
Ketika menyadari masih ada banyak orang yang tidak suka dengannya, Dita tidak bisa mengatakan hal itu kepada kedua orang tuanya. Sekalipun kesakitan, ia tetap memendam semua yang terjadi pada dirinya sendirian.
Mbok Nem yang mengetahui semua kejadian yang menimpa Dita sama sekali tidak bisa membantunya. Entah kenapa malam itu suasana terasa lain, hingga membuat semua anggota Keluarga Handoko ingin cepat-cepat istirahat. Sehingga saat teror itu datang, tidak ada yang membantu Dita.
Begitu cepat teror itu datang, hingga Dita tidak mempunyai persiapan. Sebenarnya sejak pulang dari makam, Dita sudah merasakan hal yang tidak enak. Apalagi ketika ia mendapatkan kejadian yang tidak mengenakan saat di pondok, hingga membuat batinnya melemah.
"Ya, semua ini memang salahku, jika saja aku tidak terlahir ke dunia ini, mungkin saja tidak akan ada cerita mereka meninggal setelah menikah denganku!"
Namun, ternyata semua salah. Mbok Nem sudah merasa ada keanehan pada suasana malam itu segera bersemedi. Ia mengetahui hal itu ketika tidak sengaja ia mendengar bunyi-bunyian aneh. Belum lagi suara burung hantu yang samar-samar terdengar membuat Mbok Nem yakin ada yang tidak beres malam itu.
Meskipun terlambat, setidaknya Mbok Nem bisa melihat bahagaimana kejadian itu membuat junjungannya terluka. Selepas bersemedi, Mbok Nem bergegas berlari ke kamar Dita untuk melihat kondisinya.
Baginya tidak ada kamar lain yang sering diganggu kecuali kamar Dita. Mbok Nem membuka paksa kamar yang terkunci rapat itu dengan menggunakan kunci cadangan. Betapa terkejutnya Mbok Nem ketika mendapati Dita tergeletak di lantai.
"Den Ayu ... apa yang terjadi? Anda tidak kenapa-napa? Kenapa tidak memanggil hamba?"
Mbok Nem memapah tubuh Dita hingga ke tempat tidur. Diusapnya bekas cairan kental berwarna merah yang terlihat sudah mengering itu.
"Sepertinya kejadian ini sudah berlangsung lama. Beruntung Den Ayu masih bisa bertahan," gumam Mbok Nem.
"Den Ayu, yang mana yang masih terasa sakit?"
Dita menggeleng perlahan, rasa sakit yang menderanya membuat Dita pingsan. Seketika Mbok Nem panik.
"Astaghfirullah, Den Ayu ... Den Ayu bangun!" pekik Mbok Nem sambil menoleh ke kanan dan kiri.
"Den Ayu harus segera ditolong segera!"
Tidak mendapatkan apa yang ia cari, Mbok Nem segera berlari ke dapur. Tidak lupa ia memetik beberapa kuntum bunga kantil yang masih kuncup dan membawanya ke dalam kamar Dita.
Ia mer-emas bunga kantil tersebut dan mencampurnya dengan air matang. Mbok Nem berusaha meminumkan air bunga kantil itu pada Dita.
"Semoga air ini bisa membuatmu tersadar Den Ayu!"
Luka dalam yang parah membuat Dita kesakitan namun tidak bisa menjelaskan definisi kesakitan itu. Apalagi mulutnya seolah terkunci rapat hingga Dita hanya bisa mengerti jika Mbok Nem telah berhasil mengetahui keadaannya. Sedikit tenang, Dita sudah tidak mampu untuk bertahan lagi.
"Maafkan aku, Bu, Pak. Aku belum bisa membahagiakan kalian. Maafkan aku karena dengan kelahiranku justru membuat kalian terkena takdir buruk."
Di sisi lain, tubuh Rani sama terlukanya dengan Dita. Ia mendapatkan serangan balik dari sosok yang hampir sama dengan dirinya. Bedanya ia lebih kuat dari dirinya yang asal menyerang saja. Rani berpikir jika tidak ada yang melindungi Dita, nyatanya pemikirannya salah.
