Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 210. HANYA BUNGA TIDUR


Hosh ... hosh ... hosh ....


Terdengar suara deru nafas yang memburu dari Nyonya Sekar. Mimpi buruk benar-benar membuat ia semakin terpuruk ke dalam lubang kehancuran yang terdalam.


Hal yang tidak bisa ia hindari sampai saat ini adalah mimpi buruk. Namun, mimpi itu terasa nyata dan seolah sedang terjadi di depan matanya sendiri. Hingga membuat Nyonya Sekar tidak bisa bersembunyi atau lari dari kenyataan.


"Kenapa kamu terdiam? Bukankah ada sebuah hal yang tidak bisa diprediksi saat ini ketika semuanya hampir berakhir. Tinggal dua kali lagi pernikahan maka putrimu akan menemukan kebahagiaan yang sejati."


Nyonya Sekar tidak berkutik sama sekali. Tubuhnya membeku, di antara ilusi dan kenyataan kini dirinya berdiri. Mencoba mencari pegangan yang ternyata sangat sulit ditemukan karena semua terlihat sangat nyata bagaikan bukan sebuah ilusi.


"Ikuti kata hatimu, Sekar. Maka kamu akan menemukan kebahagiaan yang sejati untuk putrimu."


"Jangan harap bisa lepas dari bayang-bayangku karena aku tidak bisa lepas begitu saja meski semua takdir sudah di jalankan oleh putrimu sendiri."


Bisikan halus itu begitu mengganggu pikiran Nyonya Sekar. Keringat dingin mulai bercucuran kali ini. Membasahi apapun yang berada di sekelilingnya. Akan tetapi suhu tubuhnya justru memanas, seolah sedang merasakan sesuatu hal yang bergejolak ingin segera keluar dari dalam tubuh Nyonya Sekar.


"Arghhhh, panas!"


Ternyata tidak semua orang merasa aneh dengan perilaku Nyonya Sekar, sehingga tidak ada yang curiga pada semua tindak tanduk yang dilakukan oleh hampir semua pekerja di rumahnya.


Sorot mata Nyonya Seka, kini memicing tajam membuat siapapun yang melihat akan merasa ketakutan yang teramat sangat. Sama halnya dengan sosok laki-laki yang berada di hadapan Nyonya Sekar ini.


"Bu, kamu kenapa?"


"Arghhhh!"


Merasa jika dirinya tidak baik-baik saja, Nyonya Sekar segera berlari keluar kamar dan menuju halaman belakang rumah. Kolam renang yang berada di sana sungguh membuatnya ingin berendam di sana.


Suhu tubuh yang seolah terbakar sangat menyiksa membuatnya hilang akal. "Aku harus sembuh, Dita tidak bisa menanggung semua akibat tindak tandukku yang buruk itu."


Nyonya Sekar sama sekali tidak takut dengan semua hal yang menerpanya saat ini. Ditambah lagi semuanya sudah berjalan setengah langkah sehingga akan mudah jika ia mengakhirinya.


"Baiklah jika ini maumu maka aku akan melaksanakannya."


Sosok itu mengulas senyumnya, lalu beranjak pergi ketika semuanya sudah berhasil menguasai pikiran Nyonya Sekar. Tuan Handoko baru sadar jika itu bukan mimpi. Lagi pula tidak ada hal yang lebih indah daripada membuat rencananya berhasil dengan sangat baik.


"Mari kita menuntaskan hal ini dengan bekerja sama dengan baik.'


Nyonya Sekar segera mengulas senyum. Lalu ia segera menceburkan dirinya ke dalam kolam. Air kolam yang semula bersih kini telah berubah warna menjadi hitam.


"Apakah ini yang namanya penyucian diri? apakah aku akan berhasil melewatinya nanti?"


Pikiran Nyonya Sekar berkelana ke sembarang arah. Bahkan sempat membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih.


Tiba-tiba saja kesadarannya kembali. Nyonya Sekar terlihat beberapa kali mengusap kepalanya yang berdenyut dengan kencang.


Berdoa agar semuanya tidak sungguh-sungguh terjadi, karena jika semua itu terjadi akan membuatnya gila dan semakin dipandang rendah oleh semua orang.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan anakku kenapa-napa. Dita harus bahagia, aku harus bisa membuatnya merasa dicintai dan menemukan kebahagiaan di dalam hidupnya."