Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 128. SEBUAH KENYATAAN


Selepas acara ijab kabul dilanjutkan acara makan-makan, lalu setelahnya para tamu undangan kembali ke rumah masing-masing. Begitu pula dengan Fano dan Nyonya Kirana, mamanya.


"Ayu, aku ke kamar dulu, ya?"


Tito merasakan hawa yang panas menjalar di tubuhnya. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang sedang mengintai dari sudut kamar. Akan tetapi ia tidak bisa melihatnya ketika ia berada di dalam raga Tiyo.


Tito kemudian berbaring di tempat tidur Dita. Rasanya semakin panas, bahkan untuk bernafas pun rasanya sangat susah. Hingga tiba-tiba saja rohnya terdesak untuk segera keluar dari raga Tiyo.


Kedua mata Tito terbelalak ketika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, ada sosok makhluk yang sangat mengerikan menatapnya penuh amarah. Kedua matanya merah menyala, tubuhnya penuh bulu dengan aroma sangat anyir menusuk hidung.


"Makhluk apa kamu?" gertak Tito saat berhadapan dengan sosok menyeramkan itu.


"Kau tak perlu tahu siapa diriku, tapi kau akan menemui ajalmu saat ini, ha ha ha ...." ucapnya diiringi suara menggelegar dan sangat menyeramkan.


Suaranya yang parau mengisyaratkan jika ia memang sosok astral yang mempunyai kekuatan tinggi, tetapi kenapa ia menunggu kamar Dita? Itulah pertanyaan yang mengganggu pikiran Tito.


"Jadi kamu adalah pem-bu-nuh semua suami Dita terdahulu?"


"Betul sekali wahai anak manusia, dan kau beraninya menikahi permaisuriku!" gertaknya kembali.


Tito tersenyum sumringah, tanpa rasa takut ia berjalan mendekati makhluk menyeramkan itu.


"Aku sudah ma-ti, jadi kenapa aku takut akan ke-ma-ti-an?"


Makhluk tersebut terlihat semakin marah dan terpancing dengan ucapan Tito barusan. Ia pun menyerang Tito dengan kuku-kuku tajam di tangannya. Mencoba merobek apa yang ada dan mencabik-cabik barang apapun.


"Ha ha ha, makhluk buruk rupa, kejarlah aku jika kau mampu!"


Roh Tito melesat ke dalam perkebunan teh, tepat di mana kapan hari Dita jatuh tersandung tulang manusia. Ia yakin tulang di sana adalah milik seseorang yang berilmu tinggi. Buktinya tulang tersebut hanya menampakan diri pada orang-orang yang dipilihnya.


Tulang belulang yang tercerai berai itu kembali utuh dan bersatu. Tampak sekali jika ia menampilkan sosok wanita tua dengan pakaian Jawa menatap nyalang ke arah makhluk astral itu.


"Dasar wanita tua tidak tahu diri, beraninya kau mencampuri urusanku!"


"Hi hi hi, kau yang harusnya minta maaf kepadaku, karena kau mengusik tempat tinggalku!" ucapnya sambil menyerang makhluk menyeramkan itu.


SRASH ... SRASH


Kilatan cahaya beradu, menampilkan seberapa besar kekuatan yang mereka miliki masing-masing. Hingga suara adzan Isya' membuat keduanya menghentikan pertempuran mereka dan menghilang dari pandangan mata Tito.


Sementara itu di dalam kamar Dita. Mempelai wanita merasa aneh ketika suaminya tidak kunjung keluar dari dalam kamar. Ia pun segera menyusul dan masuk ke dalam.


"Apa Mas Tito istirahat di waktu Maghrib tadi?"


Pikiran Dita sudah merasakan firasat yang tidak enak. Buru-buru ia menutup pintu kamar dan menguncinya rapat. Dengan langkah tergopoh-gopoh ia mendekati tempat tidur miliknya dan langsung memeriksa denyut nadi suaminya.


Deg.


"Ke-kenapa ini terjadi lagi?" ucapnya dengan nafas tercekat.


Tubuh Dita luruh ke lantai. Pikirannya seketika kosong. Membayangkan ketika dirinya menjadi jadi janda untuk ke-empat kalinya membuat Dita kehilangan kesadarannya.


Roh Tito yang baru saja kembali terkejut mendapati istrinya tergeletak di lantai.


"Ayu, ada apa denganmu?" ucap Tito khawatir.


Ia segera mengecek nafas Dita, dan ternyata masih bernafas.


Sorot mata Tito menyadari jika tubuh Tiyo berada di atas ranjang, hingga ia bisa menyimpulkan sesuatu di sana.


"Mungkinkah Dita ...."


Bersambung


......................


Sambil nunggu up, jangan lupa mampir ke sini kakak.