
Sebagai masyarakat Jawa yang masih memegang teguh ajaran leluhur, semua yang sudah terjadi adalah suratan takdir. Semuanya sudah tergambar jelas dalam garis tangan setiap manusia.
Meskipun terlihat jika semuanya adalah hal yang mustahil dan di luar nalar, akan tetapi banyak yang sudah menilai jika semua ini harus di hormati.
"Kapan jenazah Fano akan dibawa pulang?"
"Sepertinya saat ini mereka sudah dalam perjalanan pulang, kok."
"Baiklah kalau begitu, setelah acara pemakaman Fano selesai nanti. Biarkan aku membawa Dita pergi dari kota ini dan kita sembuhkan dia!" ucap Tuan Handoko dengan sungguh-sungguh.
Tentu saja ucapan dari suaminya membuat Nyonya Sekar bertanya-tanya tentang apa yang dimaksud oleh suaminya barusan.
"Maksud Bapak apa, kenapa berbicara seperti itu?"
"Aku yakin Dita pasti sembuh, Bu."
"Pak, Dita itu wanita bahu Laweyan, jadi akan terus memakan korban sampai tujuh kali hingga kutukan itu hilang dengan sendirinya."
"Nggak, Bapak tidak percaya akan ucapan darimu. Aku yakin jika Dita bukan wanita bahu Laweyan."
"Jangan menentang takdir, Pak. Mungkin memang benar itulah takdir Dita. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan semua kebaikan untuknya. Akan tetapi aku sangat menyangsikan hal itu bisa terjadi tanpa hambatan."
"Kalau kamu tidak tahu caranya jangan ikut berkomentar. Aku benar-benar sudah tidak punya malu."
"Pak, sabar. Aku tidak bermaksud menyangkutkan hal ini dengan bapak, tetapi aku hanya mengingatkan jika hal seperti ini jangan sampai terulang lagi."
"Harusnya kita bisa bertahan sama seperti Dita yang terus berusaha kokoh di depan semua orang."
"Terserah, Bu. Aku sudah terlalu capek hari ini."
Tuan Handoko terlihat uring-uringan kali ini. Bahkan ia tidak merasa dibutuhkan.
"Sungguh, Nona kecil kenapa ada di sini?"
Secara resmi Dita meminta maaf kepada pihak-pihak yang telah direpotkan oleh mereka.
"Tentu, mari ikut dengan saya."
Tampak beberapa anggota tenaga medis meminta datang secara bersamaan dengan sebuah peti mati yang akan digunakan oleh jasad Fano sampai kembali ke tanah air.
Nyonya Kirana sepanjang jalan terus menggandeng tangan Dita terlalu erat, hingga membuatnya mengaduh.
"Bagaimana ini, kenapa aku merasa tidak bisa marah ketika melihat Dita baik-baik saja."
"Sudahlah, jangan banyak bicara, jika iya maka kami akan segera pergi."
"Semuanya sudah siap Nyonya dan Tuan. Penerbangan kita sebentar lagi."
Dita mengangguk lalu segera meminta untuk masuk ke dalam mobil. Benar saja tidak lama kemudian mereka sudah berada di bandara dan beberapa saat kemudian pesawat yang mereka tumpangi untuk menuju ke Indonesia akan segera landing.
Berjuta kenangan Dita tinggalkan di kota yang penuh suasana romantis itu. Akan tetapi tempat di mana dan kejadian saat Fano meninggal tidak bisa terhapus dalam memori Dita.
"Selamanya kamu akan tetap menjadi nomor satu di hatiku Mas. Meskipun kamu sudah tiada, aku tidak akan melupakan rasa cinta yang pernah ada di antara kita berdua."
"Semua kenangan antara kita akan selamanya abadi di dalam hatiku dan aku akan merawat cinta kita dengan sepenuh jiwa raga. Selamat jalan Mas. Semoga kamu tenang di sana dan bahagia."
"Semoga kita bisa bertemu nanti di surgaNya Allah, Aamiin."
Sementara itu Nyonya Kirana hanya bisa memandang Dita dengan kesedihan.