Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 138. BANTU AKU


"Bantu aku buat tolong Mas Tito, Mbok."


"Lah, memangnya kenapa?"


"Bukankah Mbok tahu jika Mas Tito adalah hantu?"


Deg


"Bagaimana Den Ayu tahu?"


"Tentu aku tahu, karena aku yakin jika kalian berdekatan maka hawa panas akan terasa bukan?"


"Ampuni Saya, Den Ayu, tapi Simbok hanyalah manusia biasa."


"Biasa berhubungan dengan hal klenik, secara otomatis bisa membantu Mas Tito. Sekarang aku tanya, apakah Mas Tito adalah tumbal keserakahan kedua orang tuanya?"


"Kalau soal itu hamba tidak tahu, karena aura Den Bagus sangat gelap. Sepertinya tulang belulangnya belum disempurnakan penguburannya."


"Bisa bantu aku buat menemukan dia, nggak. Untuk raga Tiyo biar diurus di Rumah Sakit saja, aku sudah tidak nyaman, Mbok. Bantu aku!"


Dita terlihat memohon, sorot matanya membuat Mbok Nem tidak tega. Akan tetapi resiko yang dihadapinya sepertinya lebih besar dari ini.


"Baiklah kalau begitu, tetapi ada beberapa pantangan selama kita mencari jasad dan tulang belulang Den Bagus."


Dita mengangguk setuju, dari belakang tembok kamar, Tito bisa menguping semuanya. Ia tersenyum ketika Dita ingin membantunya, setidaknya meski setelah ini mereka tidak bisa bersama masih ada kenangan manis bersamanya.


"Terima kasih, Ayu."


Merasa tubuhnya mulai memanas, Tito segera mengajak Dita untuk pergi ke Rumah Sakit. Mbok Nem pun turut dengannya.


Sesampainya di lobby, Tito sudah mulai kejang-kejang sehingga ia pun dilarikan ke UGD. Di sana, arwah Tito segera keluar dari tubuh Tiyo. Kini mereka sudah terpisah kembali. Tito tidak mau jika nanti harus menggunakan raga Tiyo kembali.


"Maafkan aku saudaraku, setelah ini kita akan terpisah, terima kasih sudah meminjamkan tubuhmu kepadaku."


Angin berhembus dengan kencangnya. Suasana di ruang rawat Tiyo semakin mencekam. Ada kabut hitam yang datang dan mengerubungi tubuh Tiyo. Arwah Tito memundurkan langkahnya ia segera meninggalkan ruangan itu dan menemui Dita dan Mbok Nem.


Melihat arwah Tito, Dita segera mengajak Mbok Nem untuk meninggalkan Rumah Sakit dengan segera. Sebelum berangkat, mereka membeli beberapa keperluan untuk sajen sebelum ritual dimulai.


Mbok Nem melangkah pergi memasuki sebuah pasar tradisional, kini ia dan Tito menunggu Mbok Nem di bawah pohon beringin tua di sudut pasar. Tidak ada angin ataupun hujan, tiba-tiba saja bulu kuduk Dita meremang. Arwah Tito yang sebelumnya berada di sisi Dita menghilang secara tiba-tiba.


"Loh, Mas, kamu di mana?" tanya Dita kebingungan.


Semakin Dita mengedarkan pandangannya, ia sama sekali tidak menemukan suaminya. Ternyata arwah Tito dibawa buto ijo penunggu pohon beringin itu. Ia merasa tertarik dengan aroma tubuh Tito dan ingin melahapnya.


Mbok Nem yang baru saja datang segera membangu Dita. Beruntung ia bisa sedikit bahasa mereka dan membujuk buto itu untuk melepaskannya.


"Hei Buto ijo, jangan ganggu urusanku! Dia adalah keluargaku, lepaskan dia!"


"Tidak mau, dia adalah santapan yang lezat untukku!"


Gleg


"Jika kamu tidak mau melepaskan dia, aku akan memusnahkanmu!"


SRASH, Buto ijo melayangkan tangannya ke arah Mbok Nem, tetapi beliau bisa menghindar. Mulutnya komat-kamit baca mantra. Sementara itu Dita membaca ayat kursi.


"Panas ... panas ...." keluh Buto ijo.


Dinda tidak hilang konsentrasi dan terus berdzikir. Pada saat yang sama Mbok Nem melakukan serangannya dan beberapa saat kemudian Buto ijo itu terbakar dan musnah. Tito pun terlepas dari tangannya.


"Mas Tito ... syukurlah kamu selamat, Mas."


Menyadari jika Tito selamat, Mbok Nem segera mengajak mereka pergi dari area pasar menuju perkebunan teh. Insting Mbok Nem mengatakan ada hal aneh di salah satu perkebunan teh milik Tuan Handoko.


"Loh kok balik ke rumah Mbok?"


"Nanti Den Ayu akan mendapatkan jawabannya. Sebaiknya kita bergegas pergi."


Dita dan Tito nampak saling memandang dan kemudian mengangguk. Tangan Tito menggenggam tangan Dita, meyakinkan dirinya agar menurut pada Mbok Nem.


"Semua ini pasti sudah menjadi suratan takdir. Apa pun yang terjadi, aku ikhlas."


"Begitu pula denganku, Mas. Aku percaya Mbok Nem bisa membantu kita."


"Semoga."


Langit yang semula cerah tiba-tiba menghitam. Arak-arakan awan hitam memenuhi area perkebunan teh. Seolah tahu jika akan ada badai yang besar setelah ini. Terlebih lagi barang bawaan yang dibawa Mbok Nem adalah sesuatu yang disukai jin dan para lelembut.


"Masih lama, Mbok?"


"Tidak Den Ayu," jawab Mbok Nem singkat.


Dita melihat ke sekelilingnya, beruntung Mbok Nem membeli payung tadi. Sehingga ia tidak takut kehujanan setelahnya.


Memang benar, setelah ini mereka akan segera sampai di tujuan. Mbok Nem memilih meneruskan perjalanan ini dengan berjalan kaki.


"Setelah ini kita jalan kaki saja, karena aksesnya sempit dan licin."


"Tunggu dulu, Mbok, bukankah ini jalanan ini pernah aku lewati?"


"Benar Den Ayu, setelah ini Den Ayu akan mendapatkan jawabannya."


Srak ... Srak ... Srak ....


Tiba-tiba saja terdengar suara aneh dari semak-semak. Semakin lama ia seolah mengikuti kemana mereka melangkah. Benar saja sesaat kemudian, ada sekelebat bayangan hitam menyerang Mbok Nem.


SRASH


"Mbok Nem!" teriak Dita.


......................


Sambil nunggu up, mampir ke sini ya bestie 😘