Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 56. PERTOLONGAN


Akhirnya Rani melakukan perjalanan panjang, rumah Dita yang sangat jauh membuat Rani harus berjuang ekstra agar bisa sampai di sana secepatnya. Kepergiannya kali ini pun hanya bermodal nekad.


Tidak ada hal yang lebih penting daripada persahabatan Dita dan Rani yang sudah seperti keluarga. Bukan hanya kebaikan ataupun kebahagiaan yang mereka bagi, akan tetapi kesedihan pun akan mereka tanggung bersama.


Meskipun Rani bukan anak orang berada tetapi hanya Rani yang mau berteman dengan Dita. Sosok Dita pendiam, introvert, dan misterius sering membuat orang-orang di dekatnya tidak bisa bertahan lama.


Bahkan banyak yang membenci Dita terutama kaum perempuan. Sementara itu kaum laki-laki sangat tergoda untuk bisa berdekatan dengannya. Bahkan tidak sedikit yang harus patah hati karena Dita selalu menolak terang-terangan cinta mereka.


Keluarga Dita yang seorang ningrat mempunyai kriteria dalam mencarikan jodoh untuk Dita. Tidak bisa sembarang orang menjadi kekasih ataupun berjodoh dengannya. Namun, selama satu tahun terakhir ini, nasib buruk menimpanya. Bahkan kedua suaminya harus meninggal di tahun yang sama.


Selama perjalanan, Rani terus memanjatkan doa-doa agar Dita tidak kenapa-napa dan perjalanan yang ia lakukan lancar. Rani yang mempunyai rasa kemanusiaan tinggi tidak pernah bisa membiarkan Dita kesakitan. Meskipun pada akhirnya Rani harus berhadapan dengan hal mistik seperti saat ini, Rani tetap setia berada di sisi Dita untuk memberikan support.


“Semoga hal-hal buruk segera pergi darimu ya, Dit. Gue nggak mau kehilangan sahabat terbaik gu, hiks."


Rani bercerita sambil menghadap ke arah jendela. Ia tidak bisa membiarkan semua ini secara berlama-lama.


Dada Rani bergemuruh hebat, sedari tadi menahan tangisnya karena takut ibunya semakin khawatir padanya. Akan tetapi entah kenapa rasa itu tiba-tiba muncul hingga membuat Rani hampir mengantuk.


“Maafkan aku yang tidak selalu ada bersamamu ....”


Rani menunduk sesaat dan tak ....


Kepala Rani terantuk jendela bus. Seperti terkena sirep, Rani seolah tertidur untuk sesaat.


Mungkin karena kelelahan, Rani sempat bermimpi di sana. Antara mimpi dan kenyataan yang rasanya tidak jauh berbeda, karena Rani masih bisa mendengar orang memanggilnya.


Beberapa saat kemudian, bahu Rani serasa di tepuk. Ternyata yang menepuk Rani adalah seorang kakek tua berjenggot putih. Ia tersenyum ramah ke arah Rani.


“Maaf, Nduk. Bolehkah kakek duduk disitu?”


“Boleh, Kek. Silakan.”


Rani sedikit menggeser tempat duduknya, lalu mempersilakan kakek tersebut duduk di sampingnya. Tanpa menoleh ke arah Rani dan padangannya tetap lurus ke depan, kakek itu mengajak ngobrol Rani.


"Sepertinya kamu banyak beban pikiran, Nduk. Apakah tidak ada hal lain yang ingin kamu bagi pada kakek?"


"Beban apa ya, Kek?" Rani seolah kebingungan saat ini.


Bukannya memperjelas perkataannya, kakek itu hanya tersenyum sesaat.


"Sebaiknya teman kamu diruwat saja. Atau kalau kamu mau, sebaiknya ia jangan menikah kembali di tahun ini dan dua tahun ke depan."


"Memangnya teman saya siapa yang mau menikah kembali, Kek?"


Kakek tersebut hanya tersenyum saat memandang Rani, baru setelahnya ia berbicara kembali.


"Temanmu yang sedang ingin kamu kunjungi saat ini. Jangan lupa suruh dia banyak berdoa dan bersedekah. Kalau dia ingin sembuh, perjalanannya tidak akan mudah. Akan banyak rintangan yang ia dapatkan ke depannya."


"Ha-ah, kok kakek bisa tahu?"


"Sampaikan salamku untuknya, kalau berkenan kalian boleh mampir ke pondok kakek di Jogja."


"Baik, Kek. Terima kasih."


Setelah mengatakan keinginan hatinya, kakek itu segera menghilang. Rani yang baru sadar mengerjap-ngerjapkan matanya. Baru setelahnya ia terbangun karena sopir bus mengerem mendadak bus yang ditumpangi oleh Rani.


Rani mengusap kepalanya, "Perasaan tadi ada yang ngajak bicara aku, tetapi siapa ya?"


"Sepertinya aku ketiduran, makanya sampai ngehalu aja nggak nyadar."


"Ya, udah lanjut sholawatan aja, deh."


Sebenarnya banyak kekhawatiran yang membuat Rani ikut bertindak kali ini. Apalagi ternyata Dita mengambil cuti selama ini karena ia sedang menjalani masa perjodohan dengan Yudistira.


"Tunggu deh, apa ini yang dimaksudkan dengan ramalan tentang masa depan Dita?"


.


.


Kediaman Dita.


"Ada apa denganku ini, kenapa rasanya sangat menyakitkan?"


Dita melihat pantulan dirinya di dalam cermin, memperhatikan semua hal yang terlihat di sana. Sesekali ia berputar sambil melihat bahunya yang semampai.


"Apa ada yang salah denganku? Kenapa setiap lelaki yang menikah denganku harus meninggal? Bukankah aku tidak berbuat aneh kepada mereka?"


"Ataukah aku wanita pembawa sial sama seperti ucapan Rista?"


Belum sempat Dita mendapatkan ketenangan, terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah.


"Siapa yang datang?"


Terdengar beberapa orang bercakap-cakap di halaman rumah, Dita seolah hafal dengan suara tersebut. Ternyata Keluarga Wisnu datang kesana.


"Dita, di mana, Jeng?" tanya Nyonya Anggraeni sesaat.


"Ada di dalam kamar."


"Apa dia mengurung diri lagi?" ucap mantan besannya itu.


Nyonya Sekar mengangguk.


"Lalu bagaimana dengan gugatan Keluarga Yudistira?"


"Entahlah Jeng, Bapaknya Dita sedang menyelesaikan hal tersebut bersama-sama pengacara keluarga kami."


Nyonya Anggraeni memegang kedua tangan Nyonya Sekar lalu menguatkan besannya.


"Biar nanti Bara yang membantu kalian."


"Bara?" tanya Nyonya Sekar kebingungan dengan nama asing yang baru saja disebut oleh besannya itu.


Nyonya Anggraeni terkekeh sebentar.


"Dia calon suami Rista, nanti biar aku bicara sama dia."


"Terima kasih banyak ya, Jeng."


"Sama-sama."


"Biar aku yang berbicara dengan Dita, kamu tenang saja."


Nyonya Anggraeni mencoba memahami kondisi mantan menantunya tersebut. Namun belum sempat mereka sampai di kamar Dita, ada seekor ular terjatuh di hadapan kedua orang tua tersebut hingga membuat keduanya berteriak.


"Aaa ... to-tolong!"


.


.


Sambil nunggu up boleh mampir ke sini ya, readers sayang🙏