
Jauh dari hingar bingar kebahagiaan Dita dan Tito dan masalah Fano, masih ada Danu yang belum siuman di dekat hutang terlarang.
Sejak kecelakaan beberapa Minggu yang lalu ia belum tersadar dari tidur panjangnya. Kini Danu seolah sedang berada di dalam dimensi lain. Sang nenek yang merawatnya tidak bisa berbuat banyak, karena ia hanyalah manusia biasa yang sangat miskin.
"Kapan pemuda ini siuman? Kenapa ia tidak kunjung bangun dari tidur panjangnya?"
Pertanyaan demi pertanyaan terus bergelayut di dalam benak sang nenek. Namun, Nenek tersebut hanya bisa membantu Danu dengan membersihkan tubuh luarnya saja.
Ada sebuah bisikan yang menyuruhnya untuk segera menguburkan Danu, namun ada juga yang membisikkan kata agar Danu dibiarkan saja sampai ia terbangun dengan sendirinya.
Di dalam dimensi lain.
"Mas Danu ...."
Danu menoleh mencari sumber suara itu, ternyata ada Dita yang sedang membawakan makanan untuknya. Sudah satu bulan ini ia hidup bahagia dengan Dita.
Dipegangnya dengan lembut tangan Dita lalu dikecupnya punggung tangan kekasihnya itu.
"Kamu semakin cantik saja, Dita."
Dita yang malu-malu hanya bisa menunduk. Lalu sesaat kemudian tersenyum.
"Sungguh, Mas?" tanya Dita hati-hati.
"Tentu, terlebih lagi kamu ternyata wanita yang penurut dan berhati lembut. Jika bukan karena kamu yang menyelamatkan aku, sudah pasti aku tidak akan bisa bersama denganmu saat ini."
"Apa yang kamu katakan benar, Mas. Mungkin ini jalan yang ditujukan oleh Tuhan untuk kita agar bisa bersama."
Tangan Danu terulur untuk memegang bahu Dita dan menariknya masuk ke dalam pelukannya. Tidak lupa sebuah kecupan manis ia daratkan di kening kekasihnya itu. Dita hanya tersipu dengan perlakuan manis yang diberikan oleh Danu.
Namun, tidak berapa lama kemudian muncul lelaki yang selalu menganggu moment keromantisan mereka. Lelaki itu mengaku calon suami Dita, namun Dita sama sekali tidak menyukainya.
"Sudah aku katakan berkali kali agar kau menjauhi Dita, kenapa kamu selalu datang dan menganggu!" gertak Danu kepadanya.
Lelaki itu tersenyum, "Haruskah aku mengatakan semuanya pada dia, wahai calon istriku!"
Sontak Dita menggeleng, "Jangan, Mas. Aku mau menjadi istrimu, asalkan kau tidak melukai Mas Danu."
"Tidak Dita, aku tidak akan membiarkan dirimu pergi jauh dariku!" ucap Danu sambil menahan langkah Dita.
Lelaki itu datang dan menghampiri Danu. Satu bogem mentah berhasil mendarat di pipi Danu.
BUGH
Danu yang belum siap, sempat jatuh tersungkur. Akan tetapi ia buru-buru bangkit dan segera bersiap untuk melawan calon suami Dita.
"Hadapi aku dulu, sebelum kamu membawanya pergi."
Seketika lelaki itu menarik kerah baju Danu. Hingga keduanya mendekat. Tarikan napas mereka saling berhembus kencang.
"Asal kamu ingat Danu, aku tidak pernah takut dengan manusia sepertimu. Cam 'kan itu!"
Kedua mata mereka membulat lebar. Deru nafas mereka terdengar sama-sama keras. Seolah mereka sedang bersiap untuk betarung.
Benar saja, sesaat kemudian, lelaki itu segera menghujani Danu dengan beberapa pukulan hingga membuat sudut bibir Danu ber-da-rah. Ia mengusap sudut bibirnya sambil berdecih.
"Dasar manusia kurang aja*!" pekik lelaki itu tersungut kesal.
Bagaimana ia bisa merelakan calon istrinya direbut oleh lelaki lain. Tanpa menunggu ampun lelaki itu kembali menghajar Danu. Lelaki itu menerjang tubuh Danu hingga ia hampir terjungkal.
"Ughhh--!"
BUGH ... BUGH ....
Beruntung Danu bisa menjaga keseimbangannya. Danu langsung berbalik dan saling berhadapan. Di saat lelaki itu melompat tinggi dan mengarahkan kaki kanannya hendak menyerang dada, Danu bersiap melakukan hal yang sama.
Danu melompat tinggi, dengan gerakan kedua tangan yang sangat cepat langsung mengapit betis kanan lelaki itu dan bergerak memutar. Tentu saja hal itu membuat lelaki itu hilang keseimbangan. Tubuhnya ambruk dan terhempas ke tanah.
Melihatnya masih mengerang kesakitan, Danu mengambil kesempatan itu untuk menarik lehernya dan sekali lagi melayangkan bogem mentah ke arah wajahnya.
"Rasakan ini dan segeralah menjauh dari wanitaku, Dita!"
"Cuih!"
Sebelum pergi lelaki itu sempat meludahi Danu dan membuatnya murka. Namun, Dita segera menghampiri Danu.
"Mas, kamu terluka, biar aku obati!" ucapnya lirih.
Entah kenapa tiba-tiba kepala Danu terasa sangat menyakitkan hingga membuatnya jatuh pingsan.
"Mas ... Mas Danuuuu ...." teriak Dita.
Hosh ... Hosh ... Hosh ....
Nafas Danu tersengal ketika ia pertama kali siuman. Sang nenek begitu terkejut ketika menyadari hal itu dan langsung berlari ke arah Danu.
"Syukurlah kamu siuman, Nak!" seru nenek itu.
"Haus ... haus ... aku haus ...."
Dengan sigap sang nenek segera memberikannya satu gelas air putih. Danu menengguknya hingga tandas.
"Terima kasih, maaf aku di mana, ya? Di mana Dita?"
"Ha-ah, Dita? Siapa Dita, namaku Nenek Maemunah, Nak."
"Kalau nama yang kamu sebutkan tadi, Nenek tidak mengenalnya."
"Tapi, tadi aku bersamanya, Nek."
Hayo ... Kira-kira siapa yang bersama Danu tadi? Hi hi hi .... Tunggu update selanjutnya ya.
......................
Sambil nunggu up, mampir ke sini dulu bestie. Dijamin ceritanya bikin nyesek ðŸ˜