
Melihat kelelahan di wajah Dita membuat Sam tidak tega. Ia segera mengusulkan jika ia akan menggantikan Dita menyetir.
"Dita, sebaiknya kamu istirahat gih, biar aku yang menyetir, udah ada alamatnya di google map, kan?"
"Iya, sih. Kalau kamu mau silakan aja, bahu gue udah pegal semua, nggak nyangka kalau rutenya kek gini," keluh Dita.
Awalnya Dita merasa kuat karena perkiraan perjalanan mereka hanya tujuh jam, tetapi ternyata lebih dari itu. Bahkan sampai saat ini, mereka belum sampai ke sana.
Dita menepikan mobilnya, lalu berpindah posisi ke samping kursi kemudi. Saat Sam hendak masuk ke dalam mobil untuk menggantikan Dita, tiba-tiba saja dari arah depan muncul mobil dengan kecepatan tinggi hendak menyerempet tubuh Sam.
"Awassss ...." teriak Dita dan Rani secara bersama-sama.
Beruntung Sam langsung masuk dan menutup pintu mobilnya. Nyawanya kembali selamat saat ini, tetapi entah setelahnya karena ia masih proses pendekatan dengan Anindita.
Bahkan lengannya saja masih belum pulih akibat gigitan ular tadi pagi. Namun, demi mendekati Dita ia malah nekad mengikutinya sampai sejauh ini.
"Ka-kamu nggak kenapa-napa, kan Sam?" tanya Dita khawatir.
"Alhamdulilah enggak kenapa-napa, kok. Santai aja. Cuma aku masih keder, abis perasaan tadi nggak ada mobil kok tiba-tiba aja nyelonong lewat."
Rani yang terdiam di kursi belakang hanya bisa geleng-geleng. Satu persatu keanehan yang terjadi pada semua orang yang dekat dengan Dita mengingatkannya pada ramalan beberapa tahun yang lalu.
"Kok gue berasa flash back, ya?" gumam Rani.
"Minum dulu, Sam!"
Dita menyerahkan satu botol air mineral pada Sam agar bisa membuatnya sedikit tenang saat ini. Setelah dirasa tenang, maka Sam melanjutkan perjalanannya mengikuti arah google.
Satu setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di sebuah rumah mewah. Meski bergaya Jawa, tetapi tidak mengurangi kemegahan yang terlihat di sana. Dita turun dari dalam mobil dan mencoba bertanya pada penjaga rumah.
"Selamat pagi, Pak. Maaf apa benar ini rumah Keluarga Tuan Bram Wicaksono dan Nyonya Sinta?"
"Pagi, Mbak. Iya benar ini rumah Tuan Bram Wicaksono dan Nyonya Sinta. Maaf ada perlu apa ya?"
"Saya Anindita, saya diminta datang kemari sama Nyonya Sinta."
"Oh gitu, sebentar ya Mbak, saya lapor dulu."
Setelah beberapa saat, penjaga rumah membuka gerbang dan mengatakan jika kedatangan mereka sudah ditunggu.
"Iya, Mbak. Kedatangan Mbak Dita sudah ditunggu di dalam sama Nyonya dan Tuan."
"Baik, terima kasih, Pak."
Penjaga rumah itu tersenyum dan membungkuk memberi hormat. Setelah itu Dita segera masuk ke dalam mobil.
"Bener ini rumah Juna, Dit?"
"Iya, sudah ayo masuk!"
Setelah mengetahui hal tersebut, mobil Dita dikemudikan Sam untuk memasuki pekarangan rumah.
"Wah, rumah mereka mewah sekali, Dit. Sama persis kaya rumah Lu di gunung."
Perasaan Sam semakin tidak enak di sana. Bayangan Dita bersama lelaki lain membayangi pikirannya.
"Ini rumah calon tunangan Dita, Mas. Memangnya Mas nggak tahu."
Sontak saja Sam menajamkan pandangannya ke arah Dita. Mengisyaratkan kalau ia tidak suka akan hal yang dikatakan Rani barusan.
"Calon tunangan?"
"Iya, tapi--"
"Sudah belum ngobrolnya, kita sudah ditunggu oleh pemilik rumah, loh. Turun yuk!"
Ketiga penumpang tersebut akhirnya turun mengekor di belakang Dita.
Ternyata benar, kedatangan mereka sudah ditunggu oleh Nyonya Sinta. Buktinya beliau sudah menunggu di depan pintu utama. Beliau terlihat anggun dengan memakai pakaian adat Jawa sama persis dengan kebiasaan Ibunya di rumah.
Namun, kening Nyonya Sinta berkerut, melihat Dita datang bersama laki-laki dan satu orang wanita.
"Siapa lelaki itu? Apa pacar Dita, ah mana mungkin."
"Assalamu'alaikum, Tante Sinta. Maaf Dita lama sampainya."
"Wa'alaikum salam, Dita. Nggak apa-apa, ayo masuk. Kamu sudah ditunggu Juna di dalam."
Entah kenapa, perasaan amarah yang sebelumnya mendera Nyonya Sinta perlahan menghilang saat Dita mengucap salam tadi. Bahkan beliau menyambut dengan ramah kedatangan mereka bertiga. Ketiga remaja tadi bersalaman dengan Nyonya Sinta dan dijamu di ruang tamu.
"Ayo silakan dinikmati, kalau kalian capek bisa istirahat di kamar tamu. Biar ditunjukkan kamarnya sama Mbok Nem."
"Eh, iya Tante. Terima kasih sebelumnya."
"Maaf Tante, mau ijin numpang ke kamar kecil boleh ya?" ucap Rani menyela.
"Boleh, sebentar biar ditunjukkan sama Mbok Nem."
"Iya, terima kasih."
"Mbok Nem, tolong antar teman Non Dita ke kamar kecil."
"Silakan Non, ikuti saya."
Sementara itu Sam sudah merasakan hawa panas menyerang tubuhnya. Mungkin efek lengan Sam yang bekas gigitan ular kemarin pagi masih bereaksi saat ini.
Nyonya Sinta yang melihat wajah memerah dari Sam mencoba menanyakan keadaannya sama Dita.
"Dita, teman kamu itu kenapa wajahnya memerah, lihat keringatnya saja sampai sebesar biji jagung."
Sontak Dita menoleh ke arah Sam. Ia pun menjadi panik sama seperti Nyinya Sinta. Namun, kesadarannya mengatakan jika sisa racun ular belum sepenuhnya hilang dari tubuh Sam.
"Tante, boleh nggak Dita minta air kunyit satu gelas sekarang!"
"Buat apa?"
"Teman Dita habis kena gigitan ular, mungkin saat ini sisa bisa ular tersebut bereaksi."
"Ya, ampun. Sebentar Tante siapkan."