Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 169. INI AKU BUKAN DIA


Sosok makhluk yang terus mengikuti Dita saat ini bukanlah makhluk yang selalu membunuh suami Dita, hanya saja mereka sejenis. Akan tetapi ia tidak suka jika Dita mempunyai teman hidup.


Kuku-kuku hitamnya, belum lagi bulu-bulu yang lebat dan berwarna hitam itu membuat orang-orang yang menatapnya selalu merasakan ketakutan yang luar biasa. Gigi taring yang runcing, air liur yang selalu menetes, belum lagi bau badannya yang sangat lebus menjadi ciri khas dari bangsa lelembut tersebut.


Siapa yang tidak tahu dengan sosok tersebut, bagaimana pun bangsa mereka selalu menyukai manusia. Sosok laki-laki menyukai bangsa manusia yang perempuan, begitu pula dengan sebaliknya sosok perempuan sangat menyukai lelaki dari jenis manusia.


Biasanya mereka mencari manusia yang suka lupa menjaga ibadahnya atau lupa membaca doa ketika tidur. Bangsa mereka akan lebih menyukai manusia jenis itu ditambah lagi dengan sikapnya yang tidak pernah menutup aurat.


Nyonya Sekar sudah mengetahui jika putrinya baru saja datang. Entah apa yang merasukinya hingga Nyonya Sekar sudah menunggu Dita di depan pintu kamar Dita.


"Darimana saja Dita, jam segini baru pulang?"


Ternyata Nyonya Sekar berdiri di dekat daun pintu sambil menatap penuh selidik kepada Dita.


"Dari Rumah Sakit, memangnya ada apa, Bu?"


Dita sudah menekan egonya, masih ada beberapa sopan santun yang ia jaga. Namun, semakin lama ia melihat ke arah ibunya ada rasa aneh yang membuat ia harus segera pergi dari sana.


"Apakah ibu tidak boleh berbicara kepadamu."


"Maaf, aku capek."


Sikap Dita yang biasanya hangat kini berubah menjadi dingin. Nyonya Sekar bisa merasakan hal itu. Tidak membutuhkan waktu lama ia segera mendekati Dita.


"Apa ada yang salah dengan Ibu, kenapa sikap kamu berubah?"


"Berubah atau tidak sepertinya Ibu tidak perlu tahu, yang aku heran kenapa Ibu berada di rumah, bukankah biasanya akan ikut kemanapun Bapak pergi bertugas?"


Tangan Nyonya Sekar memegang kedua bahu Dita.


"Maafkan, Ibu. Selama ini tidak ada yang salah kecuali ibumu. Maafkan semua kesalahan Ibu ya, Nak. Ibu sangat menyayangi kamu."


"Ibu sangat menyayangimu, sejak kecil aku tidak pernah membuat kamu bahagia, justru sejak kamu mulai menginjak dewasa, ibu memaksa kamu dengan segala bentuk perjodohan yang berujung dengan pernikahan berdarah."


Bibir Dita gemetar, ia tidak mampu mengucapkan kata-kata apapun hingga buliran kristal bening itu mengucur cukup deras di kedua pipinya.


"Sakit, perih ...."


Itulah perpaduan yang tepat untuk menggambarkan suasana hati Dita kali ini. Entah kenapa pelukan dari Nyonya Sekar tidak sehangat dulu. Perbedaan rasa itu membuat Dita tidak bisa menerima hal itu. Nyonya Sekar tahu jika putrinya menangis.


"Nak, kamu menangis?"


Dita meronta ingin lepas dari dekapan sang Ibu.


"Lepaskan aku, Bu. Aku ingin istirahat!" ucapnya.


Nyonya Sekar yang merasa ada penolakan dari putrinya segera melepaskan tautan tangannya.


"Kalau kamu ingin melampiaskan kekesalanmu pada Ibu, dengan senang hati Ibu akan menerimanya."


Dengan cepat Dita berlari menuju kamarnya. Ia sudah jengah dengan kondisi yang seperti ini. Setelah merasa sedikit tenang, ia segera pergi ke kamar mandi dan menyalakan air kerannya.


Mengguyur tubuhnya yang letih karena bepergian seharian.


"Tuhan aku lelah ...."


Tiba-tiba saja atap kamar Dita berisik.


"Krieeet ...."


"Arghhh ...."