
Tangis Dita tidak bisa dibendung lagi saat ini. Tangisannya pecah ketika melihat tubuh Juna yang semakin memprihatinkan.
Semilir angin yang berhembus melewati jendela kamar Juna seolah mengisyaratkan agar Dita segera memutus rencana pertunangannya dengan Juna.
Dipegangnya tangan Juna, ditatapnya pemilik senyuman manis itu. Meskipun Dita tidak mencintai Juna, tetapi ingatan pertemuan dengan Juna beberapa waktu yang lalu tidak bisa dihapus begitu saja. Apalagi tatapan teduh dari Juna pernah membuat Dita memimpikan pemuda tersebut.
"Juna, bangun ...."
Sayup-sayup terdengar suara wanita yang ia rindukan. Dari alam bawah sadarnya, Juna mulai merasa sakit di seluruh tubuhnya. Ia ingin bangun tetapi tubuhnya tertahan oleh sesuatu yang tidak kasat mata.
"Kenapa tubuhku sakit sekali," rintih Juna.
Dita mengambil kitab suci Al-Qur'an lalu mulai mengaji. Suara Dita memang mampu membuat siapa pun yang mendengarnya menjadi terenyuh dan tenang. Suasana rumah yang semula tidak nyaman dan penuh aura kegelapan kini mulai terlihat lebih terang.
Tubuh Juna lebih terasa ringan. Kini ia mulai bisa membuka kedua matanya, tetapi ia terlalu lemah untuk bergerak. Pemandangan yang pertama kali terlihat adalah wajah gadis yang ia rindukan, Anindita.
"Di-dita ...." ucap Juna lirih, namun Dita mampu mendengarnya.
Dita mengakhiri membaca Al-Qur'an lalu menutup kegiatan mengajinya. Ia menaruh kitab suci Al Qur'an tersebut ke atas rak buku, lalu ia meraih tangan Juna.
"Kamu sudah siuman?"
Juna mengedipkan matanya. Ingin rasanya ia mengatakan sesuatu tapi nafasnya masih tercekat. Dita yang tau jika Juna haus segera mengambil air minum untuknya, sebelum ia memberikan air tersebut tidak lupa Dita meniupkan doa di dalam air tersebut.
Mungkin Juna tidak bisa duduk atau bangun, sehingga ia membantu Juna untuk menyandarkan tubuhnya pada bahu Dita. Hal itu cukup membantu Juna agar mudah minum.
"Gimana udah enakan?"
Juna tersenyum dan mengangguk.
"Alhamdulillah akhirnya kau siuman, semoga setelah ini kamu akan baik-baik saja Juna."
Juna kebingungan dengan kondisi tubuhnya. Seingatnya ia hanya tidur sebentar lalu setelah itu ternyata ia tidak kunjung bangun. Namun, di dalam setiap mimpinya, Juna selalu bersama dengan Dita.
"Entahlah, tetapi aku meminta maaf jika semua yang terjadi padamu karena kau berdekatan denganku. Dengan ini aku juga ingin mengatakan bahwa sebaiknya pertunangan kita batalkan."
Deg.
Tentu saja Juna tidak menerima keputusan sepihak dari Dita. Ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun saat ini, tetapi Dita dengan kejamnya memutuskan rencana pertunangan mereka.
"A-apa salahku Dita? Kenapa kau tidak memberikan kesempatan padaku."
"Juna, aku benar-benar meminta maaf padamu tentang hal ini. Aku bukannya tidak suka padamu tetapi aku hanya takut jika kau berdekatan denganku maka hal yang buruk akan lebih mengancam jiwamu lagi."
Mata sendu Juna mengeluarkan air mata. Ia menangis dalam diam.
"Beginikah rasanya mencintai namun harus dipatahkan sebelum aku merasakan bahagia," ucap Juna lirih.
Dada Juna terasa bergemuruh, panas, sakit, sesak menjadi satu di dalam jiwa. Juna tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya saat itu. Lebih baik ia m*ti jika tidak bersama Dita.
Dita yang tahu akan hal tersebut jauh lebih sakit, tetapi ia tidak bisa melakukan hal lebih dari itu. Ia lebih suka jika Juna bisa hidup lebih bahagia jika tidak bersamanya. Dita tidak mau jika Juna m*ti sama seperti suaminya Wisnu yang meninggal tanpa diketahui penyebabnya dengan jelas.
"Maafkan aku Juna, aku rasa ini jauh lebih dari apa pun yang belum kamu ketahui."
"Please, Dita jangan pergi dariku, aku sungguh mencintaimu ...." ucapnya lirih.
"Maaf ...." Nafas Dita juga sama tercekatnya.
Ia bisa merasakan rasa sakit itu jauh melebihi rasa sakit yang diterima oleh Juna. Namun, Dita tidak ingin mengatakan hal lain yang akan menyakiti Juna lebih dalam.
"Lebih baik kamu sembuh lebih dahulu, baru kita membicarakan hal lain."
"Baiklah kalau itu membuatmu jauh lebih baik, terima kasih Dita, sudah membangunkan aku di tidur panjangku."
Sayup-sayup terdengar suara adzan, Nyonya Sinta yang sejak lama menunggu Dita di luar kamar Juna bisa merasakan kesedihan putranya, tetapi ia tidak bisa membela Juna. Meski sebenarnya Nyonya Sinta juga menyukai kepribadian Dita, namun sepertinya takdir tidak mengizinkan mereka bersama.