
"Aku hanya ingin dekat denganmu. Apakah aku salah? Bukankah kita teman masa kecil?" tanya Sam sedikit ragu.
Dari cara berucap Dita, Sam bisa menyimpulkan jika ia sedang tidak baik-baik saja. Dita yang masih merasa pusing memang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ia bahkan sampai mual karena rasa sakit yang menyerangnya.
"Bik ... bibik ....!" panggil Dita.
"Sa-saya, Den Ayu."
"Ambilkan tablet pereda pusing, sama air putih hangat."
"Ba-baik Den Ayu."
Sang bibik langsung mengambilkan permintaan tuannya dan kembali ke kamar Dita dengan segera.
Dita segera meraih tablet pereda pusing berserta air hangat dan meneguknya cepat. Tiba-tiba angin dari jendela berhembus dengan kencang hingga membuat tirainya bergerak dengan cepat.
Bibik menoleh ke arah jendela, "Biar saya tutup jendela kamarnya, Den Ayu istirahat saja."
Dita mengangguk, tetapi sebelum bibik pergi Dita berpesan agar tidak ada yang boleh menganggunya.
"Ingat ya, Bik. Jangan sampai ada yang masuk kecuali atas ijinku. Sekalipun itu Bapak atau Ibu."
"Baik, Den. Kalau begitu saya permisi."
Setelah memastikan Dita terlelap, terdengar seseorang yang melantunkan lagu Jawa.
...Duh wong ayu, pepujaning ati...
...Koyo ngene, wong nandang...
...Asmoro...
...Opoto awakku dewe,...
...Duh dewo, jawoto gung...
...***...
Sontak kedua mata Dita terbuka, matanya menatap tajam ke arah langit-langit. Sekelebat bayangan hitam melintas di atas tubuh Dita dengan mulut terbuka lebar. Bau bunga melati bercampur bau anyir seketika tercium hingga membuat siapapun yang menciumnya akan merasakan mual.
Tiba-tiba saja, dari atas sana menetes sebuah cairan hitam pekat, yang jatuh tepat mengenai dahi Dita. Cairan itu mampu membuat Dita terpejam untuk sesaat.
Meski hanya setetes, ternyata baunya sangat wangi. Cairan itu mampu menggantikan bau anyir yang baru saja tercium oleh indera penciuman Dita. Setelah hal tersebut terjadi, keajaiban mengikuti tubuh Dita.
"Siapa kau!" gertak Dita yang baru menyadari jika bayangan hitam tadi yang menyembuhkan sakitnya.
Bayangan hitam tadi sempat mendekati Dita untuk sesaat lalu melesat pergi saat kesadaran Dita kembali. Siapa yang tidak merinding, ketika merasakan sakit, ada makhluk astral yang menyembuhkan kita.
Namun, saat Dita menegurnya, ia sudah menghilang melewati celah jendela kamar Dita. Dita yang merasa penasaran bergegas mengejarnya, tetapi langkahnya tidak bisa menyamai kecepatan cahaya yang dimiliki bayangan hitam tadi. Hingga akhirnya ia kehilangan jejak.
"Sial ...."
.
.
"Kenapa Dita terasa aneh?" gumam Sam sambil memandang ponsel yang baru saja ia gunakan untuk menghubungi Dita.
"Ada apa Tuan?" tanya sopir Sam.
"Itu Pak, teman saya terlihat aneh ketika saya menghubunginya, padahal ini pertama kali saya menelponnya setelah beberapa tahun yang lalu."
Sopir Sam kebetulan adalah seorang Indigo. Ia bisa mengerti siapa yang baru saja di telpon oleh Sam.
"Memangnya Tuan ingin bertemu dengannya?"
"Ya tentu dong, Pak. Saya kangen mendengar sosoknya yang tomboy itu."
"Sebaiknya Tuan menjauhi wanita tersebut. Dalam beberapa tahun ini ia sedang dilingkupi awan gelap, dan hal tersebut tidak baik untuk kehidupan Tuan ke depannya."
"Lah, emangnya Bapak kenal teman saya?"
"Tidak, tetapi saya yakin jika wanita itu bisa mendatangkan keburukan bagi Tuan."
Ucapan dari sopir pribadi Sam membuatnya semakin mantap untuk menemui Dita. Entah kenapa, ia tidak percaya akan ucapan anak buahnya tersebut.
"Iya, Pak. Terima kasih untuk nasehatnya."
.
.
Lalu apakah Sam tetap akan mendatangi Dita?