Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 137. MISTERI 2


Kediaman Handoko memang terkenal keramat bagi sebagian orang. Nenek buyut Dita memang seorang yang kejawen dan penyembah sesuatu yang ghaib.


Dulu setiap bulan purnama, di gazebo itu akan diadakan sebuah persembahan yang dipimpin Nenek Buyut Dita dengan asisten Mbahnya Mbok Nem sebagai kuncen. Mereka tidak pernah meninggalkan tradisi tersebut. Entah untuk apa, tetapi Dita tidak diberi tahu alasannya.


Hal itu berlangsung selama beberapa tahun sampai Nenek Dita meninggal, setelahnya baru tidak ada yang meneruskan tradisi itu. Terlebih lagi rumah itu langsung sepi tidak berpenghuni setelahnya.


Namun, rupanya tradisi itu tetap dijaga oleh sang kuncen yang terkadang datang ke Kediaman Handoko sebulan sekali tepat di bulan purnama. Beliau melakukan hal itu untuk menjaga amanat dari Mbah Buyut Dita.


Keangkeran tempat tersebut terlihat dari bangunan rumah dan juga beberapa peninggalan yang berada di rumah itu. Sampai saat ini ada sebuah larangan yang mengatakan jika tidak ada satu orang pun yang boleh memindahkan atau mengganti barang lama dengan barang baru di rumah itu.


Hampir semua barang yang ada di sana dibuat dari kayu Jati Belanda. Setiap ornamen yang terukir di kayu ada sebuah makna yang tersembunyi. Namun, semua itu dikerjakan oleh pengrajin khusus yang sudah mengabdi kepada Keluarga Handoko.


Sebuah gazebo yang berada di halaman belakang memang sering digunakan untuk upacara penyembahan pada leluhur di sana. Maka dari itu ketika kita berada di sana, suasana akan terasa wingit.


Dita yang teringat akan hal itu segera mengajak suaminya pergi, karena setelahnya sudah pasti tempat itu akan digunakan oleh Mbok Nem sebagai tempat sesajian di letakkan.


Dita tidak langsung mengatakan hal itu tetapi ia mencari sebuah alasan yang masuk akal, agar suaminya mengikutinya ke kamar.


"Mas, balik kamar aja yuk, aku lelah."


"Ya sudah, ayo!"


Tito kembali memapah istrinya kembali ke kamar. Beberapa saat kemudian, benar saja Mbok Nem datang dan segera membersihkan area gazebo.


Pertama ia menyiram ke-empat tiang penyangga gazebo itu dengan air kembang. Lalu setelahnya baru di bungkus kain berwarna merah.


Mbok Nem juga menyiapkan sebuah nampan berisi kembang tujuh rupa yang kelopaknya baru saja dipetik masih segar, dan tidak rontok. Kelopak bunga kantil yang di beli juga belum ada yang mekar, masih kuncup semua.


Tidak lupa kemenyan yang sudah dibakar di sebuah cawan. Setelahnya beberapa bubur dari beras dan ketan ditaruh dalam lima wadah dan dibawa dengan tampah diletakkan di tengah gazebo. Di sampingnya kembang tujuh rupa dengan di tengah-tengah ada ayam cemani yang dimasak menjadi ingkung.


Sebagai pelengkap ada empat macam air minum yang berada di empat gelas kecil. Ada wedang teh, wedang bubuk (kopi), air putih matang, dan air yang berisi kelopak kembang mawar utuh, kantil kuncup tiga biji dan bunga kenanga lima biji, semuanya harus ada bagian yang terendam dan yang keliatan dari atas.


Gedang raja setangkep diletakkan di atas nampan sebagai penutup. Mbok Nem tidak memerlukan siapapun untuk membantunya melakukan semua itu.


Ia begitu paham dengan dunia kejawen. Sehingga pihak Keluarga Handoko hanya terima beres saja. Setelah semuanya dirasa cukup dan tidak ada kekurangan, Mbok Nem segera memulai acara sajen.


