
"Astaghfirullahaladzim, Den Ayu ...." teriak Mbok Nem saat hendak mengantarkan makanan ke dalam gubuk Dita.
Dari tempat berdirinya, Mbok Nem hanya bisa melihat salah satu tangan Dita yang mengapung di permukaan danau. Meskipun tidak bisa berenang, Mbok Nem nekad menolongnya.
Nampan yang berisi makanan ia letakkan sembarang arah, lalu sesaat kemudian ia menyibak jarik yang digunakan olehnya itu hingga mendekati lutut.
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga masih bisa menyelematkan Den Ayu," dan sejenak kemudian Mbok Nem mulai bergerak ke tengah.
Tangannya mencoba menggapai salah satu tangan Dita dan menariknya ke tepian danau. Susah dan sedikit berat karena kondisi tubuh Dita sudah basah kuyup. Alhasil Mbok Nem berhasil menyelamatkan dirinya.
Meski awalnya terasa sulit, pada akhirnya masih bisa diselamatkan oleh Mbok Nem dengan bantuan kekuatan spiritualnya. Ia mencoba mengangkat tubuh Dita agar bisa terangkat ke atas lalu ditarik ke tepian.
Jika jam ini Mbok Nem tidak melihat Dita yang hampir tenggelam tadi, mungkin saja usia Dita tidak akan selamat. Mbok Nem sampai setengah berlari dan nekad menceburkan diri ke danau. Di luar semuanya, Mbok Nem bersyukur, setidaknya ia masih bisa menyelamatkan anak cucu dari junjungannya itu.
"Alhamdulillah Den Ayu bisa selamat," ucap Mbok Nem bersyukur.
Meski tubuhnya basah kuyup setidaknya Dita bisa selamat. Ternyata kekuatan gaib yang menyelimuti tubuh Dita belum benar-benar bersih sampai saat ini. Buktinya dari masa lalunya masih banyak sekali makhluk gaib yang ingin memiliki tubuh Dita.
"Tubuh Den Ayu memang sangat istimewa, akan tetapi banyak disukai bangsa lelembut!" ucap Mbok Nem.
Maka dari itu Mbok Nem akan semakin memperkuat ilmu spiritualnya demi melindungi junjungannya yaitu Dita. Malam yang genting telah berlalu, kini saatnya untuk membuat Dita bisa memakan sesuap nasi dan sayur mayur.
Dinginnya udara malam dan angin yang berhembus dengan kencang membuat masakan Mbok Nem harus memakan waktu yang lebih lama karena api perapiannya tidak jadi besar.
Sekian lama menunggu akhirnya makanan itu matang. Tanpa menunggu dingin, Mbok Nem langsung menatanya di atas nampan. Saat beliau masuk rupanya Dita masih terlelap.
"Den Ayu, makanannya sudah datang."
Sayang, baru saja ia ingin membangunkan Dita, tiba-tiba ada sekelebat bayangan hitam melayang di atas atap rumah. Bergegas Mbok Nem berlari keluar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Siapa kamu! Beraninya kamu menampakkan wujudmu di sini!"
Bukannya takut atau bersiap pergi, bayangan hitam itu justru menatap nyalang ke arahnya
"Kurang ajar! Malah nantangin, ayo berkelahi kalau itu sudah menjadi maumu!"
Bayangan hitam kelam itu melesat dan menyerang dada Mbok Nem dengan cepat. Melakukan beberapa gerakan tercepat lalu beberapa saat kemudian kembali melesat dan bertengger di atas ranting pohon durian.
Nafas Mbok Nem tampak tersengal, sama seperti ketika ia hendak menyelamatkan Dita. Selama beberapa kali dibawa ke Alam Ghaib tubuh Dita semakin rentan. Baru setelahnya ia seharusnya di ruqiah saat itu juga.
Sayang, tidak ada yang menemani. Hingga Mbok Nem bersikeras akan melakukan ritual sosok pembersih jiwa seorang diri ketika tubuh Dita sudah siuman.