Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 178. PELATIHAN DANU


Saat ini Danu tidak memakai busana lengkap. Ia hanya memakai celana panjang dan berte-la-nja-ng dada. Satu persatu tangannya bergantian memukul ke depan.


Mencoba melenturkan otot di tangannya dan meluweskan gerakan tangan saat menyerang musuh. Pukulannya memang mengarahkan ke udara, karena ini baru latihan. Sesekali ia memasang kuda-kuda saat Kakek Danu mencoba menguji ilmunya.


"Berlatih dengan serius, ada banyak orang yang menunggumu untuk kembali," teriak Kakek Danu.


"Iya, Kek, tenang saja. Aku pasti akan berhasil," ucap Danu penuh rasa percaya diri yang begitu tinggi.


Melihat cucunya mulai berhasil menguasai ilmu baru, kakek Danu berniat untuk mengujinya.


"Bersiaplah Danu, Kakek akan menguras semua perhatian darimu."


Kakek Danu mulai mengeluarkan tenaga dalamnya hingga membuat Danu beberapa kali berguling ke depan dan ke belakang untuk menghindari serangan.


Kadang kala demi menghindari serangan yang lebih kuat dan dianggap tidak akan mampu dilawan oleh Danu, maka ia lebih memilih dari Kakek, Danu bahkan melompat ke atas dan mendarat di atas dahan.


Danu benar-benar menunjukkan sampai di mana kekuatannya. Beberapa hari tinggal dengan sang kakek, ilmu yang dimiliki oleh Danu sudah jauh meningkat. Sebuah senyuman tersungging di wajah Kakek Danu. Merasa puas dengan pencapaian Danu.


"Akhirnya aku bisa mewariska ilmuku ini padamu, Cu."


"Kenapa senyam-senyum sendiri, Kek?"


"Ha ha ha, mau tau banget atau tidak?"


"Kakek, jangan becanda, deh?"


"Sepertinya berlatih denganmu setiap waktu membuat kakekmu ini semakin terlihat awet muda! Makanya bisa becanda."


"Ha ha ha, kakek bisa saja!"


"Oh, ya ... kenapa akhir-akhir ini aku selalu merasa tidak baik-baik saja ya, Kek. Bahkan lebih sering mimpi buruk."


"Memangnya apa yang kamu mimpikan? Kenapa kamu terlihat begitu ketakutan?"


"Aku memimpikan jika seorang wanita yang aku cintai itu saat ini sedang terluka dan membutuhkan bantuanku. Apa karena aku terlalu terobsesi kepadanya?"


"Mungkin saja mimpimu itumemberikan sebuah firasat dan mungkin saja itu memang benar terjadi."


"Ha-ah, kok kakek bicara seperti itu? Apakah semua mimpi itu selalu terjadi?"


"Atau mungkin saja karena kamu terlalu mencintainya sehingga saat terjadi sesuatu hal buruk kepadanya kamu bisa merasakannya lewat mimpi."


"Bisa begitu ya, Kek."


"Maafkan aku, Cu. Sebenarnya ada sesuatu yang terpaksa aku sembunyikan darimu. Bahkan di kala semua ini berakhir aku juga harus menyembunyikan hal ini."


"Lagi pula ada dua makhluk yang sudah menyelamatkannya. Jika aku sampai mengijinkan kamu untuk datang ke sana, aku bisa pastikan kamu juga akan terluka. Apalagi ilmumu belum begitu kuat."


Di saat yang bersamaan, alam ghaib.


Jiwa Dita saat ini sedang berada di bawah Rani dan Jaka. Sepasang pengantin beda dunia itu berhasil mengikat jiwa Dita agar tidak bisa keluar dari alam ghaib.


Di ujung ruangan yang gelap ada sosok manusia tua yang sedang meringkuk dan pingsan karena berkali-kali di siksa oleh Rani. Hati nurani yang semula masih ada kini habis terkikis oleh kebencian.


Jiwanya telah mati, begitu pula dengan kebenciannya yang telah mendar*h daging. Bahkan kini Rani memakan apa yang dimakan oleh suaminya.


Tidak ada rasa jijik sedikitpun yang terpancar di dalam wajahnya. Namun, Rani sama sekali tidak pernah meninggalkan jiwa Dita sendirian. Baginya melihatnya kesakitan adalah sebuah tontonan gratis baginya.


Banyaknya makhluk halus yang menghirup aroma di tubuh Dita membuat Dita semakin melemah. Kedua bola matanya belum pernah terbuka sampai saat ini. Andai saja Dita sudah terbangun sudah pasti ia akan menjerit ketika mengetahui keadaan tubuhnya saat ini.


"Hm, sampai kapan kamu bisa bertahan Dita! Lihatlah di sekelilingmu, tidak ada orang yang mengetahui keberadaanmu saat ini."


"Aku sangat berharap jika kamu segera pergi menyusul para suamimu!" ucapnya penuh amarah.


Bahkan urat-urat nadinya terlihat dengan jelas.


"Jika aku tidak bisa menghabisi mu saat ini, maka jangan panggil aku Rani."


Secepat kilat Rani segera melesat untuk menyerang Dita hingga beberapa saat kemudian, tubuh Dita yang berada di Kediaman Handoko memuntahkan cairan berwarna merah pekat.


"Ha ha ha, rasakan pembalasan dariku."


Ketika Rani mencengkeram erat leher Dita, dari arah belakang dua cahaya berwarna biru dan putih tiba-tiba menyerang sosok Rani dari arah belakang.


"Menjauhlah dari cucuku!"