
Selama dalam persembunyian, Danu seolah mencari be!nteng pertahanan diri. Entah untuk apa tetapi ia juga kurang paham, yang terpenting ia semangat memperdalam ilmu tenaga dalamnya juga imannya.
Meskipun begitu Kunti yang mengikutinya masih suka datang kadang juga bersama Dita. Seolah kedua anak Adam itu mempunyai daya tarik tersendiri yang membuatnya betah bersama.
Pagi itu Fano terlihat berbeda, wajahnya sangat kusut, bagaikan benang yang tidak terurai dengan baik. Asistennya sampai menertawakan wajahnya.
"Nggak salah liat nih, biasanya Bos terlihat sangat tampan rupawan dan auranya terlihat sangat menyilaukan mata."
"Nyindir nih, ceritanya?"
Fano hanya merasa sekujur tubuhnya lelah. Ia masih mengingat jelas bagaimana semalam ia berjuang ketika makhluk itu mengejarnya dengan membabi buta. Bahkan dengan sisa tenaga yang ia punya hanya bisa berjuang sendirian.
Banyak orang di sekelilingnya, tetapi tidak ada yang menolong. Sampai ia bertemu dengan ketiga orang tampan yang sesaat kemudian mereka berubah sangat menyeramkan. Fano sampai bertanya pada dirinya sendiri.
"Apakah ini efek karena dia menonton film horor semalam atau memang dia sedang dikejar oleh sesuatu yang memang tidak dapat dinalar?"
"Entahlah yang jelas, aku harus mendiskusikan hal ini kepada Jonny."
Fano bisa merahasiakan semua yang terjadi dalam kehidupannya pada ibunya. Akan tetapi Fano tidak bisa merahasiakan hal ini terhadap asistennya, karena dia tahu bahwa asistennya sangat bisa diandalkan dalam segala hal.
Bahkan dalam hal yang mistik sekalipun. Seperti pagi ini, seperti kebiasaannya ia sudah berdiri di hadapan Fano.
"Bos jangan banyak melamun, sebentar lagi meeting akan segera dimulai!" ucap Jonny asisten Fano.
"Hm, tapi setelah meeting selesai kamu harus masuk ke ruanganku ada sesuatu yang harus aku bahas denganmu!"
"Baik bos, tenang saja aku nggak akan kabur kok, wkwkwk," celotehnya sambil membungkuk hormat.
Meskipun terkesan agak slengekan tetapi Fano sangat mengandalkan Jonny. Apalagi Jonny tipikal asisten yang sangat setia.
Rapat pagi itu akhirnya selesai tepat waktu. Satu jam kemudian Fano sudah duduk di dalam ruangannya. Ia sedang menunggu Jonny yang katanya mau mengambilkan teh melati untuknya.
"Lama menunggu ya, Bos. Maaf, soalnya menyeduhnya pakai cinta, jadi lama."
"Jon, semalam aku mimpi dikejar makhluk berbulu lebat, kuku-kuku panjangnya seolah ingin mengoyak tubuhku."
"Kok bisa, Bos?"
"Nggak tau, makanya aku tanya sama kamu? Kok bisa aku bermimpi begitu."
Jonny teringat kata mendiang kakeknya. Kalau mimpi dikejar genderuwo itu artinya memang bukan pertanda baik.
"Terus gimana lagi, masih ada cerita lainnya, Bos?"
Fano mengangguk, lalu mulai menceritakan semuanya secara detail. Bahkan pertemuannya dengan Dita, sosok wanita yang selalu mengeluarkan aroma bunga melati, bahkan terkadang beraroma kenanga.
"Kok serem, Bos?"
"Jangan-jangan ...."
"Jangan-jangan apa? Kamu jangan buat masalahnya jadi membingungkan, Jon!"
"Itu loh, Bos. Wanita yang selalu diikuti makhluk halus itu Lo, namanya apa ya? Lupa ...."
Jonny menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tetapi ia juga bingung mau menjelaskan seperti apa. Ia takut perkataannya ada yang tidak bisa diterima oleh atasannya.
"Bilang nggak? Kalau enggak bilang aku potong gaji kamu!"
"Terus?"
"Biasanya lelaki yang dekat dengannya selalu dibayangi makhluk menyeramkan, seperti genderuwo, dan lain-lain."
"Hm, terus ...."
"Biasanya yang lebih parah lagi, kalau lelaki itu sampai menikah dengan wanita itu akan bernasib sial atau buruk. Bahkan bisa sampai mati."
BRAK!
Fano menggebrak mejanya hingga membuat Jonny terjingkat. Perkataan dari asistennya membuat Fano kembali teringat akan Dita. Namun ia ragu dengan ucapan Jonny barusan sehingga ia harus menyelidikinya secara langsung.
"Bos marah sama saya, atau gimana?"
"Darimana kamu bisa berkata demikian? Apa kamu pernah bertemu dengan wanita seperti itu?"
"Di desa tempat tinggal saya ada Pak Bos, bahkan beliau sudah menikah sampai tiga kali dan semua suaminya meninggal dengan tidak wajar."
"Kok bisa?"
Fano yang hendak pergi segera duduk kembali, rasanya cerita dari Jonny sedikit menarik untuknya. Sementara itu Jonny membetulkan dasinya yang agak miring.
"Jadi di sudut kota J, ada seorang wanita yang dijuluki bahu laweyan. Beliau sudah berusia setengah abad saat ini. Dulu semasa mudanya beliau sudah menikah sampai tiga kali. Akan tetapi semua suaminya meninggal dengan tidak wajar. Tentu saja hal itu membuat rasa trauma yang mendalam di hatinya."
"Hm ...."
"Padahal beliau sangat cantik dan baik budinya. Hanya saja kisah cintanya tidak seindah wajah dan perilakunya. Setelah pernikahan ketiga, beliau berjanji tidak akan menikah lagi. Beliau takut suaminya akan meninggal terus."
"Memangnya suaminya harus mati, ya?"
"Biasanya suaminya akan mati sampai berjumlah tujuh. Setelah itu kutukannya akan hilang, katanya begitu."
"Maksudnya?"
"Jika ia menikah untuk yang kedelapan kali, maka ia tidak akan mati."
"Gendeng!"
"Sabar, Bos. Itu hanya terjadi dari satu dari seribu wanita dan mungkin jaman sekarang sudah tidak ada lagi."
"Kalau masih ada bagaimana?"
"Ya jangan sampai Bos ketemu sama dia."
"Hm, entahlah ... kepalaku tambah pusing."
Jonny yang hanya mengatakan apa yang ia tahu, tidak mengetahui jika Bos nya telah terjerat cinta si Wanita Bahu Laweyan. Akankah Fano bisa menjadi jodoh Dita? ataukah ia akan bernasib sama?
.
.
BERSAMBUNG