Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 136. MISTERI KEDIAMAN HANDOKO


Suasana kembali mencekam tatkala kaki Mbok Nem ada yang memegangnya hingga membuatnya terjatuh. Padahal jelas dihadapannya tidak ada benda apapun, bersih tidak ada benda ataupun barang yang menghalangi ataupun orang lain yang berada di dapur kecuali dirinya.


Samar-samar Mbok Nem mendengar lantunan sebuah lagu Jawa dari arah gazebo.


"Kanjeng Nyai?" gumam Mbok Nem.


"Apa ada yang menyinggung beliau?"


Meskipun Mbok Nem orang baru di sana, tetapi ia mempunyai hubungan dengan leluhur yang pernah menghuni kediaman Tuan Handoko. Sehingga sedikit saja ketidak beresan di sana, ia sudah paham.


Seketika ia memainkan jarinya, mencoba menghitung sesuatu.


"Astaga, hari ini adalah hari Naas Kanjeng Nyai. Bagaimana aku bisa lupa?"


(hari Naas/ hari apes adalah hari dimana seseorang berada di titik kelemahannya)


Mbok Nem segera mendatangi kamar Dita dan meminta ijin pada Tito untuk pergi keluar sebentar. Ada hal yang harus ia selesaikan terlebih dahulu sebelum semuanya terlambat.


"Ya sudah, tapi jangan lama-lama, ya Mbok, saya nggak bisa masak soalnya."


"Iya, Den Bagus."


Setelah mendapatkan ijin, Mbok Nem bergegas melangkah pergi keluar. Tujuan utamanya adalah pergi ke pasar tradisional untuk membeli kembang dan beberapa keperluan untuk sesajen.


"Waktunya mepet, tapi nggak papa, belum sampai tengah hari."


Beruntung Mbok Nem mempunyai tukang ojek langganan yang selalu siap untuk mengantarkannya ke berbagai tempat. Tidak lama kemudian ia pun sampai di sana. Mbok Nem membeli beberapa kembang dan menyan. tidak lupa ia membeli ayam cemani.


Ketika melihat barang belanjaan Mbok Nem yang banyak membuat Dimas segera membantunya.


"Tumben beli barang belanjaan yang banyak, Mbok?"


"Iya, buat acara wetonnya Kanjeng Nyai."


"Oh."


Meskipun banyak pertanyaan yang menghinggapi, tetapi Dimas tidak berani bertanya hal banyak. Ia lebih memilih diam dan segera membawa kembali Mbok Nem ke kediaman Handoko.


Dari kejauhan memang rumah itu tidak nampak angker, tetapi bagi sebagian orang banyak yang tidak mau berurusan dengan mahluk tak kasat mata yang menghuni rumah itu karena mereka tahu asal usul rumah tersebut.


"Sudah sampai, Mbok."


"Makasih, ya Nak Dimas. Mbok masuk dulu."


Dari kejauhan terlihat jika Tito menunggu kedatangan Mbok Nem. Matanya berkaca-kaca seperti ingin mengatakan sesuatu. Hingga pandangan mereka bertemu dan membuat bulu kuduk Dimas merinding.


"Kaboooorrr!" teriaknya dalam hati.


Ia segera melajukan sepeda motornya dengan cepat. Ia tidak mau kepikiran akan rumah tadi.


Sementara itu sosok Tito tersenyum menyeringai ketika melihat Dimas melesat pergi dengan buru-buru.


"Kenapa aku merasa dia mengikuti," gumam Dimas.


Dengan segera Dimas melafalkan ayat kursi agar hatinya menjadi tentram. Beruntung di persimpangan jalan suasana sudah tidak sesepi tadi.


Mbok Nem menunduk, terlihat di samping kanan dan kiri tangannya membawa barang belanjaan yang cukup banyak.


"Iya, Den Ayu. Simbok mau bikin weton buat Kanjeng Nyai."


"Oh, ya sudah kalau begitu."


Dita kembali melajukan langkahnya ke halaman belakang. Sedangkan Mbok Nem meneruskan langkahnya ke dapur.


"Kamu nggak merasa aneh dengan sikap Mbok Nem, Sayang?"


Dita menggeleng, "Enggak, Mas. Buat apa, lagian aku percaya sama dia kok. Orangnya nggak aneh-aneh."


Tidak lama kemudian Mbok Nem datang dengan membawakan dua bungkus bubur ayam yang masih hangat. Sontak Tito menoleh karena terkejut.


"Mbok Nem, ngagetin aja."


"Ma-maaf Den Bagus, jika kedatangan saya mengagetkan Anda. Saya hanya ingin mengantarkan bubur untuk sarapan. Maaf Simbok belum sempat masak, keburu belanja tadi."


"Nggak apa-apa, Mbok. Makasih."


Selepas itu Mbok Nem segera melanjutkan kembali acara masak untuk weton Kanjeng Nyai.


Tito yang penasaran segera menanyakan kepada Dita sebenarnya siapa itu Kanjeng Nyai.


Sambil menyuapi bubur ayam yang masih hangat, Tito bertanya pada Dita.


"Sejak aku kenal dengan kamu, aku tidak pernah mendengar siapa itu Kanjeng Nyai, sebenarnya siapa dia Ayu?"


"Itu adalah mendiang nenek Ibu, Mas. Sudah lama beliau meninggal. Dulu beliau yang tinggal di rumah ini. Akan tetapi setelah beliau meninggal rumah ini sepi hanya dibersihkan oleh beberapa orang suruhan Bapak, dan setelahnya sepi lagi."


"Nah kebetulan, Mbok Nem adalah putri salah satu pekerja yang selalu menjaga tradisi di sini, jadi semua yang dilakukan beliau sudah pasti atas suruhan ibunya."


"Oh, kayaknya beliau kejawen banget, ya?"


"Ya begitulah, Mas. Yang terpenting dia satu-satunya pekerja yang paling setia di rumah ini."


"Ya sudah."


Mereka kembali melanjutkan acara sarapan bubur ayam pagi itu. Sementara itu Mbok Nem bergegas memasak sendirian. Meskipun ia memasak sendirian sedari tadi sangat terasa jika di dapur tersebut ada orang lain. Namun, sejauh mata memandang tidak ada satupun orang di dapur.


"Ngapunten, Mbah. Ampun ngganggu Kulo masak, kajenge cepet mateng sakabehanipun."


Wuuuussshhhh


Tiba-tiba saja angin berhembus dengan kencangnya dan hampir membuat api di kompor padam. Beruntung hal itu tidak lama terjadi hingga akhirnya masakan matang tepat waktu.


Kira-kira ada yang penasaran dengan misteri rumah Dita nggak nih? Jangan lupa dukungan kembangnya bestie, ini hari Jumat loh, biar perewangan di rumah Mbak Dita tidak ngamuk! Hi hi hi ....


......................


Sambil nungguin up jangan lupa mampir ke sini bestie, ditunggu ya supportnya 😘