampai akhirnya pada suapan terakhir, nafas Dita tercekat karena wajah Wisnu terlihat jelas dihadapannya. Seolah ia yang sedari tadi tersenyum dan menyuapinya.


"Kenapa, Dek? Kamu takut kepadaku?" ucap sosok yang menyerupai Wisnu tersebut.


Tenggorokan Dita terasa kering, ingin rasanya ia segera membasahinya dengan air yang dipegang oleh Wisnu, tetapi senyuman Wisnu berubah menjadi lebih menyeramkan.


Wajahnya yang tadinya terlihat tampan dan sangat gagah, kini berubah. Kulit wajah Wisnu mengelupas dan mengeluarkan da-rah. Sudut bibirnya mengeluarkan da-rah kental berwarna merah kehitaman. Aroma bunga melati kini berubah menjadi bau daging busuk.


Kepala yang semula kokoh kini sengklek sudah. Terlihat patah dengan lidah menjulur, air liurnya bahkan menetes di nampan yang berisi makanan bekas Dita.


"Kamu harus bertanggung jawab, Dek!"


"Ke-kenapa harus aku, Mas?"


"Karena kamu yang membuat aku seperti ini, kamu harus ikut denganku, sekarang!"


"Ti-tidak!"


Bisma yang melihat mulut Dita megap-megap menjadi panik. Didekapnya tubuh Dita lalu Bisma meniupkan doa-doa tepat di ubun-ubun istrinya itu. Berharap kejadian buruk tidak terjadi padanya, karena pesta resepsi masih berlangsung.


"Bisakah Bisma mengatasi hal tersebut dan membuat Dita kembali?"


.


.


BERSAMBUNG