
Setelah kepulangannya dari Rumah Sakit, Dita sedikit merasa aneh dengan tubuhnya. Meskipun mereka sudah tidak diganggu oleh makhluk yang tidak kasat mata, tetapi ada banyak hal yang membuat Dita tidak bisa tenang seperti dahulu.
"Kenapa harus aku yang mengalami hal ini, padahal aku tidak pernah membuat siapapun celaka atau berniat buruk terhadap orang lain. Mereka sendiri yang datang dan menggangguku."
"Sejujurnya aku sangat ingin ada orang yang bisa mengerti bagaimana keadaanku yang sesungguhnya. Bukan seperti saat ini dimana aku harus menanggungnya sendirian."
Ingin ia mengatakan kejujuran kepada Fano, tetapi saat ini suaminya tersebut lebih suka menghubungi seseorang di luar sana daripada dirinya. Sikap Fano sangat berbeda sekali dengan saat pertama kali ia berusaha mengejar Dita.
"Kenapa baru beberapa hari menikah, kamu terlihat berbeda, Mas?"
"Apakah semua ini karena makhluk tidak kasat mata itu?"
Setelah menikah, atau lebih tepatnya setelah kecelakaan itu. Fano seperti menjadi sosok lain bukan seperti Fano yang dulu ramah dan perhatian.
Dita memang tidak menginginkan sentuhan dari suaminya. Sejujurnya ia begitu takut jika sampai harus kehilangan Fano lagi karena kutukan tersebut.
Apalagi ia belum bisa menghilangkan kutukan itu meskipun saat ini mereka telah memilih untuk pergi ke luar negeri. Ternyata hasilnya tetap sama, sosok itu terus mengikutinya kemanapun Dita pergi.
Tangan Dita mengepal, menahan rasa di hatinya yang terus bergemuruh hebat. Tangisnya hampir meledak saat ini.
"Sebenarnya apa yang salah dengan diriku? Kenapa banyak makhluk yang tidak kasat mata sangat menyukaiku. Lalu apa salahnya jika ada orang laki-laki yang menikah denganku dan kenapa mereka harus mati!"
Fano bukannya tidak peduli dengan keadaan Dita, akan tetapi dia lebih memilih bungkam karena tidak ingin membuat Dita banyak pikiran. Sementara itu, Fano juga berniat untuk menyembuhkan Dita dengan cara apapun. Meskipun harus dengan menggunakan tabib sekalipun akan ia jalani.
"Bukannya aku tidak mau menyapamu? Hanya saja aku masih memikirkan cara supaya kamu tidak terluka dengan semua kejadian yang terus membayangi kita sampai hari ini."
Sepasang suami istri baru itu tenggelam dalam pemikirannya masing-masing. Tidak ada kata di antara mereka, hanya keheningan dan keheningan yang mereka ciptakan sampai saat ini.
Angin berhembus dengan kencangnya dari sudut jendela, suasana dingin kembali memenuhi seluruh ruangan kamar Dita. Sementara itu obrolan antara Yuli dan Fano beberapa hari yang lalu mengatakan jika Dita memang sudah terbuka mata batinnya. Sehingga ia akan dengan mudah dapat melihat makhluk tidak kasat mata tersebut.
"Kenapa bisa begitu? Bukankah mata batin seseorang itu tidak akan bisa terbuka secara sembarangan?"
"Maka dari itu, leluhur Dita membuka mata batinnya agar dia tidak terlalu menyalahkan dirinya untuk semua hal yang telah terjadi saat ini."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk menjaga hal itu. Apa Tanta tahu jika aku terlalu mencintai Dita, hingga aku menerobos masuk ke dalam perputaran takdir cinta kami yang penuh resiko ini."
"Maaf, awalnya Tante mengira jika makhluk itu tidak akan pernah bisa mengikuti kalian pergi keluar negeri, tetapi jika hasilnya sama saja. Bukankah lebih baik kalian kembali ke tanah air?"
"Haruskah begitu, apa tidak terlalu beresiko?"
"Meskipun mereka tidak mengganggu tetapi Dita tetap merasa ketakutan yang disebabkan teror yang mereka berikan bisa membuat Dita semakin terteka. Oleh karena itu, saat ini istrimu lebih banyak berdiam diri daripada berbicara."