Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 109. TERNYATA KAMU


Setelah penuh paksaan akhirnya Dita berhasil diajak Fano.


"Kenapa wajahnya di manyun-manyunkan seperti itu?" tanya Fano jujur karena merasa lucu dengan ekspresi Dita saat ini.


Namun, Dita sama sekali tidak berbicara apapun.


"Jadi serius nih, gak pengen keluar sama aku?"


"Padahal aku jarang punya waktu, loh!"


Fano masih bersikap welcome dan mencoba mengajak bicara Dita. Namun, Dita tetap diam, tidak berkata apapun hingga membuat Fano gemas.


Dilihatnya hamparan langit malam itu. Ternyata langit dipenuhi bintang-bintang, sehingga terlihat sangat indah.


Mengambil inisiatif yang biasa digunakan oleh para lelaki dalam memikat wanita, Fano akhirnya mengucapkan sebuah puisi indah yang mampu menyentuh hati Dinda.


......................


...Hamparan langit begitu indah malam ini...


...Sayangnya ......


...cahaya rembulan sedang bersembunyi...


...Sama seperti dirimu yang tidak mengulas senyum untukku...


...Langit tak berarti tanpa adanya rembulan...


...Sepertiku yang selalu sendirian ...


...Aku mungkin bukan satu-satunya bintang di langitmu...


...Tapi aku adalah bintang yang selalu berusaha ...


...Bersinar lebih terang agar kau...


...Perhatian walau sebentar...


......................


Dinda awalnya memang cuek. Akan tetapi melihat Fano yang terus berusaha, akhirnya ia yang notabene adalah seorang yang mempunyai jiwa seni, menghargai puisi yang dibacakan Fano.


Meskipun sebenarnya ia tidak menyukai Fano, tetapi kalimat yang teruntai dari ucapannya membuat Dita tersentuh.


"Belajar puisi dari mana?"


Fano terkejut ketika Dita merespon puisi yang ia baca.


"Tentu saja puisi yang kubuat murni dari dalam hatiku, karena aku tidak punya waktu untuk membaca karya orang lain."


Fano tersenyum getir.


"Sejak aku sekolah, kedua orang tuaku hanya mengarkan bisnis kepadaku. Selain itu mereka tidak pernah mengajarkan hal lain, karena aku memang di didik untuk menjadi penerus di dalam keluargaku."


Fano menatap Dita dalam-dalam.


"Kamu bisa lihat sendiri, waktuku habis di dalam perusahaan. Hanya bekerja dan bekerja itulah kebiasaanku."


Dita merasa tidak enak pada Fano. Sebenarnya Dita seorang introvet, tetapi demi menghargai Fano ia pun menjawab apa yang ditanyakan olehnya.


"Maaf, jika ucapan dariku membuatmu sedih."


"Kalau kamu hobinya apa?" tanya Fano setelahnya.


"Maka dari itu, aku sekolah di dalam jurusan seni."


"Oh, begitu. Memangnya kamu kuliah jurusan apa?"


"Jurusan desain."


"Desain apa?"


"Desain grafis," kata Dita.


"Sudah semester berapa?"


Dita tersenyum kaku.


"Lupa, karena sekarang aku sedang cuti kuliah. Bahkan sudah hampir satu tahun ini aku cuti kuliah, dan hanya menjalankan bisnisku di toko," ucap Dita dengan sendu.


"Oh, maaf kalau begitu. Kalau boleh tahu kenapa harus cuti kuliah? Apa kau sedang sakit? Kelihatannya kau tidak memiliki sakit apa pun?" tanya Fano.


"Iya, aku memang tidak sakit, tapi apa kau benar-benar ingin mengenal aku?"


"Atau kau mau mencoba menggali masa laluku?"


Fano menatap aneh kepada Dita, bukan maksudnya ia menggali luka Dita.


"Maaf sebelumnya, kalau kamu tidak ingin cerita, ya tidak usah bercerita. Bukankah aku juga tidak memaksamu?"


Dita yang salah sangka kepada Fano hanya bisa menunduk dan meminta maaf.


"Maafkan aku yang terlalu sensitif."


"Nggak apa-apa, kok. Cuma alangkah baiknya jika kita berteman. Setidaknya kita mengetahui latar belakang masing-masing agar bisa lebih akrab."


Dita sebenarnya tidak keberatan dengan pertemanan, hanya saja ia takut jika Fano akan celaka jika mendekati dirinya. Seketika hawa dingin menyerang.


Angin malam yang berhembus tidak lagi semilir tetapi semakin menusuk ke dalam. Aroma bunga melati bercampur kenanga tiba-tiba tercium dari tempat duduk Dita dan Fano.


"Apa kau mencium aroma bunga? Bunga apa ya namanya?"


Dita menatap Fano dengan penuh curiga.


"Maksudmu kamu juga mencium aroma bunga melati dan kenanga?"


Fano mengangguk. "Apa kau juga mencium aroma yang sama denganku?"


Dita seketika berdiri tegak.


"Menjauhkan dariku! Itu akan lebih baik untukmu!" ucap Dita final.


Dita segera pergi menjauhi Fano yang masih kebingungan. Ia merasa aneh ketika menyuruh ia menjauhinya. Seketika pikiran Fano kembali teringat dengan Wanita Bahu Laweyan.


"Apakah Dita termasuk wanita itu, kenapa seketika suasana menjadi mencekam seperti ini?" ucapnya penuh tanda tanya.


Meskipun begitu, Dita yang sudah menjauh dari Fano begitu ketakutan karena suasana seperti tadi pernah ia rasakan.


"Semoga kamu mengikuti ucapanku, Fano."


.


.


BERSAMBUNG