Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 154. KEJUJURAN YULI


Ketika tatapan mereka kembali bertemu ada sebuah rasa gugup yang menyerang Fano dan juga Dita. Entah kenapa rasanya tetap tidak sama sehingga Dita tidak berani menengadahkan kepalanya saat bertemu dengan Fano. Ia justru lebih banyak menundukkan wajahnya dari pandangan para tamu yang datang malam itu.


Sementara itu pandangan lain ditujukan oleh sosok wanita yang duduk di samping Nyonya Kirana. Ia memandang Dita dengan mata yang lain, yaitu menggunakan mata batinnya. Dengan begitu ia bisa melihat sisi lain seorang Anindita. Ternyata dalam penglihatannya, di punggung Dita ada sebuah gambar ular yang memanjang dari belakang pusar hingga ke atas. Dalam mata manusia biasa tidak akan ada yang bisa melihat hal itu kecuali orang indigo seperti dirinya.


"Wanita ini tidak pantas untuk bersanding dengan Fano. Bagaimana pun aku harus melindunginya!"


Percakapan mereka kembali terjadi, Nyonya Kirana tidak menyangka jika Dita bisa berubah menjadi lebih syar'i saat ini. Begitu pula dengan Nyonya Sekar dan juga Tuan Handoko yang baru saja melihat jika Dita menutup seluruh tubuhnya dengan pakaian gamis lengkap dengan cadar.


"Apa yang terjadi dengan putriku?" gumam Tuan Handoko.


Begitu pula dengan apa yang dipikirkan oleh Nyonya Sekar.


"Apakah benar ini anakku? Kenapa seperti orang lain?"


Sementara itu ekspresi lain ditunjukkan oleh Nyonya Kirana, ia tersenyum ramah kepada Dita. Apalagi penampilan Dita kali ini sudah memenuhi standard menanti ideal.


"Aku yakin Anindita di hadapanku saat ini tidak jauh berbeda dengan Dita yang pernah aku temui beberapa bulan lalu."


"Sudah beberapa bulan terakhir kita tidak bertemu, rupanya kamu semakin cantik, Dita."


"Terima kasih, Tante."


"Iya, benar. Mbak Yu sudah lama tidak ke sini. Terakhir kali kita bertemu pada acara pernikahan beberapa bulan yang lalu."


"Betul, maafkan Tante yang tidak memberikan ucapan secara langsung kepadamu saat itu, Dita."


"Tidak apa-apa, Tante. Lagi pula semuanya sudah berlalu."


"Tapi kan sudah lebih dari 40 hari bukan?"


Dita mengangguk pasrah. Ia tahu kemana arah pembicaraan kali ini. Dita sangat yakin jika kedatangan Keluarga Fano kali ini adalah untuk mempersunting dirinya.


"Apakah aku akan mengalami takdir yang sama beberapa kali lagi, padahal nenek sudah memperingatkanku untuk menyiapkan hati yang lebih besar lagi jika sampai pernikahan kembali terjadi kepadaku."


Rasa sesak membelenggu jiwa, rasanya Dita benar-benar tidak ingin melanjutkan pertemuan malam itu. Fano sedari tadi tidak berbicara apapun. Hanya saja sesekali ia mencuri pandang kepada Dita.


Tidak luput pula sesekali tatapan mereka bertemu. Namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar darinya. Hanya senyuman yang tersungging di bibir tipisnya itu, mengisyaratkan jika Fano kali ini benar-benar sudah menyiapkan batin dan jiwanya.


"Apakah Fano sungguh ingin mempersuntingku?"


"Aku bisa melihat perubahan yang terjadi dalam dirimu. Kamu sangat berbeda dengan Refano yang aku temui beberapa bulan yang lalu."


"Dulu kamu tampil sebagai seorang lelaki arogant tapi sukses. Jauh berbeda dengan kali ini. Wajahmu begitu teduh."


"Apakah Fano sudah memperbaiki dirinya? kenapa aura yang terpancar di dalam tubuhnya berbeda dengan beberapa bulan yang lalu?"


Banyak sekali perbedaan yang dirasakan Dita saat melihat Fano. Akan tetapi ia tidak berani memandangnya terlalu jauh. Sementara itu para orang tua sudah meneruskan perbincangannya kembali.


Dita kembali tersentak ketika ia diajak berbicara oleh Nyonya Kirana secara tiba-tiba, akan tetapi ia lebih tersinggung ketika wanita di samping Nyonya Kirana ikut berbicara.


