Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 150. MISTERI RANI


Keserakahan, sikap iri dengki bisa membuat seseorang berada di jalur yang salah. Kurangnya iman seringkali membuat seseorang memilih jalan praktis dan menghasilkan banyak uang dengan bersekutu dengan bangsa Jin.


Sama seperti yang dialami oleh sahabat Dita. Kesulitan uang membuatnya memilih jalan pintas. Di depan sepasang makam yang tidak pernah terawat, kini ia sedang duduk bersimpuh di sana. Meratapi nasibnya yang sudah terlanjur salah.


"Maafkan aku, Pak, Buk. Aku anak yang tidak berbakti."


Tangisnya pecah, ia sungguh tidak menyangka jika takdir hidupnya menjadi lebih kelam dari sebelumnya. Bahkan lebih kelam dibandingkan dengan jalan hidup Dita. Jika Dita masih beruntung karena bertemu dengan orang-orang baik, hal itu tidak berlaku untuk Rani.


Jerat hutang piutang membawanya dalam keputusan asaan. Bisikan halus membawanya pergi jauh ke dalam hutan dan menjadi pengabdi setan.


FLASH BACK ON


Setelah menempuh perjalanan jauh selama puluhan kilometer dan melalui banyaknya rintangan tidak membuat Rani putus asa. Baginya lebih baik melewati jalanan gelap dan berliku itu dibandingkan dengan jeratan hutang dari rentenir.


Apalagi rentenir tersebut tidak kalah bringas. Bahkan ia mengancam akan memaksanya untuk menjadi istri yang ketujuh jika Rani tidak bisa membayar hutangnya.


Kini ia sudah sampai di sebuah tempat wingit dan keramat. Di hadapannya ada sebuah pohon beringin yang besar dan daunnya sangar rimbun. Di bagian tengah batangnya seolah terdapat lubang yang sangat gelap.


Kata kuncen Rani, di situlah makhluk yang sangat kuat itu tinggal. Hanya dengan menyerahkan hidup dan matinya, maka ia akan memberikan semua keinginan Rani. Antara percaya dan tidak tetapi Rani sangat yakin jika saat ini ia pasti akan berhasil.


"Jika manusia tidak bisa menolongku, maka hanya dia yang aku yakini dapat menolongku setelah ini."


Rani menangkupkan kedua tangannya lalu mengucapkan mantra yang sudah diberikan kuncen itu pada Rani sebelumnya. Konsentrasi Rani terhenti ketika sebuah suara lembut menyapanya.


"Gadis manis, untuk apa kau datang ke sini?"


"A-aku hanya ingin hidup bahagia, terlepas dari semua hutang yang membelitku. Aku lelah hidup miskin!"


"Ha ha ha, itu adalah hal yang mudah aku kabulkan. Angkat wajahmu dan bangunlah!"


Meskipun Rani ketakutan, ia tetap menengadahkan wajahnya ke atas. Memberanikan diri untuk melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya kali ini.


Sosok itu ternyata sama sekali tidak menyeramkan, justru sebaliknya ia sangat tampan dan gagah. Rani menyambut uluran tangan dari sosok laki-laki tersebut meskipun masih ada rasa takut yang menderanya saat ini.


"Kenapa gadis manis, apa kau masih merasa takut kepadaku?"


"Mungkinkah ia bisa merasakan rasa gugup yang aku rasakan?"


Namun, Rani sontak saja menggeleng. Mencoba menghilangkan keraguan di hati dan menggantinya dengan sebuah keyakinan. Ia justru kagum dengan sosok di hadapannya saat ini. Meskipun hidungnya sesekali mencium bau busuk, tetapi ia tidak memperdulikan hal itu.


"Yang penting aku kaya dan terbebas dari rentenir gi-la itu!" pekik Rani penuh rasa dendam dan amarah.


"Manusia yang sangat menarik, aku harus memilikimu!"


"Katakan apa yang kau pikirkan?"


"A-aku hanya ingin hidup tenang tanpa hutang."


"Baiklah akan aku kabulkan!"