Saat Mbok Nem selesai mengobati junjungannya, ia kembali ke kamarnya. Namun kini Mbok Nem seolah sedang diserang sesuatu.
Tiba-tiba makhluk tinggi besar berkelebat cepat dan sudah berdiri di samping Mbok Nem.
"Sopo Kowe?"
"Kowe ora perlu ngerti aku, tapi rasah melu-melu ngurusi urusanku, paham!"
Mbok Nem mengeram, "Dasar set-an alas!"
Mbok Nem hendak menyerang makhluk itu namun serangannya terhenti ketika ia mendapatkan serangan lebih dulu. Mbok Nem beberapa kali jatuh tersungkur akibat terkena serangan makhluk itu.
Akan tetapi dari suaranya Mbok Nem bisa tahu jika yang menyerangnya tadi bukan sosok manusia melainkan sosok genderuwo.
"Sampai kapan, rumah ini akan terasa damai, Gusti Pangeran."
Mbok Nem memegangi dadanya yang masih sakit. Ia terus mempertahankan diri agar tetap terjaga dan tidak tertidur malam itu. Sepanjang malam menjaga Kediaman Handoko agar tidak terjadi teror-teror seperti sebelumnya.
Sementara itu di rumahnya, Danu merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Ia masih memikirkan ucapan Pak Kyai beberapa waktu yang lalu.
"Aku memang tidak memiliki apa-apa. Bahkan rumah pun masih menumpang dengan orang tua. Jadi wajar saja kalau aku diremehkan."
"Bahkan kehadiranku tidak dianggap, tetapi aku berjanji setelah ini aku akan bekerja keras agar kelak mempunyai kehidupan yang lebih layak, sama seperti orang-orang. Sehingga pada waktunya nanti aku mempersunting Dita. Aku tidak akan malu lagi bersanding dengannya."
Memang benar saat ini ia belum memiliki apa-apa. Bahkan bekal untuk mempersiapkan kehidupannya di masa mendatang juga belum dimiliki olehnya.
Sebuah keinginan besar akan diusahakan oleh Danu. Ia memikirkan secara matang semuanya. Danu tidak mau menjadi beban orang lain ketika ia berumah tangga nanti. Sementara itu meskipun tidak mempunyai apa-apa asalkan bisa bersama pasti semuanya akan terasa lebih indah dan bisa melewati segala rintangan yang ada di hadapannya.
Hidup seseorang tidak pernah selalu di atas secara terus menerus, tetapi ada kalanya ia akan juga berputar ke bawah.
Pekerjaan yang mapan dan semuanya masih ia gantungkan. Kuliah dan skripsinya belum bisa diselesaikan. Bagaimana mungkin ia akan berencana menikahi Dita.
Pikirannya berkecamuk semakin membuat Danu tidak bisa berpikiran jernih. Tidak mendapatkan ketenangan, ia pun memilih untuk kembali keluar dari rumah dan bertemu dengan teman-temannya.
Mungkin saja dengan begitu ia bisa mendapatkan nasehat dari teman-temannya. Setidaknya bisa membuat dirinya bangkit dari keterpurukan yang dirasakan saat ini.
Jalanan hari itu begitu lengang, sehingga ia tidak membutuhkan waktu yang lama agar cepat sampai di tempat nongkrong. Saat masih berada di perjalanan, dalam sekejap di hadapan mobil ia melihat ada bayangan hitam yang melintas dengan cepat.
"Apa itu?"
Sepertinya mengikuti bayangan dari makhluk hitam tersebut sangat mengerikan akan tetapi ia teringat akan pesan ibunya tidak memperbolehkan dirinya untuk bertarung lagi kepada beberapa makhluk.
Ibunya mengatakan bahwa makhluk-makhluk itu tidak akan berbuat jahat kepada manusia sebelum kita yang menyinggungnya terlebih dahulu.