Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 180. MISTERI APA


Sebelum terbangun dari tidurnya, Dita sempat mengerjap beberapa kali. Merasa jika tubuhnya tidak nyaman membuat Dita tidak merasa bebas ketika bergerak.


"Ada apa dengan tubuhku? Kenapa rasanya sakit semua?"


"Ya, Allah rasanya seperti barusan terjatuh. Arghhhh!" keluh Dita.


Perjalanannya ke alam ghaib selama dua hari benar-benar menguras tenaga dalam Dita. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat, tetapi tidak sepucat tadi, masih ada aura kemerahan di dalam wajahnya.


Pandangan Dita masih menyisir ke sekelilingnya. Terlihat jika suasana kamarnya sama sekali tidak ada yang berubah. Satu hal yang berbeda adalah kondisi tubuhnya yang tidak seperti biasanya.


"Aduh!"


Grep


Seolah ada yang memegang tangan Dita akan tetapi rasanya sangat dingin. Saat Dita menoleh tidak ada orang sama sekali. Seketika bulu kuduk Dita meremang.


Sentuhan itu begitu mirip dengan saat Bisma menyentuh tangannya. Memang dari semua mendiang suami Dita yang telah meninggal hanya Bisma yang paling mengisi di dalam hati Dita.


"Mengesankan, tetapi bukankah Mas sudah tenang di alam sana. Kenapa kembali?"


Semilir angin yang berhembus lewat celah jendela kamarnya membuat Dita tidak berani menoleh. Buliran air matanya menjadi saksi bagaimana Dita merindukan kehadiran suaminya itu.


Sayang, saat ini ia hanya hidup sendiri. Sebagai janda yang telah menikah sebanyak lebih dari empat kali. Menyedihkan, kisah hidup Dita sama sekali bukanlah sebuah impian yang bisa ia banggakan. Rasa malu mungkin telah terputus hingga membuat Dita tidak bisa berbuat apapun ketika kedua orang tuanya selalu menjodohkan dirinya dengan pilihan yang menurut mereka cocok.


Di dalam kepedihan yang ia rasakan, Dita tidak bisa memilih bagaimana ia harus menyikapi ujian kehidupannya ini. Beruntung tidak berapa lama kemudian muncullah Mbok Nem dengan tersenyum ke arahnya.


"Den Ayu sudah bangun? Kenapa melamun? Anak gadis tidak boleh melamun pagi-pagi."


Dita tersenyum miris.


"Aku bukan anak gadis lagi, Mbok. Mantan suamiku saja sudah banyak dan meninggal lagi, nggak pantas lah dipanggil anak gadis," elak Dita.


"Sudah mendingan belum, Den Ayu. Jika ada yang tidak beres boleh memberitahukannya pada simbok. Biar Simbok yang mengurusnya."


"Sudah Mbok, aku sudah nggak kenapa-napa lagi, cuma masih lemas aja!" jawab Dita sambil mencoba duduk.


Sayang, bukannya Dita duduk, saat ini Dita justru kesakitan. Bahkan untuk bangun dari tidurnya saja Dita tidak sanggup dan membutuhkan bantuan dari Mbok Nem.


"Kok badanku sakit semua ya, Mbok. Apakah aku akan ma-ti meskipun sudah bertemu dengan dengan kebahagiaanku nanti? Rasanya aku baru saja melakukan perjalanan yang sangat jauh. Apakah aku baru kembali dari dimensi lain?"


Sontak saja Mbok Nem tidak berani memberikan sebuah alasan pada junjungannya itu.


"Jangan bergerak dulu, Den. Ini minuman hangat untuk Den Ayu."


Mbok Nem segera meminumkan jahe hangat kepada Dita. Di ruangan lain, Nyonya Sekar baru saja terbangun dari tidurnya.


Selama dua hari kemarin, Nyonya Sekar memang dibuat tidur selama itu agar ia tidak terlalu curiga ketika Dita belum juga kembali.


"Kepalaku pusing sekali," keluh Nyonya Sekar sambil memegangi kepalanya yang berdenyut kencang.


Ia menoleh ke samping dan ternyata sudah tersedia teh hangat berserta makanan ringan. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman.


"Mbok Nem selalu pengertian," gumamnya.


Beberapa saat kemudian tercium aroma bunga kantil di dalam ruangannya. Sontak ia berteriak-teriak untuk memanggil Mbok Nem.


"Mbok Nem ... Mbok Nem .... kemarilah!"


Merasa jika dirinya terpanggil membuat Mbok Nem segera berlari ke kamar Nyonya Sekar.


"Iya, hamba datang ...."