Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 118. LAMARAN


Tanpa Dita dan keluarganya sadari, ternyata ada salah satu pihak Keluarga terpandang dari desa sebelah datang secara rombongan untuk melamar Dita. Mereka datang beriringan dengan membawa hantaran lamaran di masing-masing tangan mereka.


Mbok Nem yang kebetulan hendak menutup pintu, kini berlari tergopoh-gopoh menuju ruang tengah. Bermaksud ingin mengatakan jika di depan ada banyak orang yang ingin bertamu hari itu.


"Kanjeng Ibu, maaf ...."


Nyonya Sekar yang sedang membaca koran menoleh ke arah pembantunya itu.


"Ada apa Mbok, kok terburu-buru sekali?"


"I-ini, Kanjeng Ibu. Ada tamu dari desa sebelah mau bertemu dengan Kanjeng Ibu dan Bapak."


Kening Nyonya Sekar berkerut.


"Si-siapa? Apa temannya Bapak, ya?"


Nyonya Sekar tampak bangkit dan berdiri ia segera menyuruh Mbok Nem untuk memanggil suaminya.


"Ya sudah, panggilkan Bapak, biar saya bersiap di sini."


Sementara itu, ia merapikan pakaian dan bersiap untuk menunggu suaminya. Di ruang belajar, Dita mendengar ada beberapa mobil yang berhenti di halaman rumah. Rasa penasaran membuatnya bangkit dari kursi dan berjalan ke arah jendela.


"Siapa yang datang?"


Dita menyibak tirai jendela kamarnya. Ia mengintip dari celah jendela kamar untuk melihat siapa yang datang sore itu. Sesaat kemudian pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Malam Den Ayu ...." panggil Mbok Nem dari luar.


"Masuk, Mbok pintu nggak aku kunci."


Mbok Nem membuka pintunya. Seperti biasa ia menunduk saat berkata-kata. Hal itu ia jaga untuk mempertahankan tradisi sopan santun.


"Maaf Den Ayu, Kanjeng Ibu sama Bapak menyuruh saya untuk memanggil Anda keluar!"


"Untuk menemui para tamu, ya?"


"Iya, Den Ayu."


"Ya sudah, biar aku ganti baju dulu. Simbok keluar saja dulu."


"Baik, Den Ayu."


Dita merasakan hal lain saat ini. Perasaannya terasa sangat tidak nyaman. Tiba-tiba telinganya berdengung.


"Keluarlah, biar aku yang akan mengatasi sosok itu."


"Si-siapa kamu?"


Saat Dita menoleh sama sekali tidak terlihat siapapun. Hanya saja kaca riasnya bergetar. Membuat Dita mengerutkan keningnya.


"Biarkan saja, mungkin aku yang terlalu capek," gumamnya.


Setelah bersiap, Dita segera bergabung dengan kedua orang tuanya. Saat Dita muncul para tamu seolah menatap Dita dengan penuh kekaguman.


"Cantik banget," gumam mereka.


Nyonya Sekar menoleh dan mengajak Dita untuk duduk.


"Nah, ini anak kami satu-satunya, namanya Anindita Puspa Ayu Batari."


Saat pujian silih berganti, perasaan Dita semakin tidak enak.


"Apa mereka mau melamar lagi?"


Terlihat sekali dari barang yang mereka bawa, Dita bisa melihat banyaknya barang seperti hantaran lamaran.


"Maaf, sebelumnya, Ada apa ya, Bapak dan Ibu datang kemari?"


"Begini Nak, kami ingin mengutarakan bahwa kedatangan kali ini dengan niat untuk melamar Nak Dita sebagai istri kedua buat saya."


"Ha-ah, maksud Bapak?"


Bukan hanya Dita yang tercengang dengan ucapan seorang lelaki yang cukup usia itu. Dita tidak menyangka jika lelaki di hadapannya itu akan menjadi suaminya kelak


"Maaf, tetapi saya itu janda, Pak. Bahkan ketiga suami saya sudah meninggal semua. Apa Bapak tidak takut?" ucap Dita secara terus terang.


Ucapan Dita kali ini ia ucapkan dengan sejujurnya. Ia tidak mau jika pada akhirnya ia dipaksa menikah setelah ini. Baginya sudah cukup ia menikah selama tiga kali dan semuanya berakhir dengan kematian.


Para tamu dan kedua orang tua di hadapannya hanya saling memandang satu sama lain. Mereka tampak terkejut dengan keberanian Dita yang berkata terus terang.


"Kalau begitu, kami permisi. Maaf menganggu malam-malam. Sepertinya kami salah alamat!" ucap ibu dihadapan Dita dengan wajah menegang.


Belum sempat kedua Dita berkata, ia sudah meraih tangan suaminya dan mengajaknya keluar. Baru setelahnya ia disusul oleh para pembawa barang lamaran tadi.


Seketika suasana ruangan tamu terlihat menegang. Dita yang sudah tidak kuat, segera berpamitan dan memilih kembali ke dalam kamar.


"Maaf, Pak, Buk. Dita permisi mau masuk kamar lagi."


Nyonya Sekar dan Tuan Handoko hanya saling berpandangan. Mereka tidak berani memaksakan kembali pendapatnya kepada Dita.


......................


Beberapa saat yang lalu, setelah Dita mengalami banyak hal aneh, kedua orang tuanya mengajak Dita ke seorang Kyai. Ia melepaskan sosok kunti yang bergelayut manja di salah satu kaki Dita.


Dita menolak perjanjian yang ditawarkan si Kunti. Dita tidak mau berurusan dengan hal-hal mistis kali ini.


Di tepi jurang Danu diselamatkan wanita paruh baya di sebuah gubuk miliknya. Wanita itu merawat Danu dengan penuh kasih sayang. Hanya saja wanita itu tidak bisa berbicara.


.


.


Sambil menunggu up, jangan lupa baca novel rekomendasi dari othor di bawah ini


Blurb


Sudah tiga tahun Bara dan anaknya ditinggalkan oleh sang istri, Silvia yang lebih memilih mengejar karir daripada mempertahankan rumah tangganya. Kondisi perekonomian Bara jauh meningkat, namun tidak memiliki wanita di sampingnya. Zack menyarankan agar Bara mau menikah lagi dan mengakhiri kesendiriannya. Namun, Bara masih trauma menjalin hubungan lagi dengan wanita.


Retha, seorang guru TK dengan segala permasalahannya, terpaksa harus mengambil pekerjaan sampingan sebagai pemberi layanan pijat plus plus demi membayar hutang sang ayah dan biaya sekolah adiknya.


Kedua insan yang saling membutuhkan itu akhirnya dipertemukan saat Retha ternyata mendapat panggilan untuk melayani Bara yang ternyata ayah dari muridnya. Meskipun memalukan, Retha tetap melakukan pekerjaannya demi uang. Sementara, Bara juga membutuhkan seorang wanita untuk mengisi kekosongan hidupnya.


Bagaimana kelanjutan kisah Bara dan Retha? Akankah cinta mereka berlabuh?