
Setelah mendapatkan restu dari ibunya, Rani kembali bersama Jaka ke gunung itu. Aneh, saat mereka kembali rupanya jarak yang ditempuh lumayan lebih cepat dari biasanya.
"Kenapa aku merasa ada yang janggal, ya? Akh sudahlah tidak usah banyak berpikir lama-lama bisa amsyong kalau terus memikirkan hal ini," gumam Rani sambil sesekali mengintip lelaki tampan di sampingnya itu.
Tiba-tiba dari atas tebing terlihat sebuah cahaya hijau muda yang melesat ke arah Rani dan Jaka. Beruntung Jaka bisa menghindarinya. Namun, sorot mata yang tajam dan berwarna merah itu bisa melumpuhkan lawan dengan hanya sekali rapelan dari leluhur Jaka.
"Sial! Siapa yang berani menghalangi langkahku!" gumam Jaka.
Jaka memang tidak mengarahkan serangan kepada sosok putih yang baru saja menyerangnya barusan. Ia hanya menggeser kedua kakinya dengan tubuh sedikit membungkuk, bersiap untuk melakukan sebuah serangan.
Lalu sesaat kemudian ia melompat tinggi. Sesampainya di atas sebuah dahan pohon Pinus. Jaka berusaha untuk menyerang makhluk putih di hadapannya kali ini.
Rani hanya melongo melihat kejadian tidak biasa itu. Tanpa rasa takut, ia bergegas menyusul mereka untuk bersiap membantu Jaka dalam sesekali waktu. Rani masih belum menyadari jika makhluk di sampingnya itu jauh lebih tangkas darinya. Senyuman Rani merekah apalagi melihat usaha yang dilakukan oleh Jaka berhasil melumpuhkan makhluk itu.
Jaka menoleh ke arah Rani.
"Kamu tetap di situ, jangan kemana-mana, biarkan aku melawan makhluk itu untuk sementara waktu, kita tidak bisa membiarkan dirinya terus semena-mena kepada kita!" ucap Jaka dengan rasa penuh percaya diri.
Namun, apapun yang dikatakan oleh Jaka benar-benar membuat Rani jatuh cinta. Jaka menyentuh dagu Rani lalu melum*tnya sebentar hingga membuat Rani mabuk terbuai.
Rani yang notabene belum pernah pacaran membuat Jaka leluasa dalam menyentuh Rani. Lalu Jaka tersenyum ke arah Rani sambil membisikkan kata, "Bagaimana jawaban atas pertanyaan dariku?"
"I-iya," jawab Rani singkat sekaligus malu karena bisa-bisanya ia lupa.
Jaka tersenyum lalu melesat kembali ke atas dahan pohon pinus di sini. Sesaat kemudian Jaka kembali menatap sosok putih itu.
"Kenapa kamu berani menyerangku? Bukankah kita tidak saling bersinggungan sebelumnya?"
Sosok putih itu tidak mengeluarkan suara. Ia justru seolah menantang Jaka agar memperlihatkan wujud aslinya. Diluar dugaan sosok putih itu menyerang ke arah Jaka berada.
Wush!
Brak!
Sebuah getaran hebat berhasil mengguncang pohon itu tetapi tidak berhasil membuat Jaka limbung ataupun terjatuh. Tidak berapa lama kemudian, para anak buah Jaka berdatangan dan mengeroyok sosok berbaju putih itu.
Namun, rupanya sosok itu terlampau kuat hingga berhasil lolos dari serangan para anak buah Jaka. Kini ia bahkan menyerang Jaka kembali.
"Kau benar-benar membuatku marah!"
Jaka berkelit dan berusaha menghindar dari setiap serangan yang diberikan lawannya. Dia melompat dan bersembunyi di balik pohon dan sesekali memberikan serangan menggunakan ilmu tenaga dalamnya.
"Aku tidak bisa terus menerus menghindari serangan sosok itu, aku harus melawan dan mengajaknya bertarung di ruang terbuka."
Jaka melompat tinggi dan sesekali menoleh untuk memastikan jika sosok putih itu mengejarnya. Setelah menemukan sebuah tanah yang lapang keduanya bertarung dengan sengit. Sesekali Jaka melompat tinggi dan menyerang dari atas.
