Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 192. KEGANJILAN


Perjalanan panjang dari Indonesia ke tempat tinggal sementara Dita dan Fano ternyata memakan waktu yang lumayan lama. Pikiran Dita membuat perjalanan yang seharusnya terasa nyaman kini justru terasa melelahkan.


"Akibat banyak pikiran membuatku begadang, astaga!" keluh Dita sambil melihat pantulan dirinya di depan cermin.


Kedua matanya penuh lingkaran hitam yang melingkar. Terlihat samar akan tetapi, jika diperhatikan secara seksama tetap saja membuat siapa saja yang melihatnya akan menggunjingnya.


Fano yang menyadari jika istrinya tidak berada disampingnya terkejut.


"Kemana perginya, Dita?"


Langkah kaki Dita terhenti ketika melihat sebuah bayangan hitam tepat berdiri di belakang kursi Fano. Sosok tersebut menoleh sambil menyeringai.


Sontak saja Dita memundurkan langkahnya beberapa kali. Akan tetapi ia terkejut dengan sosok itu yang justru mendekatinya. Dengan sorot mata merah menyala seolah ingin menelan Dita hidup-hidup.


Tubuhnya tidak sengaja menabrak salah satu pramugari yang bertugas.


"Arghh! Sorry!"


Sebuah tangan yang terulur kepada Dita yang terjatuh. Diraih tangan tersebut hingga akhirnya Dita kembali berdiri. Ia menengadahkan wajah menghadap orang yang menolongnya barusan.


"Mas Fano?"


Fano mengukir senyum tetapi ada sedikit kemarahan di ujung matanya. "Dari mana saja?"


"Maaf, aku dari toilet."


"Ya sudah, ayo kembali duduk. Ngapain berdiri di sini?"


"Iya."


Dita memang mengikuti langkah Fano tetapi kedua matanya masih melihat ke sekelilingnya untuk memastikan pandangan Dita tidak salah.


"Apa mungkin tadi hanya sebuah halusinasiku saja? Ah, tidak mungkin. Jelas-jelas tadi aku melihatnya dengan teliti. Bahkan aroma lebusnya masih tertinggal."


"Maaf, aku terlalu posesif terhadapmu. Hanya saja semua itu aku lakukan karena aku sangat mencintaimu."


"Maaf, Mas. Tadi beneran aku ngerasa pengen buang air kecil, makanya aku pergi tanpa pamit."


"Sudahlah, yang terpenting saat ini adalah kenapa kamu terlihat banyak sekali beban pikiran. Apakah ada sesuatu yang mengganjal hatimu, jika iya, maka katakanlah kepadaku."


Ucapan Fano bagaikan sebuah oase di tengah gurun. Hal yang ingin ia sampaikan pada Fano masih harus banyak disaring lagi olehnya. Apalagi terlihat sekali jika Fano menghawatirkan dirinya.


"Tadi sepulang dari toilet aku melihat sesuatu yang berdiri tepat di kursi bagian belakang. Hingga ketika aku mendekatinya justru sosok hitam itu menyeringai dan mendekatiku kembali. Aku yang ketakutan semakin memundurkan langkah hingga menabrak pramugari tadi."


"Tapi kamu, tidak kenapa-napa, bukan?"


"Alhamdulillah aku tidak kenapa-napa, Mas. Semoga saja semuanya bisa berjalan dengan lancar."


"Aamiin," ucap keduanya secara bersamaan.


Waktu yang ditempuh selama perjalanan akhirnya usai sudah. Pesawat yang mereka tumpangi telah sampai di tujuan.


"Wah, indah banget, Mas. Itu Gunung Fuji, ya?"


Fano terlihat mengangguk bahagia. Apalagi senyuman Dita terlihat merekah sempurna hingga membuat kecantikan alami Dita bisa bersanding dengan panorama alam yang berada di sekitarnya.


"Terima kasih banyak, Mas. Sudah mengijinkan aku untuk ikut bersamamu tinggal di negeri ini."


"Iya, sama-sama, jadi kamu akan tetap tinggal bersamaku di kota ini selama beberapa bulan, apa kamu mau?"


"Aku mau, Mas."


"Syukurlah kalau begitu."


Sepasang suami istri itu segera pergi meninggalkan bandara menuju ke apartemennya. Selama di kota itu maka Fano dan Dita hanya tinggal berdua. Namun beberapa kali akan datang seorang pegawai rumah tangga yang membersihkan rumah itu.