
Pertarungan hidup dan mati untuk Dita segera dimulai. Sosok Rani benar-benar ingin menyiksa jiwa Dita di dalam alam ghaib. Setidaknya dengan maksud mengurung agar Dita tidak bisa keluar dari alam ghaib untuk selamanya.
Sebuah senyuman tersungging di wajah Rani dengan wujud setengah manusia setengah setan. Bagi Rani jika Dita tersiksa maka Rani akan merasa bahagia dan bisa mati dengan tenang.
Beruntung leluhur Dita dibantu oleh sosok yang ditemui di kediaman Handoko datang di saat yang tepat. Ketika tangan Rani mulai mencekik leher Dita, keduanya segera menghantam tubuh Rani dari belakang.
"Arghhhh!"
Kedua cahaya berwarna biru dan putih tersebut menjadi satu dan menyerang tubuh Rani tidak hanya sekali bahkan berulang kali hingga membuat tubuhnya jatuh terlempar hingga beberapa meter. Menghantam sebuah pohon yang langsung tumbang seketika.
Suara yang dihasilkan bahkan mampu membuat hewan-hewan malam berlari karena ketakutan. Mencoba menyelamatkan diri dari tempat yang bisa mengancam jiwa mereka.
Rani mengusap cairan kental berwarna merah bercampur hitam yang keluar dari sudut bibirnya. Kuku-kuku hitam panjangnya mulai keluar. Tubuh yang semula mulus kini dipenuhi dengan bulu-bulu lebat berwarna hitam. Sorot matanya berubah menjadi merah menyalang.
"Dasar tua bangka beraninya menganggu urusanku!" teriaknya menggelegar.
Suara gemuruh yang timbul karena kejadian itu berhasil mengusik kedamaian malam hutan terlarang. Sontak saja puluhan pasang mata segera menoleh ke arah sumber suara.
Suami Rani yang semula sedang bersama dengan para bawahannya terkejut dengan serangan kedua cahaya yang datang secara mendadak dan mengejutkan berhasil merusak kediamannya.
Kedua cahaya itu benar-benar berhasil memporak-porandakan kediaman Rani dan bangsa lelembut yang berada di sana. Tentu saja penunggunya marah karena kejadian itu membuat ketenangan mereka terusik.
Sontak dalam sekejap mata, para makhluk yang semula berwujud seperti manusia tersebut kembali ke wujud aslinya karena merasa terancam.
Wujud penuh bulu dan kulit hitam legam dengan sorot mata merah dihiasi kuku-kuku yang panjang. Bersiap merobek siapa saja yang berada di hadapannya.
Sorot mata tajam dan menyalang mereka tujukan ke arah kedua cahaya yang masih berkelebat di atas sana. Berputar-putar dan mencari celah agar bisa kembali menyerang mereka.
Bukan hanya sampai di situ, gerakan yang lincah juga sorot mata yang bisa melihat dalam kegelapan, menunjukkan jika bangsa mereka benar-benar sakti mandraguna. Setelah mengukur kekuatan lawannya mereka bergerak ke atas mencoba menggapai keberadaan cahaya yang dianggap sebagai sebuah ancaman untuk kelangsungan hidup bangsa genderuwo.
Mendapati serangan mendadak, mereka bersama-sama menyerang makhluk-makhluk mengerikan itu. Namun, rupanya mereka masih menemukan kesulitan.
Keberuntungan berpihak pada Dita. Dalam wujud ini mereka tidak mudah dilukai. Terlebih lagi keduanya berwujud cahaya. Tidak ada kekuatan yang bisa menandingi mereka.
Terdengar beberapa jeritan dan teriakan dari bangsa genderuwo yang terluka akibat serangan dari kedua cahaya itu.
Suara mereka bagaikan bukti jika tidak selamanya bangsa lelembut seperti mereka bisa menang setiap saat. Kilatan cahaya itu semakin lama semakin cepat hingga membuat tumbang barisan genderuwo yang hendak menyerang kembali.
"Erghhhh!"
"Arghhh!"
Erangan, raungan dari mereka tidak terelakan lagi. Menjadikan malam semakin mencekam bagi siapa saja yang menyerangnya.
Mereka menyerang secara beramai-ramai. Jika dalam wujud manusia biasa, mungkin mereka akan kalah. Beruntung salah satu diantara mereka mengusulkan agar saat mereka masuk ke dalam alam gaib tersebut mereka menggunakan kekuatan dalam bentuk cahaya.
Terbukti saat ini kemenangan hampir mereka raih. Rani yang terluka dengan cepat ditolong oleh Jaka. Sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama luka Rani sudah sembuh kembali.
"Sama seperti biasanya aku hanya bisa mengandalkanmu, Mas," ucap Rani berterima kasih.
"Terima kasih, Dek karena telah mempercayaiku."
Sepasang makhluk menyeramkan itu kemudian segera menyerang dua kilatan cahaya tersebut. Bersama-sama untuk melindungi kaumnya yang sudah melindungi mereka sejak tadi.
Naas, kekuatan Jaka tidak bisa menandingi kekuatan leluhur Dita. Tubuhnya terbanting beberapa kali. Luka-luka menganga tidak terhiraukan lagi, karena bagi mereka kemenangan harus diraih seketika.
Melihat bangsa lelembut di hadapannya kalang kabut membuat sebuah ide kembali muncul.
