
Rasa canggung menggelayuti pikiran Dita pagi itu. Di saat ia ingin mencoba kehidupan barunya ternyata masa lalunya kembali tiba. Bagaimana pun ia harus menjalani hidup bersama dengan masa lalu yang datang untuk meminta penjelasan.
"Tumben-tumbenan kamu datang ke sini, Mas?"
"Iya, aku kangen sama kamu."
Ucapan kejujuran dari hari Fano membuat Dita menjadi terkejut. Bagaimana pun sudah lebih dari tiga kali ia menolak kehadiran Fano bahkan lamaran yang diberikan olehnya secara terus terang.
"Apakah kali ini Mas juga meminta Dita untuk kembali melamarku?"
Kejujuran dari Fano mendapatkan hal yang sama dari Dita. Ia juga langsung mengatakan apa yang menjadi beban pikirannya kali ini. Kedua anak manusia berbeda genre itu terus saja melangkahkah kakinya menyusuri jalan di sekitar perkebunan teh.
Ucapan dari Dita tenyata ditanggapi dengan senyum hangat dari Fano, bukan sebuah kemarahan ataupun rasa sedih.
"Kenapa senyum? Apa pertanyaan dariku ini sudah biasa atau Mas tidak mau menjawabnya."
"Bolehkah aku jujur padamu?"
Dita tampak mengangguk setuju. "Jujur aja, aku nggak masalah, kok."
"Sejujurnya aku datang ke sini memang dengan niat baik untuk melamarmu."
"Tapi ...."
"Tapi jangan memotong ucapan dariku."
Terlihat sorot mata Fano yang teduh ternyata mampu menyihir hati Dita yang terdalam. Bukan berarti dengan begitu ia juga memberikan kesempatan untuk Fano. Ketakutannya jauh melebihi rasa bahagia yang menerpa di dalam hatinya.
Sejatinya ketakutan akan nasib buruk yang akan menimpa Fano di kemudian hari menjadi salah satu pertimbangan dari Dita untuk menjawab iya atau tidak. Akan tetapi sepertinya tidak sopan jika ia menolaknya sekali lagi.
"Tidak, apapun itu resikonya aku siap menanggung, Dita. Apakah kau selalu menolak menikah denganku hanya karena takut meninggal?"
Langkah kaki Dita terhenti ketika Fano mengatakan hal itu dengan lantang. Hatinya menjadi tidak menentu karena Fano menatapnya dengan intens.
"Kenapa rasa cinta untukku sangat besar? Kenapa?"
"Cinta tidak membutuhkan sebuah alasan akan tetapi sebuah pembuktian. Apalagi kamu tahu jika aku sangat mencintai dirimu tanpa sebuah alasan atau tindakan yang memburu nafsu."
"Maaf, saya rasa aku tidak pantas menerima cinta dari Mas Fano yang begitu besar."
Dita mencoba menarik tangannya lalu sejenak kemudian Fano justru berlutut di hadapan Dita.
"Jika kamu tidak mau menerima cintaku, tidak mengapa, asalkan kamu bahagia maka aku jauh lebih bahagia."
"Bahagia tanpa bisa memiliki dirimu aku menerimanya, tetapi jika aku harus terluka karena kamu mencintai lelaki lain dan bahkan menikah dengannya mungkin hatiku akan terluka."6
"Maaf!" cicit Dita.
Pergolakan batin Dita terlihat sangat mudah dibaca oleh siapa saja termasuk oleh Fano. Maka dari itu Fano meminta Dita untuk menemaninya jalan-jalan.
Fano masih saja tidak bergerak dari tempat berlututnya. Hati siapa yang tega melihat hal demikian. Maka dari itu Dita berbalik dan mengajak Fano untuk berdiri.
"Ayo berdiri, Mas. Tidak baik jika terlihat oleh orang lain."
"Apa kamu malu jalan sama aku? Apakah aku terlalu hina jika bersanding denganmu? Hingga kau menolakku berkali-kali."
"Kamu sangat istimewa dan jauh lebih bermartabat daripada aku. Justru karena akulah yang tidak pantas untukmu, maka aku menolak lamaran darimu."