Akal sehat Rani sama sekali tidak bekerja ketika berada di dekat makhluk itu. Harusnya ia sadar jika di tengah hutan, tidak akan ada manusia yang berani tinggal di sana. Apalagi ia sampai membuat sebuah rumah yang sangat mirip dengan sebuah istana. Sebagai manusia biasa seharusnya ia tahu jika tidak mungkin ada rumah sebagus itu di tengah hutan.


Rani yang biasanya penuh pertimbangan sebelum melangkah kini justru menjadi seorang yang penurut. Begitu percaya kepada orang yang baru saja ia temui. Ditambah lagi orang tersebut menjanjikan apa yang diharapkan oleh Rani. Seketika sosok di hadapannya menyeringai.


"Apakah kau mau menjadi istriku? Maka setelahnya aku akan membantu untuk menyelesaikan semua masalahmu itu."


Tanpa berpikir lebih panjang lagi, Rani berseru dengan bahagia.


"Tentu saja aku mau!" ucap Rani dengan binar kebahagian.


Sosok laki-laki itu tersenyum, ia lalu memeluk tubuh Rani dan menciumnya. Berontak, tentu saja tidak, Rani semakin menikmatinya.


"Terima kasih, Tuan."


Rani benar-benar bahagia. Ia tidak menyangka jika saat ini semua yang diharapkan olehnya sebentar lagi tidak akan menjadi sia-sia. Bahagia karena sebentar lagi ibunya juga akan sembuh.


Di sisi lain, seorang laki-laki yang bertindak sebagai kuncen merasa senang karena Rani telah masuk dalam perangkapnya. Setelah memastikan semuanya beres, kuncen tersebut segera turun gunung dan kembali ke rumahnya.


"Oh, iya aku harus pulang terlebih dahulu sebelum kita menikah, karena aku harus meminta restu dari ibuku."


"Tenang saja, aku akan mengantarkanmu pulang!"


"Sungguh?"


"Iya tentu saja, kenapa tidak? Bukankah kau adalah calon istriku?"


Rani tersipu dengan ucapannya. Apalagi lelaki itu akan menemaninya pulang dan meminta restu secara langsung pada ibunya. Lalu setelahnya Rani berniat untuk segera membawa ibunya pergi ke Rumah Sakit.


Ternyata mahluk yang sedang bersama Rani adalah sosok raja genderuwo. Ia memang suka mencari manusia-manusia yang minim imam untuk menjadi pengabdinya. Sama halnya dengan Rani yang mempunyai keberanian tinggi dan menerima pinangan dari raja genderuwo itu.


"Rumahku sangat jauh, Tuan. Apa tidak terlalu merepotkanmu?"


"Tentu saja tidak, jangan khawatir karena aku tidak akan membuatmu kelelahan. Aku mempunyai jalan pintas untuk cepat keluar dari gunung ini. Percayalah padaku."


"Sungguh?"


Lelaki di hadapannya berhasil membuat Rani mengangguk setuju. Di dalam pikiran Rani adalah segera menemui Ibunya dan menikah dengan lelaki tampan di sampingnya ini.


Esok hari adalah pernikahan dirinya dengan Rani, sehingga malam ini Jaka akan langsung mengantarkan Rani mengunjungi ibunya. Waktu semakin larut, kini perjalanan Rani dan Jaka tinggal selangkah lagi.


"I-itu rumahku, Tuan."


Jaka tersenyum, "Jangan panggil Tuan lagi, tapi sebutlah namaku saja, Jaka."


"I-iya, Mas Jaka. Setelah ini aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan Tuan."


Jaka memegang kedua tangan Rani. "Jangan meragukan cintaku, karena mulai kemarin kamulah penguasa hatiku."


Cup.


Jaka mengecup kening Rani. Seolah mendapatkan cinta yang sangat ia nantikan Rani semakin terhipnotis oleh pesona Jaka. Sementara itu di belakang Jaka terdapat puluhan anak buahnya yang mengawal. Tidak terlihat secara kasat mata tetapi mereka ada dan berjaha-jaga untuk raja mereka.