
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan ma-ti. Begitu pula dengan Dita dan Tito yang harus berpisah setelah ini. Bagaimanapun mereka sudah melakukan sebuah hal yang diluar batas kemampuan manusia biasa.
Beruntung masih ada Mbok Nem yang mau membantu Dita untuk menuntaskan masalah ini. Kedua orang tuanya justru telah membuat ia merasa seolah menanggung beban sendirian.
"Jika aku bisa memutar waktu, alangkah baiknya aku akan memperbaiki diri agar aku tidak salah dalam melangkah. Meskipun kemungkinan itu sangat kecil setidaknya aku sudah mencoba terlebih dahulu."
Mbok Nem masih komat-kamit membaca mantra, sementara itu tangannya masih menjaga api kemenyan di hadapannya saat ini. Dita tidak berharap banyak, keinginannya hanya satu yaitu segera menemukan titik temu dari semua kemalangan yang menimpa dirinya.
"Kanjeng Nyai, bantulah Mbok Nem agar ia bisa membuka tabir kelam di hadapanku saat ini," ucap Dita bersungguh-sungguh.
Akhirnya setelah sekian lama upacara persembahan yang mereka lakukan berhasil.
"Mbok lihat pohon di depan kita!" teriak Dita ketakutan.
Secara mengejutkan pohon beringin di depan mereka terbelah menjadi dua. Manakal ada sebuah kilatan petir datang dan menyambar pohon tersebut hingga terbelah menjadi dua sisi yang sama bagian.
"Sabar Den Ayu, sebaiknya kita harus bersabar sedikit lagi. Biarkan asap dari terbelahnya kayu tersebut segera menghilang, baru setelahnya kita bisa bersantai sebentar."
"Jangan dikira, bekas terkena kilatan petir tadi bisa disentuh oleh siapapun. Justru hanya orang yang terpilih adalah bisa mendapatkan keajaiban."
...BRAK!...
Batang pohon itu terbelah dengan kedua sisi yang sama besar. Belum lagi sebuah asap tebal mengepul, membubung tinggi hingga ke angkasa itu membuat Dita sedikit ketakutan. Hanya saja ia masih bertahan karena rasa penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Beberapa saat kemudian, dari tengah-tengah pohon tersebut terlihat sebuah cahaya yang sangat menyilaukan mata. Membuat siapa saja yang melihatnya harus menyipitkan mata agar matanya tidak terluka.
Cahaya itu membimbing mata batin Mbok Nem pada dimensi lain. Mulut Mbok Nem terus saja merapalkan sebuah mantra, agar ia bisa kembali meskipun sudah berkelana di dunia lain.
Meskipun cahaya di dunia lain itu samar-samar, ia masih bisa melihat dengan sangat jelas jika ada sebuah jasad yang terselip di antara akar-akar pohon yang saling membelit satu sama lain.
"Jasad manusia?"
Mbok Nem mendekatkan tubuhnya ke arah pohon yang masih mengepul itu. Kain jariknya tersangkut akar pohon, lalu salah satu tangannya mencoba untuk menyentuh batang pohon itu.
"Ijinkan kami melihat ke arah masa lalu!" desis Mbok Nem sambil melotot.
Ketika ia melongok ke dalam, mulut Mbok Nem sontak menganga karena terlalu terkejut.
"Den Bagus, kenapa nasibmu seperti ini?"
Tidak mau membuat Dita semakin curiga. Mbok Nem segera berbalik arah dan segera masuk kembali ke dalam raganya.
"Ternyata memang ada jasad seorang lelaki yang tertanam di sana! Apakah aku harus mengatakan hal ini pada Den Ayu?"
...SLUP...
Beberapa saat kemudian terlihat kesadaran Mbok Nem kembali, ia pun segera memanggil junjungannya.
"Den ... Den Ayu ...." panggil Mbok Nem pada Dita
Dita sontak menoleh dan melihat ke arah Mbok Nem, "Ada apa, Mbok?"
"I-tu Den, em ... anu ...."
"Anu apaan, katakan dengan jelas, Mbok?"
"Ada sebuah jasad manusia yang nyelip di antara akar-akar kayu."
Mbok Nem menunjuk ke arah yang ia maksud. Dita pun mengangguk, tanpa ragu melangkahkan kakinya ke arah akar-akar pohon beringin. Dilihatnya secara seksama apa yang dikatakan oleh Mbok Nem itu benar adanya atau hanya sebuah candaan.
"Ma-Mas Tito," ucap Dita sambil menutup mulutnya yang tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Lututnya melemas, tubuhnya luruh ke bawah. Ia pun jatuh bersimpuh sambil menghadap pohon yang sudah terbelah itu.
