Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 108. TERPAKSA IKUT


Menyadari jika keduanya tidak sengaja bertemu untuk kesekian kalinya membuat terjadi kecanggungan antara Dita dengan Fano. Sementara itu kedua orang tua Dita dan Fano saling memandang satu sama lain sambil memikirkan bagaimana kedua anak-anaknya bisa bertemu sebelum ini.


“Kenapa ketemu dengan dia lagi, sih?” gumam Dita.


Sementara itu, Fano sangat bahagia dengan pertemuan kali ini. Senyum yang menghiasi wajah tampannya terlihat tidak memudar dan terus mengembang.


"Maaf untuk keterlambatan saya barusan, sebagai permintaan maaf, saya membawakan bunga ini."


Entah sejak kapan Fano sudah berdiri di samping Dita. Kini bahkan mereka saling berhadapan. Ia segera menyerahkan buket bunga yang ia bawa tadi dan menyerahkannya pada Dita.


"Mohon diterima sebagai permintaan maaf dari saya," ucap Fano bersungguh-sungguh.


Tentu saja dengan perasaan yang bercampur Dita terpaksa menerima pemberian dari Fano tersebut. Daripada keburu mendapat pelototan tajam dari para orang tua, lebih baik menerimanya bukan? Begitu pemikiran Dita.


“Terima kasih, Mas.”


“Sama-sama.”


Setelah itu mereka kembali melanjutkan acara makan malamnya. Saat ini Dita sudah bisa merasakan jika arah pertemuan itu pasti adalah sebuah perjodohan. Maka dari itu, rasanya ia sudah ingin kabur dari sana.


Secara diam-diam, Nyonya Kirana mengirimkan pesan kepada Nyonya Sekar. Memberitahukan agar malam itu mereka tidak membahas ke arah perjodohan. Ia takut jika terjadi penolakan dari salah satu anak mereka.


“Jeng, sebaiknya malam ini kita tidak membahas masalah perjodohan, lebih baik anak kita biarkan saling mengenal dengan caranya sendiri. Lagi pula sepertinya mereka sudah pernah bertemu pasti akan memudahkan mereka untuk saling mengenal satu sama lain.”


Merasa jika ponselnya berbunyi, Nyonya Sekar membuka tas miliknya. Ia tersenyum ketika melihat hal itu.


“Baiklah kalau begitu, biarkan saja mereka saling mengenal, hingga tugas kita adalah memberikan doa agar mereka berjodoh."


“Ya, itu lebih baik untuk kita.”


Tuan Handoko menyenggol bahu istrinya yang semakin larut dalam obrolan, sehingga melupakan makan malam mereka.


"Bu, kasihan anak-anak."


"Eh, iya, maaf."


Kemudian mereka segera kembali bercengkerama. Sementara itu, Fano merasa sangat bahagia karena tanpa sengaja kedua orang tuanya ternyata saling mengenal. Setidaknya hal itu akan memudahkan Fano untuk mendekati Dita.


Sepanjang perjamuan makan malam, Fano terus mengembangkan senyumannya. Sementara itu, Dita merasa risih ketika Fano terus menatap dirinya.


“Nih orang kenapa ngelihatin mulu, sih?” gumam Dita terus memasukkan makanan ke mulutnya.


Sesekali Dita akan menjadi salah tingkah, apalagi pandangan Fano tidak pernah berkedip.


Hal itu membuat hati Nyonya Kirana bahagia, setidaknya perjodohan kali ini akan lebih sukses karena putranya Fano sudah memiliki ketertarikan terhadap Dita.


"Semoga saja mereka berjodoh," ucapnya di dalam hati.


Di sisi lain, Nyonya Sekar juga merasakan hal yang sama, ia juga merasa bahagia jika lelaki yang dijodohkan dengan putrinya sudah mempunyai rasa yang sama saat ini. Untuk menyembunyikan rencana perjodohan tersebut, mereka hanya membahas masalah bisnis sehingga antara Fano dan Dita tidak ada percakapan sama sekali.


Takut jika Dita merasa bosan karena sedari tadi hanya membicarakan bisnis, Fano mulai mengajak Dita untuk mengobrol.


"Saat ini kesibukan kamu, apa?"


"Hm, kamu bicara sama aku?"


"Iya."


"Kesibukanku ya selonjoran di kamar," ucap Dita berbohong.


"Bohong, kamu kan ada sebuah toko yang selalu kamu pantau. Bukankah itu juga sebuah pekerjaan?"


"Hm, itu hanya punya temanku."


Fano cekikikan ketika mendapati Dita yang terus berbohong.


"Baiklah, lakukanlah sesuai maumu."


Ternyata Dita tidak mempunyai bahan pembicaraan. Sehingga Fano terlihat lebih mendominasi saat itu. Apalagi Fano orangnya sangat ramah. Sehingga pembicaraan sederhana pun akan menjadi lebih seru setelahnya.


"Menyebalkan sekali, baru dua kali bertemu sudah sok kenal sok dekat."


Sepertinya Fano mengetahui jika Dita merasa tidak nyaman. Lalu setelahnya ia pun mengajak Dita berbicara empat mata.


"Ehem, maaf Bu, Pak. Bolehkah aku mengajak Dita berjalan-jalan, sepertinya dia sudah merasa bosan."


"Eh, enggak begitu, aku merasa nyaman kok."


"Iya, ajaklah Dita berjalan-jalan, sepertinya ayah kamu masih sibuk membicarakan bisnis."


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih sebelumnya."


"Ayo, Dit. Kita jalan-jalan di sekitar sini."


Fano sudah mengulurkan tangannya ke arah Dita. Namun, wajah Dita yang dibuat masam seolah mengatakan jika dirinya keberatan. Meskipun begitu, pesona Fano tidak bisa terelakkan.


Lalu apakah akan ada cinta yang muncul setelah ini? Hingga Fano bisa mematahkan kutukan yang berada di dalam tubuh Dita? Semoga saja.


.


.


BERSAMBUNG