
Bagaimana pun sebuah takdir berjalan, ia akan terus berjalan untuk menentukan arah tujuannya sampai akhir. Sesuatu yang dimulai harus bisa diakhiri. Begitu pula dengan kutukan yang selalu menghantui Dita, maka ia akan segera menemui titik akhirnya.
Sudah banyak lelaki yang menjadi suami Dita dan berakhir dengan kematian. Namun, hal itu belum bisa memutus mata rantai yang mengikat takdir Dita untuk menemui kebahagiaannya.
Sampai Dita akhirnya menyerah dan hampir gila, karena semua laki-laki yang dekat dengannya pasti tidak akan bernasib baik. Begitu pula dengan kedua orang tuanya Nyonya Sekar dan Tuan Dimitri sudah lelah dalam mencari berbagai pengobatan untuk menyembuhkan putrinya.
Sesuatu yang mengikat tubuh Dita, harus diurai secara perlahan beriringan dengan perjalanan usianya. Takdir buruk itu benar-benar telah merenggut senyuman yang dulu menghiasi wajah Anindita.
Seorang gadis yang sangat baik hati dan penyayang. Bahkan sering menolong kepada sesama, tetapi ia mempunyai garis takdir yang sangat buruk.
"Sampai kapan takdir yang mengiringi perjalanan Dita berakhir, Pak?"
"Entahlah, Bu. Bapak tidak tahu bagaimana Dita bisa kembali menemukan senyumannya yang telah lama hilang itu."
"Atau kita pergi ke luar pulau saja, mungkin pindah ke pedalaman Kalimantan atau Sulawesi gitu, Pak?"
"Sabar, dengan kita menyembunyikan Dita di lereng gunung, bukankah itu sama saja dengan mengirim Dita ke tempat terpencil yang sama sekali tidak bisa dijamah oleh orang luar? Bapak jamin, dia akan baik-baik saja bersama Mbok Nem."
Nyonya Sekar tampak mengusap dadanya perlahan. Andaikan boleh memilih sudah pasti, Nyonya Sekar akan meminta dirinya untuk menjadi seorang pengganti jalan takdir Dita.
Seringkali berpindah tempat hanya demi untuk memulihkan nama baiknya, nyatanya sama saja. Justru semakin dalam mereka menyembunyikan Dita, makin banyak pula orang yang menanyakannya.
Obrolan yang semula hangat kini sudah senyap. Bahkan suara jangkrik terdengar memenuhi rumah besar milik Tuan Handoko tersebut.
"Tadi aku ketemu Sinta, ibunya Juna."
"Trus?" tanya Tuan Handoko sambil menoleh ke arah istrinya.
"Dia menanyakan kabar Dita, sudah mempunyai anak berapa dan lain sebagainya."
"Trus Ibu jawab apa?"
Raut gusar tampak jelas di dalam wajah Tuan Handoko begitu pula dengan wajah Nyonya Sekar. Sakit, tentu saja terasa di dalam hati keduanya.
Bagaimana pun sebuah pernikahan tujuan akhirnya mendapatkan keturunan, jika tidak bukan hanya cibiran yang didapat melainkan hujatan tidak terhenti.
"Nggak dijawab, cuma dibalas dengan senyuman lalu berlalu begitu saja. Kalau bapak lihat tatapan tajamnya, seolah ia sudah berubah. Tidak seramah dulu, apakah Bu Sinta masih memendam amarah pada kita?"
Tuan Handoko yang sudah jengah dengan berbagai persoalan tentang Dita, lebih memilih untuk pergi ke dalam kamar dan mengistirahatkan dirinya.
Awalnya kedua orang tua Dita memilih untuk berpindah tempat agar kita bisa mengurangi rasa trauma yang menyerang di dalam hatinya. Namun, rupanya tetap sama saja.
Masih sama seperti malam itu, Dita masih terjebak di dalam mimpinya dimana ketika ia bertemu dengan Juna. Sosok laki-laki yang dulu pernah mengisi harinya.
Namun, ketakutan Dita justru berhasil menyelamatkan Juna agar tidak meninggal sejak mempunyai niat untuk mempersunting dirinya. Juna rela menabung hanya demi untuk membelikan sebuah hadiah untuk Dita saat melamarnya.
Hanya saja belum sempat niat baik itu terlaksana, Juna lebih dulu terkena imbas karena telah berani mendekati Dita. Pengobatan yang ditempuhnya sangat jarang sekali didapat di dalam negeri, sehingga pengobatan dilakukan di Luar Negeri.
Nyonya Sinta yang merupakan ibunda dari Juna sangat tidak suka dengan Dita. Maka dari itu sampai saat ini ia masih menyimpan dendam kepada keluarga Anindita.
Tangan kecil itu mencengkram erat lengan Dita hingga membuatnya hampir terjungkal keluar dari dalam mobil. Tatapan lembut di awal kini telah berubah menjadi lebih garang dan seolah bukan Juna.
"I-ini dimana Juna? Bukankah kau mengajakku untuk pergi ke Rumah Sakit?" tanya Dita keheranan.
"Siapa yang akan mengajakmu ke Rumah Sakit? Ha-ah!"
"Sekarang lihatlah di hadapanmu itu, sebuah kubangan darah yang akan membuatmu tahu bagaimana sakitnya para suamimu yang telah meninggal dulu!"
Srak
Tubuh Dita tiba-tiba terikat dan ia pun diseret paksa oleh lelaki yang mirip Juna.
"Kau bukan Juna, Juna tidak mungkin bersikap seperti itu!"
Belum sempat Dita melanjutkan ucapannya ia sudah lebih dulu di lempar dalam kubangan darah yang membuatnya hampir tenggelam. Di tambah lagi Dita tidak bisa berenang dan hal itu sukses membuat nafas Dita tercekat.
"Arghh ..."
"Ishhh ..."
Kedua tangan Dita justru bergerak sendiri untuk mencekik lehernya, dan wushhhh .... angin berhembus dengan kencangnya hingga membuat gelombang di air tersebut dan mengangkat tubuh Dita naik ke permukaan.
"Den Ayu bertahanlah ...."