Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 65. BIARKAN AKU PERGI


Tidak lama kemudian, daun jendela kamarnya menutup sempurna, tetapi kini giliran lampu kamarnya yang berkedip. Dita yang merasa takut segera menutup kedua mata dan tubuhnya dengan selimut tebal.


Namun, suasana semakin mencekam. Dita merasa tubuhnya seolah ada yang menimpa. Nafasnya tercekat, awal mulanya kakinya terasa ada yang memegang, lalu perlahan naik dan sampai di mana wajah Dita terasa panas. Dari dalam selimut ia bisa merasakan hembusan nafas makhluk yang berada di atas tubuhnya.


"Rani, bangun ... tolongin!" ucap Dita di dalam hati.


Rani yang tertidur di sofa kamar Dita, berteriak histeris ketika melihat penampakan sosok Dita yang sedang berada di bawah kungkungan makhluk hitam dengan tubuh penuh bulu itu.


Matanya beralih kepada Rani yang menatapnya.


"Ditaaaa ... awas di atasmu ...."


Rani ternyata tidak takut dan segera menghampiri Dita lalu menimpuk makhluk tersebut dengan barang seadanya di sana.


Mereka terlihat sangat menjijikkan di dalam pikiran Rani. Akan tetapi Rani tidak takut akan hal itu. Ia segera memanjatkan doa-doa agar Dita selamat.


"Ya Tuhan, selamatkan Dita, semoga saja ia tidak kenapa-napa saat ini. Aamiin."


Dita yang tercekat nafasnya secara tidak sadar mengigau menyebut nama Wisnu dan Yudistira.


"Tolong, jangan sentuh aku, argh!"


"Kamu tidak akan pernah bisa lari dariku, Sayangku, ha ha ha ...."


Suara menggelegar tersebut membuat Dita gemetar. Kedua lututnya seakan lemas tidak berdaya. Nafasnya tercekat karena Dita tidak bisa mengatakan apapun. Sementara itu dari kejauhan makhluk tersebut menyeringai jahat.


"Sampai kapan pun kamu akan menjadi milikku!"


"Tidak, aku tidak mau!"


.


Dita terbangun dengan tubuh sangat letih, apalagi mimpinya semalam membuatanya seolah terjebak dalam dimensi lain. Entah kenapa Dita merasa seolah semakin hari ini hidupnya semakin suram. Ia hanya bisa pasrah dengan keadaannya karena tidak ada hal lain.


Sementara itu Rani berusaha untuk membantu Dita. Pagi itu juga ia langsung mengutarakan isi hatinya kepada Dita. Rani mendatangi kamar Dita tiba-tiba, hingga membuat si pemilik rumah terkejut akan kehadirannya.


"Dit, Dita ...."


Dita yang sedang melamun tidak mendengar panggilan Rani, sehingga Rani dengan terpaksa membuka pintu kamar Dita. Hal itu membuatnya terjingkat karena terkejut.


"Syut, diem!"


"Kalau penting, mending ke sini!" pinta Dita.


Rani masih melihat situasi sekitar, memastikan jika kedatangannya tidak terdeteksi oleh ibu Dita. Akan tetapi saat ia tidak melihat hal yang mencurigakan, Rani memilih untuk segera mendekati Dita.


"Aku ada perlu sama, Lu!" ucapnya.


"Ya udah, tutup pintunya segera!"


Rani menutup pintu kamar dengan perlahan. Lalu ia sengaja mendekati Dita dengan gerakan cepat.


"Ikut gue! Gue pengen ngajak Lu pergi berobat."


"Memangnya mau pergi ke mana?"


Rani memegang tangan Dita, di tatapnya dengan perlahan kedua matanya.


"Kalau kamu pengen sembuh ikut sama aku. Aku yakin kamu pasti bisa sembuh."


"Gue yakin, Lu pasti bisa mengubah takdir kamu saat ini, percaya sama gue!"


Antara percaya dan tidak, Dita mengangguk. Sejak dulu hanya Rani yang selalu ada di sisinya, jadi setidaknya hanya Rani yang memahami isi hati Dita.


"Gimana?" tanya Rani memastikan.


"Aku minta ijin dulu sama Ibu, nggak mungkin juga membohongi beliau."


Rani menghela nafas panjangnya. "Seandainya kamu bisa tau, aku pastikan kamu akan baik-baik saja."


.


.


Sambil nunggu up, bisa mampir ke sini ya.