Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 34. LUKA ANEH


Sepulang dari perjalanan panjang bersama Dita, membuat Sam selalu terbayang wajahnya. Wajah seorang gadis yang kini katanya telah menjadi janda kembang. Sosok Dita semakin membuatnya jatuh cinta meskipun hanya beberapa jam bersama. Apapun statusnya saat ini, tidaklah penting baginya.


"Dita kamu semakin manis saja saat ini," gumam Sam menyandarkan tubuhnya ke sofa.


Sesaat kemudian, luka di tangannya berdenyut kencang. Untuk sesaat ia meringis karena hal itu.


Akan tetapi ia merasakan hal yang aneh, bekas gigitan ular di tangannya terasa lebih menyakitkan saat ini. Padahal saat bersama Dita tadi lukanya tidak sesakit ini.


"Aduh ...." keluh Sam ketika membuka balutan perban miliknya.


Rasa penasaran membuatnya harus membuka perban yang membalut lukanya. Meski perlahan, tetap saja sakit rasanya.


Namun, suaranya barusan membuat kakak perempuan Sam, Clara mendekatinya. Dari lantai atas ia segera turun untuk menghampirinya.


"Adek, kamu kenapa?" ucapnya dari arah tangga.


Kakak perempuan Sam yang kebetulan belum tidur segera turun ketika mendengar suara teriakan adiknya di lantai bawah. Ia takut terjadi apa-apa padanya, oleh karena itu ia segera turun ke bawah.


"Loh, tangan kamu kenapa, Dek? Kok bisa sampai membiru seperti itu?" tanyanya mulai khawatir.


"Kemarin di gigit ular!"


"A-apa? Kok bisa? Di mana?"


"Aduh, Kak. Bisa nggak sih tanyanya satu persatu, kan jadi bingung buat jawabnya."


"Cerewet, bisa diem nggak sih, kakak mau lihat seberapa dalam lukanya!"


Clara segera memeriksa tangan Sam, kebetulan ia adalah dokter. Selama adiknya pulang ia memang belum sempat ketemu, karena banyak pekerjaan yang menyita waktunya di Rumah Sakit.


Ia hanya mengetahui jika adiknya sudah pulang dari luar negeri, tetapi karena kesibukan masing-masing, membuat mereka tidak langsung bertemu. Meskipun begitu mereka tetap saling menghormati satu sama lain.


Namun, saat menyadari adiknya terluka ia menjadi panik. Baru beberapa saat ia kembali ia mendengar mobil berhenti di depan rumah, tetapi saat itu ia sedang berada di kamar mandi sehingga baru sekarang bisa melihatnya.


"Kamu dari mana aja kok sampai di gigit ular?"


"Ya sudah kalau nggak mau jawab juga nggak apa-apa, yang penting lukanya dibersihkan lebih dahulu lalu makan trus minum oba* antibiotik lebih dulu."


"Siap, Kak. Makasih."


"Hm."


Setelah itu Clara mengajak Sam untuk makan malam. Kebetulan Clara merasa lapar karena baru saja pulang lembur. Beruntung asisten rumah tangganya sudah menyiapkan makanan jika tengah malam pemilik rumah kelaparan.


"Makan yang banyak, minum oba* trus istirahat."


"Siap, Bu Dokter."


Selepas makan, Sam segera beranjak naik ke tempat tidur. Ia berusaha untuk memejamkan kedua matanya malam itu. Berdoa agar ingatan tentang Dita bisa hilang untuk beberapa waktu. Benar saja, sesaat kemudian ia sudah terlelap.


Sementara itu, hal sebaliknya sedang dialami oleh Rani. Selepas ia pulang, Rani langsung menceritakan hal itu pada keluarganya.


"Masa sampai begitu?" protes Ayah Rani.


Sedangkan Ibunya Rani sedang membawakan cemilan untuk pengganjal perut, lalu ikut mengobrol sebentar.


"Kalau memang begitu kejadiannya, lebih baik kamu semakin hati-hati saat dekat dengan Dita."


"Kenapa?"


"Entahlah, Nak, yang pasti kamu turuti saja permintaan dari Ibu barusan."


"Baik, Bu."


Ditayang kecapekan segera menghamburkan dirinya ke atas tempat tidur. Rasa lelah seketika menghujam dirinya setelah tadi ia berkutat dengan makhluk halus membuatnya sedikit takut dan lelah. Tidak seperti biasanya, Dita langsung tidur.


Keesokan harinya. Kesunyian pagi hari membuat Dita masih nyaman berada di atas tempat tidurnya. Hal kemarin, sukses membuat Dita kelelahan. Akhirnya hari ini sepertinya Dita akan cuti kuliah.