
Setelah beberapa jam akhirnya kesehatan Fano mulai membaik. Dita bersyukur karena suaminya sudah bisa diajak pulang.
"Selamat, keadaan pasien sudah mulai membaik. Jadi kalian boleh pulang."
"Terima kasih banyak, dokter."
Setelah kepergian dokter dari ruangan Fano. Kini Dita melihat ke arah suaminya. Dita memang tersenyum, tetapi raut cemas di dalam wajahnya terlihat jelas.
"Kamu kenapa?" tanya Fano sambil menepuk sisi kanan brankarnya.
"Nggak kenapa-napa, Mas. Hanya saja aku merasa tidak nyaman saja."
Kekhawatiran di dalam hatinya menunjukkan jika Dita masih takut dengan teror yang diberikan oleh makhluk halus tersebut. Bagaimanapun caranya Dita berusaha untuk menghindarkan suaminya dari serangan makhluk itu.
Ia tidak mau jika Fano terkena kutukan yang sama dengan suami-suaminya yang telah meninggal dahulu. Memikirkan hal itu tangan Dita mendadak dingin. Fano justru khawatir dengan kondisi istrinya, tetapi ia masih menahan ucapannya.
"Apa tidak apa-apa jika kita segera pulang?" tanya Dita dengan menunduk.
"Tidak apa-apa, aku merasa sudah cukup sehat, sebaiknya kita segera pulang saja. Aku yakin jika keluarga kita pasti menghawatirkan keberadaan kita di sini. Beberapa hari ini, kamu pasti tidak memberi kabar."
Dita masih bungkam dengan semua pertanyaan yang diajukan oleh Fano. Ia bisa mengerti arti kecemasan yang ditunjukkan oleh Dita kepadanya.
"Dita, lihatlah ke arahku!"
Akhirnya Dita terpaksa menatap suaminya.
"Ta-tapi ...."
"Bukankah kamu belum menghubungi mereka dan memberitahu kondisi kita. Mereka hanya tahu jika kita pergi ke sini untuk honeymoon bukan untuk diteror oleh makhluk itu!"
"Percayalah jika Tuhan tidak akan membiarkan kita terbebani dengan segala ujiannya, pasti ada jalan terbaik untuk meraih kebahagiaan rumah tangga kita."
Fano merangkul bahu Dita dan mengusap pucuk kepalanya. "Selama ada aku di sini, semua akan baik-baik saja."
"Aamiin."
Di dalam hati Dita, ia masih menutupi sikapnya karena sebuah kenyataan menyatakan jika sebenarnya ia sudah mengatakan semua yang terjadi saat ini pada keluarga besarnya. Termasuk ketika Fano diserang makhluk itu dan terluka hingga masuk ke dalam Rumah Sakit.
Setelah semuanya siap Dita dan Fano segera meninggalkan Rumah Sakit tersebut untuk kembali ke rumahnya. Melihat ada pucuk bunga melati yang menempel pada salah satu pintu mobil yang berada di sisi Fano, membuat bulu kuduk Dita seketika meremang.
Salah satu suster membawa seorang pasien yang terluka parah untuk masuk lebih dulu ke ruang UCD. Kebetulan Dita sedang melintas ke sana melihat salah satu tangan pasien yang terjatuh hingga Dita bisa melihat betapa pasien itu ingin meminta tolong kepadanya.
Hanya dengan melihat pasien yang berada di atas brankar yaitu korban kematian berada di hadapannya sungguh membuat Dita melihat hal-hal yang tidak kasat mata.
Beberapa Minggu yang lalu mata batin Dita memang telah dibuka oleh leluhurnya. Oleh karena itu Dita bisa melihat makhluk halus dan sejenisnya.
"Kenapa kamu terlihat kebingungan seperti itu?" tanya Fano keheranan dengan sikap istrinya.
Dita tampak menggeleng.
"Nggak ada apa-apa kok, Mas. Aku baik-baik saja. Ayo kita percepat langkah kita agar cepat keluar dari Rumah Sakit!"
Perubahan ekspresi wajah Dita yang secepat kilat membuat Fano merasa sangat curiga terhadap istrinya tersebut.
"Aku merasa jika Dita menyembunyika sesuatu. Sama seperti ia bisa melihat makhluk yang tidak kasat mata. Aku harus menanyakan hal ini pada Tante Yuli, segera!" ucap Fano di dalam hatinya.