
Suara burung emprit gantil yang berada di atas rumah sang kakek membuat Danu merinding.
"Jangan hawatir dengan keadaan rumah ini, semuanya sudah aku bentengi agar mereka tidak bisa menyerang kita," ucap Kakek.
Rupanya Kakek Surya masih menjaga Danu agar ia tetap konsentrasi dalam pelatihannya kali ini.
"Tidak ada yang boleh mengalami kegagalan. semuanya harus berhati-hati."
Rumah Kakek Danu memang berada di lereng gunung Arjuna. Sebuah lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk tetapi merupakan sebuah lokasi yang wajib dikunjungi.
Sehingga jarang sekali ia melihat lalu lalang manusia. Hanya saja penerangan juga berasal dari lampu ublik dari minyak tanah.
Suasana yang mencekam itu bertambah, ketika ada suara langkah kaki yang mengenai dedaunan yang berada di atas tanah menimbulkan suara berisik.
"Kenapa burung itu tidak pergi juga, rasanya aneh sekali. Jarang ada burung datang di jam segini."
Tiba-tiba saja terdengar suara Kakek Surya yang berkata kepada Danu.
"Jangan dipikirkan, Cu. Sebaiknya kamu konsentrasi kembali. Kalau tetap tidak bisa coba ambil air wudhu baru meneruskan kembali dan meluruskan niatnya."
"Ta-tapi, kata orang bunyi burung tadi pertanda sesuatu yang tidak baik?"
"Kata siapa? Sudah fokus saja, biar kakek yang melihat keluar."
Danu mengangguk setuju lalu kembali mengkonsentrasikan pikirannya. Sementara itu Kakek Surya segera pergi ke luar rumah untuk memeriksa keadaan sekitar. Matanya menyisir ke arah kanan dan kiri, membayangkan jika memang ada sesuatu yang membahayakan.
Penerangan di rumah Kakek Surya memang tidak begitu terang sehingga memerlukan sebuah sorot mata yang lebih tajam untuk mengamati sela-sela pepohonan.
"Kenapa perasaanku tidak nyaman? Apakah ada sesuatu hal yang ingin menyerang kami, tetapi siapa?"
Setelah semua terasa aman, beliau segera melesat pergi mengejar sosok yang berusaha mengawasi rumahnya tadi. Dengan langkah seribu beliau mampu menyusul kemana langkah orang itu, bahkan ia sampai mendahuluinya.
"Berhenti atau aku akan membinasakanmu!" gertak Kakek Surya.
Namun, sosok itu bukannya berhenti ia justru membuat langkah palsu agar Kakek Surya tertipu. Sayang, Kakek Surya bukanlah orang sembarangan sehingga tidak akan mudah ditipu oleh iblis dan bangsa lelembut.
Sosok hitam penuh bulu lebat dan berbau lebus itu menyeringai ketika Kakek Surya menggertaknya. Bukan karena tidak suka atau meremehkan kekuatan Kakek Surya, ia justru ingin mengujinya saat ini.
"Kau manusia janganlah merasa jika ilmumu lebih tinggi dariku dan berniat untuk membiasakan aku. Perjanjianku tidak semudah itu untuk kau patahkan!"
Meskipun Kakek Surya belum mencapai level tinggi, tetapi ketika ia dihadapkan dengan sosok makhluk seperti ini, ia tidak akan takut sebelumnya.
"Kalau aku tetap mau ikut campur terhadap urusanmu dengan cucuku, lalu kamu mau apa! Ha-ah!"
Makhluk itu tampak sangat marah karena pekerjaannya terganggu dan dikejar deadline dari dukun yang memperkerjakan dirinya. Maka dari itu ia bersiap pergi ketika Kakek Surya lengah.
"Hei, jangan coba-coba lari dariku!"
Makhluk itu terkena serangan dari Kakek Surya sehingga langkahnya terhenti tepat sesaat sebelum sekelebat api melesat di atas sana.
"Kau sudah bersinggungan denganku, maka jangan harap kau bisa pergi!"
Makhluk itu tidak merasa terancam, maka ia pun melemparkan sebuah batu ke arah Kakek Surya, dan sesaat kemudian terjadi sebuah ledakan hingga membuat tubuh Kakek Surya terpental beberapa meter.
"Dasar kakek tua, meskipun kamu hebat tidak akan bisa membunuhku, kelak."