
"Pak, hubungan kita pada besan-besan kita yang terdahulu semuanya sudah terhenti. Mereka seolah menjauhi kita seperti kita ini adalah sumber masalah."
"Iya, aku tahu maka dari itu sebaiknya kita pergi dan pindah dari sini."
Tuan Handoko berbalik dan menatap istrinya. Sama seperti istrinya ia juga memikirkan hal yang sama. Ketakutan membuat orang tua Dita tidak bisa berpikir jernih, yang mereka mau adalah membuat Dita bisa bangkit sendirian.
"Bagaimana Bu?"
Saat keduanya sedang mengobrol satu sama lain, Mbok Nem muncul di sana. Sama seperti biasanya kini Mbok Nem membawa sebuah makanan di atas nampan untuk diberikan pada junjungannya ini.
"Camilan sore, Kanjeng Ibu dan Bapak. Silahkan dinikmati."
"Terima kasih banyak, Mbok."
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi."
Saat Mbok Nem hendak berbalik, rupanya Tuan Handoko menghentikan langkahnya.
"Tunggu sebentar Mbok. Ada hal yang ingin saya tanyakan sama Mbok."
"Iya, saya Tuan."
"Sebelumnya saya meminta maaf pada Mbok Nem. Saya berterima kasih karena sedari dulu Mbok Nem telah mengabdi dalam keluarga ini secara sempurna. Tidak pernah mengeluh ketika kami tidak bisa membayar upah secara utuh."
"Bahkan berkali-kali menyelamatkan Dita, putri kami."
"Maka dari itu, bagaimana jika Mbok Nem ikut bersama kami untuk pindah rumah."
"Pi-pindah rumah kenapa Kanjeng Ibu?"
Nyonya Sekar tampak mendekati Mbok Nem. Ia mengusap bahunya lalu menatap dalam ke arah bola mata pembantunya itu.
"Aku ingin memulihkan kondisi mental Dita, Mbok. Lagi pula di sini sepertinya sudah tidak aman lagi."
Nyonya Sekar berbalik dan melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi tepat dimana suaminya duduk.
"Tidak aman bagaimana?"
"Banyak omongan tetangga dan masyarakat yang bisa menjatuhkan mental Dita. Di tambah lagi ada banyak hal yang seharusnya tidak terjadi saat ini. Mbok bisa melihat sendiri kondisi Dita. Sering menyendiri dan bahkan melamun di gazebo belakang."
"Sudah pasti, tetapi aku hanya berharap ia bisa move on dari ingatan masa lalu yang terus membelenggu jiwanya. Bagaimana pun Dita adalah anak satu-satunya. Aku tidak ingin ia sampai mengalami keterpurukan mental."
Setelah sang istri banyak berbicara, kini mulai dengan. Tuan Handoko yang juga ikut berkontribusi di dalam pembahasan penting seperti itu.
"Benar Mbok, jika kamu menyayangi Dita maka sudah pasti kamu akan mengikuti langkah kita. Bukankah seperti itu?"
"Semoga saja iya. Lagi pula sejak kematian Fano sikap Dita semakin berbeda, sehingga aku sudah tidak sabar membawanya pergi."
"Maaf jika saya lancang berkomentar. Situasi yang sedang dialami Den Ayu saat ini adalah sebuah hal yang sangat wajar terjadi. Ketika kita kehilangan orang yang kita cintai sudah pasti merasa ada sebagian hati kita yang ikut terkubur di sana."
"Den Ayu sedang memulihkan dirinya sendiri di gazebo. Meskipun saat diajak berbicara seolah tidak mendengar, akan tetapi telinganya sudah pasti mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh kita."
"Ma-maksud Mbok?"
"Indera pendengaran Den Ayu saat ini sudah meningkat tajam dibandingkan masa-masa yang lalu. Ia semakin terlihat mengurung diri karena Den Ayu tidak pernah mau ikut campur atau mendengarkan hal-hal tentang dirinya."
"Hanya saja, Den Ayu semakin istimewa dibandingkan masa-masa sebelumnya."
"Katakan apa yang Mbok ketahui tentang rahasia yang disimpan oleh Dita."
"Maaf, saya tidak bisa membiarkan orang lain tahu bahwa ada sesuatu hal yang sedang dipertahankan Den Ayu di kota ini. Mungkin bisa saja Den Ayu akan melawan genderuwo itu sendirian."
Nyonya Sekar dan Tuan Handoko saling berpasangan satu sama lain.
"Jangan becanda, Mbok. Itu nggak lucu!"
"Memangnya saya terlihat bercanda?"
"Enggak."
"Kalau enggak ya sebaiknya kamu kembali bekerja terlebih dahulu. Untuk pemberitahuan selanjutnya nanti biarkan aku yang memanggil kamu.'
"Bukan begitu, Mbok Nem?"
"Iya, Tuan benar sekali."
"Kalau begitu kamu bersiaplah untuk tetap tinggal di sini, sementara itu kita tetap pada opsi yang pertama."