Sosok itu semakin membabi buta dalam menyerang Jaka, akan tetapi sepertinya ilmu tenaga dalam yang dimiliki Jaka lebih tinggi sehingga membuat ia dengan mudah menghabisi sosok putih tersebut.
Setelah berhasil, sebuah batu delima berwarna kehijauan muncul menggantikan sosok putih itu. Kini batu itu berada di tangannya.
Dengan secepat kilat kini Jaka sudah berhasil kembali di sisi Rani. Lalu setelahnya mereka kembali ke rumah Jaka.
Ternyata rumah Jaka sudah dihias sedemikian rupa seperti hendak terjadi sebuah pesta pernikahan. Bau busuk yang menyeruak sama sekali tidak membuat Rani mual. Justru ia semakin menempel kepada Jaka dan mengabaikan bau lebus dari dalam tubuh Jaka.
"Kamu sudah bersiap untuk menjadi pengantinku, Sayang?" tanya Jaka dengan lembut.
Tentu saja Rani mengangguk setuju, "Ya, aku mau!"
"Ya sudah kalau begitu ikutlah denganku kali ini, agar kamu bisa mencapai puncak alam keabadian di dalam sana. Kamu tidak akan mati sebelum balas dendammu tercapai!"
Bagaikan terkena ilmu sihir, membuat Rani hanya menuruti semua perkataan dari Jaka. Pandangan matanya seolah berubah menjadi sosok yang menyeramkan. Mau bagaimana lagi sudah kepalang tanggung saat melangkah.
Setelah selesai melakukan ritual pernikahan beda alam. Rani harus menyantap hidangan spesial untuk pengantin. Rani tidak tahu jika makanan yang ia makan adalah bangkai binatang.
Setelahnya ia memakan sebuah mustika yang dijadikan mahar oleh suaminya, Jaka. Tidak lupa sebuah minuman yang berbau wangi dihabiskan dalam satu kali tenggak oleh Rani.
Seketika tubuh Rani bergetar hebat. Antara sadar dan tidak ternyata hawa panas menyerang tubuh Rani. Da-rah-nya seketika mendidih, matanya menyalang merah.
Detak jantungnya bergetar beberapa kali lebih cepat dari biasanya. Kuku-kuku di tangannya menjadi panjang dan meruncing. Belum lagi kulitnya yang berwarna sawo matang kini mulai ditumbuhi rambut hitam lebat di sekujur tubuhnya.
Telinganya menjadi panjang dan runcing. Gigi taringnya memanjang dan terus meneteskan air liur. Kini Rani telah menjadi satu bangsa genderuwo seperti suaminya.
Merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya, Rani berlari meninggalkan area pesta pernikahannya. Ia bahkan lupa jika ia adalah mempelai wanita. Jaka hanya memandangnya dari kejauhan, tetapi ajudannya mendekati.
"Kenapa Tuanku tidak mengejarnya?"
"Biarkan dia menikmati masa-masa indahnya. Suatu hari dia pasti akan kembali lagi. Ha ha ha ...."
Suara menggelegar berasal dari Jaka yang sudah berada dalam wujud aslinya, genderuwo tidak membuat takut kaumnya. Justru mereka bersorak karena raja mereka sudah mempunyai seorang ratu.
Sementara itu Rani histeris ketika melihat pantulan wajahnya di atas air danau. Ia bahkan sudah lupa dengan tujuan awal datang ke tempat itu untuk mencari uang demi kesembuhan ibunya.
Kecewa dengan apa yang didapatnya membuat Rani segera pergi berlari meninggalkan gunung itu dan kembali ke rumahnya. Sayang, saat ia kembali ibunya sudah menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya.
Rani semakin berteriak histeris mengetahui kenyataan itu. Teriakan Rani membuat para tetangga datang berbondong-bondong ke rumah itu.
"Siapa yang barusan berteriak?"
"Sepertinya berasal dari rumah Rani."
"Cepat kita kesana!"
Mendengar suara para warga yang datang, Rani bergegas pergi. Ia takut jika sosoknya diketahui orang banyak. Namun, rasa sesal yang datang padanya membuat Rani semakin mengamuk.
"Semua ini salahmu, Dita. Jika saja aku bisa menghubungimu sudah pasti nasibku tidak akan seperti ini!"
"Aarghhhh!" teriaknya kesal.