Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 32. PERJALANAN PANJANG


Mobil yang dikendarai Dita sudah melaju membelah jalanan, rasanya lelah sebenarnya masih ia rasakan, tetapi ia tidak mungkin membiarkan Sam menyetir mobilnya. Terlebih saat ini, ia masih terlihat demam.


"Kamu serius nggak pengen ke Rumah Sakit, Sam?"


Sam yang duduk di samping Dita menggeleng.


"Enggak usah, kita balik aja!"


"Oke."


Setelah beberapa saat terjadi keheningan di dalam mobil tidak ada percakapan yang terjadi di sana. Sampai mobil yang dikendarai Dita kembali masuk ke dalam hutan.


Waktu sudah menunjukkan lebih dari jam enam sore. Dita masih terjebak di dalam hutan tersebut, tetapi ia tidak membiarkan pikirannya kosong.


Dita terus melafalkan doa-doa agar jalan yang ia lewati segera mengantarkannya ke kota ke tempat ia tinggal. Tidak lupa Dita memfokuskan pandangannya ke depan. Sementara itu, Sam dan Rani melihat ke sekeliling.


"Jalanan ini bener yang kita lewati semalam, Dit?"


"Kok berasa beda, ya? Perasaan semalam itu nggak seramai saat ini?" seru Rani.


"Iya deh, lihat semalam jalanan sepi banget, tapi sekarang ramai sekali?"


Dita yang terdiam kini ikut berkomentar.


"Mungkin karena ini masih sore, jadi yang lewat sini masih banyak. Kalau kita semalam kan udah lewat tengah malam, jadi jalanannya sudah sepi!" Ujar Dita yang tetap memfokuskan pandangannya ke depan.


Mendengar ucapan Dita, kedua orang tadi terdiam seketika.


Jalanan di tengah hutan itu akan berubah jika waktu wingit tiba. Siapa pun yang tidak biasa lewat situ akan diganggu makhluk-makhluk tak kasat mata. Mereka akan membuat jalan di depan mereka terasa panjang atau membuatnya tersesat di tengah hutan.


Tidak sedikit yang bisa lolos dari hal tersebut, tetapi tetap saja ada beberapa orang yang menghilang, karena tetap memaksakan diri melewati jalanan itu. Menurut Tante Sinta, jalanan itu akan terasa sepi jika waktu senja tiba, dan akan kembali ramai jika matahari sudah terbit.


Selama itu tidak ada yang berani melintasi hutan tersebut di malam hari. Jadi wajar saja kalau di sana sepi, tetapi apa yang dilihat Dita malam ini berbeda. Jalanan terasa ramai, tetapi suasana 'anyep', seakan terasa tidak biasa.


Dita bisa merasakan jika kendaraan-kendaraan tersebut bukanlah kendaraan yang sama dengan miliknya. Mungkin saja itu milik para hantu yang dulu lewat hutan ini dan tidak bisa keluar, hingga terjebak dalam dunia makhluk-makhluk tak kasat mata tersebut.


Hingga di kala senja, mereka akan mengacaukan para pandangan para pengemudi agar mereka mengikuti laju kendaraan tersebut. Tiba-tiba saja Rani berteriak dari arah kursi belakang.


"Dit, kamu kok keluar jalur!" teriak Rani mengingatkan.


"Udah diem aja! Aku yang tahu jalannya! Kalian banyakin berdoa aja."


Ucapan Dita barusan membuat Rani terdiam, seolah tahu jika tempat tersebut berbeda. Hingga saat ini Dita hanya ingin menyelematkan mereka.


Sepanjang jalan yang dilewati Dita memang sepi, tetapi terlihat di depan sana jalanan yang ramai dan arah keluar hutan.


"Alhamdulillah," ujar Dita sambil mengusap dada.


Namun, keganjilan tidak berhenti di sana. Dari arah depan sebuah truk kontainer melaju kencang ke arah Dita, sontak membuat ketiga orang itu berteriak kencang.


"Aaaaa ....."