Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 100. BERJUMPA LAGI


Akhirnya setelah sekian lama berada di dalam pikirannya, hari ini ia bisa bertemu dengan Dita. Selama berhari-hari mengintai toko Dita, tetapi ia tetap tidak menemukannya. Beruntung hari ini Dita ke tokonya.


FLASHBACK ON


Dita memang tidak ke toko jika hari Jumat, karena ia akan lebih banyak menghabiskan waktunya mengunjungi makam-makam mendiang suaminya. Entah kenapa rasa bersalah Dita semakin besar ketika tidak mendatangi makam mereka.


Meskipun pada akhirnya ia akan merasakan keanehan saat mengunjungi makam mereka, tetapi ia akan lebih tenang ketika sudah pulang dari sana. Seperti hari ini, saat Dita berada di depan makam Bisma. Ada perasaan rindu yang menggelayuti dada Dita.


"Bagaimana kabar Mas di sana? Semoga Mas Bisma memaafkan semua kesalahan Dita, bukan maksud Dita membuat musibah ini terjadi."


"Dita merasa tidak tenang dengan kepergian Mas. Memang takdir tidak ada yang tahu, tetapi entah kenapa rasanya aku semakin merindukan kehadiran Mas di setiap malamku."


Dita menyeka air matanya. Ingin rasanya Dita memeluk nisan suaminya itu, tetapi ia merasa dirinya terlalu kotor. Alangkah lebih baiknya jika saat ini tidak terlalu banyak terlihat di makam itu, hanya saja Dita memang egois dan tidak memikirkan keselamatan dirinya.


Dari arah belakang mobilnya Dita tahu jika dirinya dibuntuti, hanya saja ia tidak mempermasalahkan hal itu dan memilih mendiamkannya.


FLASHBACK OFF


Melihat Dita keluar dari mobilnya, Fano lalu mengejar Dita. Susah payah menunggu kedatangan Dita ia tidak akan mau jika kehilangan kesempatan lagi.


"Maaf, permisi Nona."


Dita menurunkan kaca matanya lalu menoleh sebentar ke arah Fano.


"Maaf, Anda siapa?"


Tentu saja Dita tidak mengingat siapa lelaki di hadapannya itu karena ia memang tidak terlalu memperhatikan laki-laki lagi selain Danu. Apalagi keberadaannya sampai saat ini belum diketemukan.


Fano membungkuk hormat, "Saya Fano, saya hanya ingin meminta maaf atas perbuatan saya kapan hari menabrak Nona."


"Oh ...." tidak mau menanggapi hal lain lagi, Dita segera meninggalkan Fano sendirian


Fano tidak menyerah sampai di situ, ia tetap mengejar Dita.


"Eh, Nona tunggu dulu," ucap Fano sambil mengejar Dita.


"Maaf, urusan kita sudah selesai, saya sudah tidak mempermasalahkan hal itu, jadi ... Anda tidak usah khawatir."


"Bukan begitu, Nona. Tidak bisakah kita bicara sebentar?"


Dita yang melihat kegigihan Fano akhirnya memperbolehkannya masuk ke dalam ruang kerjanya. Apalagi ia seolah tidak akan pergi sebelum Dita menanggapinya.


"Iya."


Fano benar-benar merendahkan kedudukannya di hadapan Dita. Mendapatkan kesempatan untuk lebih lama bersama Dita sudah lebih dari cukup. Ia tidak mau kehilangan kesempatan kali ini. Fano yakin jika Dita bukan wanita yang mudah ditaklukkan. Oleh karena itu ia menggunakan cara itu.


"Ada kepentingan apa, sampai Anda terlihat sangat ingin bertemu saya?"


Dita melepas kacamata miliknya hingga kecantikannya semakin terlihat sempurna. Fano sampai tidak bisa menyembunyikan kekagumannya saat itu.


"Cantik ...." ucapnya lirih.


"Maaf, Anda bilang apa?"


"Ehem, tidak apa-apa, maaf Nona. Jujur kapan hari saya terburu-buru hingga tidak sengaja menabrak Anda. Namun saat saya hendak bertangungjawab Anda menolak bantuan saya."


"Maaf, saya sudah tidak apa-apa, jadi untuk apa Anda terus meminta maaf."


Dari atas almari, sosok kunti yang mengikuti Dita hendak menyentuh wajah lelaki tampan di hadapan Dita. Namun, saat ia hendak melompat, aura ruangan itu seketika mencekam.


Aroma anyir sangat menyengat, bahkan Dita bisa menciumnya. Seketika tubuhnya sudah meremang. Dita mengetahui kedatangan makhluk yang biasa membuat suaminya celaka.


"Kenapa dia datang lagi, apa lelaki di depanku ini juga menaruh rasa denganku?" gumam Dita.


"Tuan Fano, maaf sebaiknya Anda segera pulang. Saya menerima maksud baik Anda. Selamat pagi."


"Eh, ta-tapi ...."


Belum sempat Fano melanjutkan ucapannya, Dita sudah mendorong tubuh Fano keluar dari ruangannya. Tatapan aneh diberikan Lusi dan Nurul saat melihat tingkah atasannya itu.


Sementara makhluk berbulu lebat itu menyeringai saat melihat Dita menjauhi lelaki itu. Namun, aroma tubuh Fano sudah tercium olehnya. Bahkan tangan Dita sudah bersentuhan dengan kulit Fano. Itu artinya sebuah tanda telah tertoreh di dalam jalur kehidupan Fano.


"Hahaha ... tunggu kedatanganku wahai anak Adam ... hahaha ...."


Tawanya terdengar melengking, bahkan makhluk sejenisnya seperti kunti yang mengikuti Dita ketakutan saat dia datang. Apakah Fano target selanjutnya? Apakah Danu akan bertemu kembali dengan Dita?"


.


.


BERSAMBUNG