
Nenek Romlah buru-buru masuk ke kamar Danu. Ia melihat pecahan gelas yang berserakan di depan tempat tidur Danu.
"Ada apa, Cu?"
Danu masih terdiam ia masih belum bisa mencerna apa yang barusan terjadi. Tubuhnya tiba-tiba saja gemetar ketika Nenek Romlah masuk.
Melihat ada sesuatu yang tidak beres pada cucunya, Nenek Romlah lalu memanjatkan doa-doa kepada Yang Maha Kuasa. Sesaat kemudian badan, Danu gemetar, matanya menyala merah dan tubuhnya terangkat ke atas hampir menyentuh langit-langit kamar.
Entah dari mana, tiba-tiba saja angin kencang berhembus. Membuat Danu semakin melayang tinggi dan sekali berputar-putar. Danu cekikikan, lalu sesaat kemudian ia berteriak, tetapi Nenek Romlah sama sekali tidak ketakutan.
Saat Nenek Romlah memanjatkan doa-doanya, Danu malah tertawa terbahak-bahak. Sepertinya Danu dirasuki oleh makhluk halus. Ia sesekali menghujat lalu tertawa menertawakan nenek Romlah yang tidak dapat membentengi cucunya sendiri.
"Dasar nenek tua, beraninya berniat untuk melawanku!" gertak makhluk itu.
Nenek Romlah tidak merasa terganggu akan hal tersebut. Bahkan saat ini, ia semakin memanjatkan doa-doa sampai akhirnya makhluk tersebut yang kini mulai melemah kekuatannya. Tubuh Danu berangsur turun ke bawah, namun ternyata makhluk tersebut memanfaatkan situasi saat Nenek Romlah lengah.
Saat beliau mulai mendekati Danu, makhluk tersebut menyeringai lalu mulai mencakar tubuh Nenek Romlah. Hampir saja wajahnya terkena cakaran tersebut andai saja ia tidak menghindar. Akan tetapi tangan kanannya terkena cakaran yang lumayan dalam hingga membuat Nenek Romlah mengaduh.
Setelah berhasil menyerang Nenek Romlah, makhluk tersebut segera pergi meninggalkan mereka. Tubuh Danu kejang lalu setelahnya ia terhempas di atas tempat tidur.
.
.
Dita yang baru saja terbangun mengusap gusar wajahnya. Ia ketakutan karena baru saja bermimpi buruk segera meraih air putih yang tersedia di atas nakas.
Kriet ... kriet ... kriet ....
Daun jendela Dita yang terbuat dari anyaman bambu bergerak maju mundur, membuat angin malam berhembus dengan leluasa. Hawa dingin yang merasuk membuat Dita gamang. Mulanya ia ingin buang air kecil, tetapi hal itu ia urungkan sehingga ia lebih memilih untuk kembali tidur.
Namun, suasana semakin mencekam. Dita merasa tubuhnya seolah ada yang menimpa. Nafasnya tercekat, awal mulanya kakinya terasa ada yang memegang, lalu perlahan naik dan sampai di mana wajah Dita terasa panas. Dari dalam selimut ia bisa merasakan hembusan nafas makhluk yang berada di atas tubuhnya.
"Rani, bangun ... tolongin!" ucap Dita di dalam hati.
Rani yang tertidur di sofa kamar Dita, berteriak histeris ketika melihat penampakan sosok Dita yang sedang berada di bawah kungkungan makhluk hitam dengan tubuh penuh bulu itu.
Matanya beralih kepada Rani yang menatapnya.
"Ditaaaa ... awas di atasmu ...."
Rani ternyata tidak takut dan segera menghampiri Dita lalu menimpuk makhluk tersebut dengan barang seadanya di sana.
Mereka terlihat sangat menjijikkan di dalam pikiran Rani. Akan tetapi Rani tidak takut akan hal itu. Ia segera memanjatkan doa-doa agar Dita selamat.
"Ya Tuhan, selamatkan Dita, semoga saja ia tidak kenapa-napa saat ini. Aamiin."
Dita yang tercekat nafasnya secara tidak sadar mengigau menyebut nama Wisnu dan Yudistira.
"Tolong, jangan sentuh aku, argh!"
.
.
Sambil nunggu up jangan lupa mampir ke sini.