"Ja-jadi benar kamu sudah meninggal?" ucap Dita tergugu.
Tito yang melihat hal itu hanya bisa menahan gemuruh yang bersemayam di dalam hatinya. Rasanya sangat menyakitkan ketika ia sudah nyaman dengan seseorang dan ternyata dia sudah meninggal jauh sebelum pernikahan mereka dilangsungkan.
"A-aku menikah dengan hantu?"
Mbok Nem menepuk pelan bahu Dita, mencoba memberikan ketenangan lewat sentuhan tangan yang ia berikan.
"Menangislah jika memang Den Ayu ingin menangis, Simbok siap mendengarkan semua keluh kesahnya."
Dita menggeleng perlahan, baginya lebih baik menangis saat ini daripada ia harus mempertahankan sebuah kebohongan di depan semua orang. Tito yang awalnya berada di belakang Dita kini menghilang dan berada di atas jasadnya.
"Inikah akhir kehidupanku? Kenapa Ibu tega melakukan hal ini kepadaku?" tanyanya dalam hati.
Saat hendak menyentuh jasadnya Mbok Nem berteriak.
"Jangan disentuh Den Bagus, lebih baik saya yang mengangkatnya sendiri."
"Terima kasih, Mbok."
Beruntung Mbok Nem segera mengambil jasad tersebut dengan kekuatan tenaga dalam miliknya. Entah kenapa semakin lama dilihat, keganjilan semakin terlihat.
Jasad Tito yang semula masih berbentuk manusia ketika diangkat dan dipindahkan ke atas tanah, seketika daging yang menempel di tubuh itu habis dan hanya tersisa tulang belulang saja.
Tentu saja hal itu membuat kedua mata Dita terbelalak. "Kok berubah?"
Bukan hanya Dita yang terkejut, tetapi Tito juga merasakan hal yang sama. "Bagaimana itu bisa terjadi?"
Mbok Nem yang sedikit paham akan hal-hal ghaib mulai menjelaskan pada Dita.
"Hal itu bisa terjadi karena beberapa faktor. Akan tetapi jika faktor yang mempengaruhi semakin ditekan, seharusnya tidak terjadi hal seperti ini."
"Katakan dengan jelas, Mbok tidak usah berbelit-belit kepadaku," pinta Dita dengan sendu.
"Mungkin jika mata batin Den Ayubisa dibuka mungkin saja akan membuat Den Ayu tidak kebingungan setelah ini."
"Mata batin, menurut Mbok aku harus seperti seorang indigo, yang bisa melihat semua mahluk tidak kasat mata?"
Mbok Nem mengangguk, tetapi Dita menggeleng.
"Nggak usah, Mbok. Biar Dita jalani saja garis takdir Dita yang seperti ini."
"Baiklah kalau itu yang Den Ayu mau. Mari kita pergi."
Setelah memastikan tulang belulang milik Tito terbungkus kain kafan, Mbok Nem membawanya dengan digendong sepanjang perjalanan pulang.
"Mas Tito kemana, ya?" gumam Dita sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi hasilnya sama saja, sepi.
"Hari sudah mulai sore Den Ayu, sebaiknya kita segera percepat langkah kaki kita!"
"Baik, Mbok."
Dita mengekor di belakang Mbok Nem. Mereka sengaja berjalan cepat agar sampai di tujuan. Jalanan yang mereka lalui tidak terjal, tetapi arah pandangan mereka terganggu. Sejak pagi kabut yang menutupi area perkebunan belum juga menghilang.
Apalagi sinar matahari sepertinya enggan mendekati daerah di sana. Sepanjang pagi, Mbok Nem dan Dita hanya ditemani kabut dan udara dingin khas pegunungan. Baru setelah itu kembali ke rumah.
Anehnya, suasana hari itu sangat mendukung acara persembahan sesaji untuk menyelamatkan Tito. Sehingga mereka tidak takut dengan terik matahari yang biasanya sudah menemani.
Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di Kediaman Dita. Mbok Nem dan Dita memilih lewat pintu belakang agar tidak dicurigai oleh para pekerja yang lainnya.
"Kenapa aku bertindak seolah seperti pencuri? Padahal ini adalah rumahku sendiri?" gumam Dita dari halaman belakang.
Sorot mata Mbok Nem terlihat lain. Ia juga tidak berbicara banyak seperti biasanya. Mungkin karena ia sedang membawa raga Tiyo sehingga ia pun mengunci mulutnya rapat-rapat.
Tanpa Dita dan Mbok Nem sadari, ternyata ada salah satu pekerja yang melihat hal itu, sehingga membuat Dita menegang.
"Den Ayu ...."
Dita menoleh, dan sesaat kemudian tengkuknya dipukul dari belakang.
"Arghhhh ...."