
Sosok itu sama sekali tidak mencoba untuk pergi dan justru membuat Fano seperti tersengat aliran listrik. Sesaat kemudian serangan bertubi kini menghantam tubuh Fano kembali.
Beberapa kali ia tampak berguling ke sana kemari karena tubuhnya seolah tertusuk paku tajam yang berjumlah ratusan hingga ribuan. Merasa sakit di sekujur tubuh membuat Fano terus mengucapkan sholawat nabi.
Andai bisa memilih sudah pasti Fano akan memasang pagar ghaib di sana. Sayang semuanya sudah terlambat. Ketika Fano lengah, sosok itu menyerangnya. Beruntung Fano bisa selamat karena kedatangan Dita tepat waktu.
Melihat suaminya seperti itu membuat Dita ketakutan dan terus memanjatkan doa-doa kepada Allah. Dita yakin tidak ada Zat yang lebih tinggi daripada Allah, sang pemilik kehidupan. Maka dari itu satu-satunya jalan adalah berdoa dan berdzikir.
"Bagaimana, apakah semuanya tampak lancar?" tanya Tuan Handoko.
Dari Indonesia ia bisa merasakan jika putrinya sedang berada dalam sebuah masalah. Oleh karena itu Tuan Handoko mulai menelpon Dita.
Suara Dita masih tecekat di tenggorokan. Bagaimana pun dia masih harus banyak berjuang karena suaminya baru saja lolos dari kematian. Karena panik, Dita segera membawa tubuh Fano pergi ke Rumah Sakit.
Saat ini ia masih berada di sana. Lebih tepatnya di lorong Rumah Sakit.
"Kenapa diam? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tuan Handoko dengan nada khawatir.
"Pak, doakan Dita dan Mas Fano agar keselamatan dan kesehatan selalu menyertai kami, ya."
"Memangnya apa yang terjadi?"
"Sepertinya sosok yang sering mengganggu suami Dita ikut ke sini."
"Sabar dan terus berdzikir, Nak. Yakinlah jika pertolongan Allah itu dekat."
"Aamiin, Aamiin Pak. Sudah empat jam Mas Fano dirawat di sini, semoga saja setelah kondisinya membaik kami bisa segera pulang."
"Iya, Bapak akan selalu mendoakan kebaikan untuk kalian semua."
Selepas menelpon Dita, kini Tuan Handoko terduduk lemas di atas kursi. Beberapa saat kemudian, Nyonya Sekar mendatangi suaminya tersebut.
"Ada apa, Pak? Kelihatannya Bapak khawatir sekali?"
"Oh ya, katanya Bapak tadi pengen menelpon Dita. Bagaimana kabar putri kita?"
Tangan Tuhan Handoko memegang tangan Nyonya Sekar.
"Apa yang kita khawatirkan semoga saja tidak terjadi ya, Bu."
"Memangnya ada apa dengan mereka? Apakah akan terjadi ...."
Tangan Tuan Handoko terulur untuk menutup mulut Nyonya Sekar. Ia takut jika mulutnya berbisa. Hal yang baru saja diketahui oleh Tuan Handoko adalah tentang weton sang istri.
Dimana semua yang ia katakan bisa menjadi sebuah kenyataan. Entah itu hal baik, ataupun hal buruk. Maka dari itu Tuan Handoko mencegah semuanya.
Tangan Nyonya Sekar menampik tangan suaminya. "Kamu kenapa to, Pak? Masa iya membungkam mulutku ketika aku belum selesai bicara, memangnya apa salahku!"
"Bu, maafkan atas kebenaran yang akan aku ucapkan setelah ini. Karena bagaimana pun ini menyangkut kehidupan kita semua."
Mendengar nada bicara dari suaminya, seketika mulut Nyonya Sekar terkunci. Ada sebuah rasa ketakutan yang menggelora di sana.
"Apa ini menyangkut kehidupan putri kita? Tentang semua takdir yang sedang dijalani oleh Dita?"
Tanpa mengucapkan kata apapun, Tuan Handoko mengangguk. Ia sendiri bingung harus memulai dari mana untuk mengatakan semua ini. Akan tetapi ia tidak mau kecolongan lagi. Maka dari itu Tuan Handoko lebih memilih untuk mengatakan secepatnya.