"Ingat, Nyai ... kita harus segera mungkin membawa kita kembali ke alam manusia karena sebentar lagi matahari akan segera muncul."
"Baik, baiklah aku akan pergi sekarang. Biar aku yang melepaskan Dita."
"Jangan, biarkan saya yang menyelesaikan pertarungan ini dan Nyai yang menolong Dita."
"Baik, Nyai."
Merasa jika lawan mereka tangguh, maka jalan satu-satunya untuk melawan adalah dengan sebuah penyatuan Rani dan Jaka.
Saat penyatuan itu, leluhur Dita menggunakannya dengan menelusup ke bawah tempat jiwa Dita disekap. Rani dan Jaka memang lengah, hingga jiwa Dita berhasil dibebaskan tanpa sepengetahuan mereka.
Dalam sekejap mata, leluhur Dita berhasil memasukkan kembali jiwa Dita ke dalam tubuhnya. Saat ia hendak kembali ternyata pintu ke alam ghaib tertutup sempurna.
Leluhur Dita berhasil membawa Mbok Nem keluar dari dalam ghaib dengan cara lain. Serangan yang ia lakukan tepat mengenai tubuh Rani dan Jaka saat proses penyatuan.
Beberapa saat yang lalu ketika ia melihat sebuah kurungan angsa dan beberapa bilah bambu kuning tergeletak di atas tanah. Leluhur Dita teringat akan keberadaan Mbok Nem.
"Pasti Mbok Nem yang menyiapkan semua ini."
Tidak berselang lama ia segera mengambilnya.
Dengan segera ia melumpuhkan Rani dan Jaka yang sudah berbentuk genderuwo. Sebuah ledakan cahaya berhasil membuat kedua genderuwo itu tidak bisa bergerak dalam beberapa saat.
Diambilnya bambu berwarna kuning itu untuk ia gunakan saat mengikat semua kekuatan dari kedua genderuwo itu. Saat mereka lemah, ia berhasil mengikat kaki dan tangannya ke dalam bambu kuning secara bergantian. Sementara itu tubuh keduanya sudah terikat ditubuh kedua Angsa Keling.
Perlahan tapi pasti mereka akan tersiksa karena hal itu dan merasa panas hingga pada akhirnya kekuatan keduanya akan hilang. Sebenarnya bisa saja Mbok Nem langsung membakar keduanya. Akan tetapi setelah dipikir-pikir lebih baik menyiksa mereka terlebih dahulu. Baru setelah puas akan dibakar dan dibuang ke lautan.
Mbok Nem benar-benar menyiapkan hal itu secara matang. Tidak membutuhkan waktu lama Rani dan Jaka sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga kemenangan berhasil diraih oleh pihak Dita.
Melihat pintu ke alam manusia akan segera tertutup keduanya segera masuk dan tepat bersamaan dengan suara adzan subuh mereka berhasil kembali ke dunia manusia.
Meksipun Mbok Nem pingsan, tetapi ia berhasil kembali ke dunia manusia.
"Alhamdulillah," seru keduanya lalu sejenak kemudian hilang bersama sinar mentari pagi yang mungil di ufuk timur.
"Biarkan Mbok Nem yang menyelesaikan semua ini. Kita sebaiknya segera pergi."
Sesaat kemudian di Kediaman Handoko hanya tertinggal Dita, Mbok Nem dan juga Nyonya Sekar. Dari sekian banyak manusia yang terbangun lebih dahulu tetaplah Mbok Nem.
Meskipun tubuhnya penuh luka, Mbok Nem bersyukur ia tetap bisa selamat. Dengan langkah tertatih, beliau berjalan ke kamar Dita.
Perlahan ia membuka daun pintu kamar junjungannya dengan sangat hati-hati. Ketika melihat tubuh Dita terbaring di atas tempat tidur, Mbok Nem merasa lega.
"Terima kasih Nyai telah menolong saya dan Den Ayu."
Tidak sampai di situ, Mbok Nem bergegas mendekati tempat tidur Dita lalu melihat kondisi junjungannya itu dengan seksama. Betapa terkejutnya ada sebuah noda merah bercampur hitam di atas bantal.
Mbok Nem mengusapnya, lalu mengendusnya perlahan.
"Masih segar, berarti Den Ayu baru saja muntah da-rah?"
Tangan Mbok Nem gemetar. Lalu ia segera mengambil tindakan awal.
"Simbok akan berusaha menyembuhkanmu, Den Ayu."
Dengan mengerahkan beberapa tenaga dalamnya, Mbok Nem bersiap memulihkan kesehatan Dita. Mulutnya komat-kamit merapal sebuah mantra penyembuh. Lalu sesudahnya dengan telapak tangan mengarah ke dada Dita, Mbok Nem mulai bereaksi.
Beberapa kali Dita kembali muntah da-rah, tetapi wajahnya tidak sepucat tadi. Kulitnya mulai memerah kembali. Suhu badannya yang tadinya dingin kini mulai hangat, seolah aliran dara-hnya mulai lancar.
"Alhamdulillah, sek ya Den Ayu ... biarkan simbok membuatkan rebusan air jahe hangat untukmu."
Mbok Nem bergegas menidurkan kembali tubuh Dita lalu membersihkan bekas muntahannya tadi. Menyelimutinya dengan selimut baru yang lebih hangat.
"Istirahatlah dulu, Den Ayu. Simbok segera kembali."