"Sebaiknya kita segera pergi dari sini, Mbak."


"Memangnya kenapa, Yul?"


"Nanti kita bicara di rumah!" ucapnya sambil melirik ke arah Dita.


Tidak menyangka jika adiknya itu tidak suka dengan keberadaan Dita, Nyonya Kirana hanya bisa menghela nafasnya. Padahal Ayah Fano juga masih terlihat ingin mengobrol banyak dengan calon besannya itu.


"Maaf ya, Jeng. Sepertinya kami harus permisi terlebih dahulu. Ada sesuatu yang harus kami selesaikan lebih dahulu."


"Ya sudah, hati-hati."


"Iya, Tante."


Dita mencium tangan Nyonya Kirana lalu menarik tangannya ketika tangan Fano hendak menyentuhnya.


"Hati-hati, Mas."


Bukannya marah, Fano justru tersenyum melihat respon yang diberikan Dita barusan.


"Assalamu'alaikum," pamit Fano.


"Wa'alaikumsalam," jawab Dita.


Kedua orang tua sama-sama tertegun dengan perubahan yang terjadi pada anak-anak mereka. Akan tetapi ada beberapa harapan yang tersirat di sana.


"Aku berharap semua kebaikan akan selalu mengiringimu, Nak."


Beberapa saat kemudian, ketika Nyonya Sekar ingin berbicara dengan Dita, Tuan Handoko melarangnya.


"Biarkan anak kita sendiri, biarkan dia menjadi seorang muslim yang taat."


"Tapi, Pak--"


Tuan Handoko hanya memberikan tatapan penuh kasih kepada istrinya. Seolah mengatakan biarkan saja putrinya berubah menjadi lebih baik saat ini. Mungkin dengan begitu akan membuatnya lebih istimewa di kemudian hari.


Kediaman Refano.


"Mbak, sejak kapan Mbak kenal dengan gadis itu?"


"Kalau dengan Dita baru beberapa bulan, akan tetapi kalau dengan keluarganya sudah cukup lama. Memangnya ada apa, Dek?"


"Duduklah, Dek. Ada yang mau aku bicarakan denganmu!"


Sejenak kemudian, Nyonya Kirana duduk di sebelah adiknya yang bernama Yuli. Sejak kecil Yuli memang seorang indigo, ia bisa melihat hal-hal yang tidak kasat mata sekaligus bisa mengingatkan seseorang agar tidak celaka karena sebuah peruntungan yang buruk.


Sama seperti yang akan dilakukannya saat ini yaitu mengingatkan kakaknya agar berhati-hati dengan wanita yang bernama Dita.


"Aku meminta maaf kepada kakak, karena hal ini berkaitan dengan maksud kakak yang akan menjodohkan Dita dengan Fano."


Seketika Nyonya Kirana menoleh pada adiknya itu. "Memangnya kenapa?"


"Apa Mbak tahu kalau gadis yang akan Mbak jodohkan dengan Fano itu adalah wanita bahu laweyan?"


Nyonya Kirana tampak menggeleng, persis sesuai dugaannya.


"Apa itu wanita bahu laweyan, Dek?"


Belum sempat Yuli bercerita, rupanya Tuan Handoko memasuki ruang tengah bersama Fano. Seketika ekspresi Yuli berubah. Ia ingin mengatakan semuanya namun ia tidak tega jika mengatakannya secara langsung di depan Fano.


"Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan, kenapa seolah seru sekali?" tanya Tuan Handoko yang langsung duduk di samping istrinya.


Pada kesempatan kali itu Fano pun juga ikut duduk di ruang tengah. Ingin sekali ia turut bergabung dengan topik yang sedang dibicarakan oleh tantenya itu.


"Topik yang kalian bicarakan tentang wanita bahu laweyan cukup menarik, Tante. Bolehkah aku bergabung di sini?"


"Te-tentu saja boleh, kenapa tidak?" ucap Yuli dengan sikap tenangnya.


Yuli cukup senang karena Fano tertarik dengan topik yang sedang ia bicarakan kali ini. Apalagi hal ini menyangkut tentang sebuah rahasia besar yang selama ini ditutupi oleh Keluarga Besar Handoko.


Setidaknya jika ia bisa mengatakan hal ini secara langsung kepada Fano, ia tidak perlu memperingatkan atau mencegahnya dengan kata-kata yang bisa menyakiti hati Fano.