Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 204. KEMATIAN SUAMI KELIMA


Sangat wajar jika seorang suami menginginkan sentuhan dari istrinya. Bibir merah muda itu begitu lembut dan kenyal. Entah sejak kapan keduanya saling mencumbu dan baru beberapa saat kemudian ketika tangan Fano hendak menyentuh tubuh Dita, tiba-tiba saja tangannya kaku dan terasa dipelintir ke belakang.


"Aargghhhh!"


Kedua mata Dita terbelalak, ketika baru menyadari apa yang baru saja terjadi. Seluruh tubuh Dita bergetar hebat ketika menyadari suaminya sudah terbujur kaku dengan lidah menjulur keluar dan salah satu tangannya terpelintir ke belakang.


Sontak saja kaki Dita mengajaknya mundur ke belakang hingga mentok di dinding kamarnya. Salah satu tangannya menutup mulutnya karena takut dengan teriakan yang akan keluar dari mulutnya.


"Ma-mas Fa-fano ...."


Akhirnya tangis yang ia tahan kini keluar juga. Tubuh Dita berguncang hebat ketika melihat suaminya meninggal di depan mata kepalanya sendiri. Barusan beberapa saat yang lalu ia baru merasakan indahnya bercumbu dengan suaminya.


Tidak disangka hal itu justru membuat Fano meninggal dunia.


"Bagaimana aku harus menjelaskan hal ini pada seluruh anggota keluarga nanti?" tanyanya dengan isak tangis yang tidak kunjung reda.


Hingga beberapa saat kemudian sebuah kepulan asap hitam terlihat di sudut kamar Dita. Dita yang air matanya saja belum kering merasa jika kejadian itu berhubungan dengan semua takdir yang ia jalani selama ini.


"Kenapa terjadi lagi, apa yang aku lakukan barusan!" ucap Dita dengan dipenuhi tangis yang tiada henti.


Sementara itu api yang terus dinyalakan oleh Yuli tiba-tiba padam. Penjagaannya gagal akibat dirinya yang lelah dan sempat tertidur dalam beberapa detik. Hingga akhirnya nyawa keponakannya akhirnya selesai.


Tangisanya pecah, hampir semua barang sesaji yang berada di hadapannya ia hambur-hamburkan sebagai tanda protesnya. Semua yang dilakukan olehnya sia-sia saja.


Dengan tangan gemetar, Nyonya Kirana mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut. Hingga akhirnya Yuli keluar dari dalam sana.


"Maafkan aku, Mbak!" ucap Yuli sambil bersimpuh di kaki Nyonya Kirana.


Tangan Nyonya Kirana mengusap kepala adiknya itu. "Ada apa?"


"Fa-fano meninggal!"


Bagaikan tersambar petir di siang bolong, kini giliran tubuh Nyonya Kirana yang kehilangan kekuatannya. Kakinya gemetar hingga tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.


Merasa akan jatuh, Yuli menopang tubuh kakaknya itu. "Sabar ya, Mbak."


"Kita berangkat menyusul mereka, cepat bangunkan Mas kamu!"


"I-iya, Mbak," ucap Yuli dengan terbata.


Tanpa Yuli ketahui, insting Nyonya Kirana telah berjalan sejak kepergian Fano. Hanya saja ia selalu berpikiran positif agar Dita bisa dengan mudah mendapatkan kebahagiaannya. Ia sempat merasa bahagia tatkala mendengar jika liburan selama dua minggu berhasil mereka lewati dengan baik.


Namun, ketika Yuli mengatakan jika ia harus menjaga Fano selama beberapa hari terakhir membuatnya tahu jika dirinya memang harus ikhlas jika sewaktu-waktu kehilangan putranya.


"Mama ikhlas, Sayang. Mama ikhlas, yang terpenting kamu mendapatkan kebahagiaan yang kamu inginkan. Bukankah begitu, Sayang," ucap Nyonya Kirana sambil mengusap sosok bayangan yang mirip Fano tersenyum ke arahnya saat ini."