Beliau mengatupkan kedua tangannya di depan keningnya dan berdoa di sana. Mulutnya komat-kamit membaca mantra.


Beberapa saat kemudian angin berhembus sangat kencang kencang. Kain penutup gazebo saja sampai melambai-lambai karenanya. Hampir saja hembusan angin membuat api di cawan padam, tetapi itu tidak terjadi.


Tatanan kembang yang tadinya rapi kini berserakan dan menjadi layu seketika. Jika hal itu terjadi, artinya penunggu gazebo sudah datang dan siap menyantap semua hidangan yang tersaji.


Aroma kemenyan yang terbakar, membuat hawa mistik sangat terasa hingga ke kamar Dita. Namun, Dita sama sekali tidak terusik.


Meskipun Tito pada dasarnya hantu, tetapi ia tidak menyukai bau kemenyan. Hingga tanpa sadar ia menutup hidungnya. Dita terkikik melihat suaminya bersikap demikian.


"Kamu kenapa, Mas?"


"Aku nggak suka bau kemenyan, Ayu."


"Ha ha ha, hantu kok nggak suka bau kemenyan."


"Jadi kamu ngatain aku hantu?"


"Lah, kan bener, Mas?"


"Tapi nggak gitu juga kali!" Tito langsung membuang muka dari Dita.


Ia merasa bersalah karena menyinggung suaminya, tetapi ia heran, kenapa Ibu mertuanya tidak segera mengambil Tiyo?


"Mas, maaf ya, bukan maksudku untuk melukai hatimu."


"Hm."


"Mas, bolehkah aku bertanya tentang sesuatu?"


"Iya, katakan saja."


"Bukankah kata Mas, nggak boleh berada di dalam tubuh Tiyo lebih dari tiga hari, kenapa sampai sekarang Ibu tidak ke sini?"


Tito seketika menoleh, ia seolah baru diingatkan tentang sesuatu hal.


"Bagaimana kalau kamu membawaku ke Rumah Sakit, bukankah di sana ada peralatan yang bisa membantu Tiyo bernafas?"


Dita mengangguk. "Tapi, Mas, mobilnya nggak ada."


"Pakai ojek online aja gimana, aku takut jika berlama-lama di dalam tubuh ini nanti aku bisa musnah."


"Sebaiknya memang begitu, kita lebih baik antisipasi sebelum semuanya terlambat."


"Ya sudah, bagaimana kalau selepas Dzuhur kita berangkat?"


"Baiklah, aku ikut saja, Mas."


Tidak lama kemudian, Mbok Nem sudah selesai melakukan ritualnya di halaman belakang. Bahkan beberapa perlengkapan sesaji sudah ia bereskan.


Gazebo itu sekarang sudah bersih sama seperti sebelumnya. Hanya saja aroma mistik masih kental terasa. Semua barang yang digunakan tadi langsung dicuci bersih oleh Mbok Nem. Sementara itu makanan matangnya di taruh di bawah gazebo. Mungkin besok baru di ambil lagi.


"Mbok, sudah selesai kah?"


"Sampun, Den Ayu. Sekarang simbok mau masak buat kalian."


"Nggak usah banyak-banyak, Mbok. Nanti sehabis Dzuhur aku sama Mas Tito akan pergi."


"Loh, pergi kemana, Den Ayu. Bukankah Kanjeng Ibu sama Bapak melarang Den Ayu pergi sebelum sepasar?"


"Aturan itu tidak berlaku untuk aku lagi, Mbok. Bukankah Mbok sudah tahu siapa Mas Tito?"


Pertanyaan yang dilontarkan Dita seolah sedang menjebak Mbok Nem yang notabene sangat sensitif terhadap makhluk selain manusia.


"Iya, Den Ayu," ucapnya sambil menunduk.


"Jadi seharusnya Mbok bisa membantuku?"


Mbok Nem menengadahkan wajahnya.


"Bantu apa, Den Ayu?"


"Bantu aku untuk ...."


BERSAMBUNG


......................


Sambil nunggu up, jangan lupa mampir ke sini Lo bestie, pasti suka