Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 176. MAKHLUK MENYEBALKAN


"Manusia kok bisa melihat wujudku! Aku bisa pastikan jika kamu juga bukan manusia!"


Leluhur Dita sama sekali tidak bergeming. Ia tetap berdiam diri di ujung ranting pohon. Beberapa saat yang lalu ia berhasil menghindari serangan gerwo. Akan tetapi menghindar bukan solusi yang tepat.


"Seharusnya jika sesuai dengan perhitungan dariku, maka ia belum pulih secepat ini."


Gerwo menyeringai.


"Kau pasti heran, kenapa kekuatanku cepat pulih, ha ha ha ... Aku adalah gerwo panglima perang dari kerajaan genderuwo yang paling terkenal akan kehebatannya."


"Aku ini berbeda, belum pernah kaw*n dengan bangsa manusia atau lelembut! Jadi jangan samakan aku dengan mereka, nenek tua!"


"Sia-lan! Berani kamu menyebutku dengan nenek tua?"


"Kenapa tidak berani, bukankah memang seperti itu yang sesungguhnya? Aku tidak membual atau mencoba menyanjung!"


Ucapan dari gerwo terus menerus mematik amarah di dalam hati leluhur Dita. Gerwo menoleh, "Betul tidak? Aku berkata apa adanya!"


"Sekarang aku tanya, apakah pertarungan ini tetap kita lakukan?"


"Ya, tidak usah kau tanya lagi!"


"Baiklah, aku tidak akan sungkan lagi! Paham!"


Sesaat kemudian makhluk itu menggeram, memanjangkan kuku-kuku di tangan dan kakinya. Taring yang semula disembunyikan kini sudah keluar. Cairan hitam dan kental itu menetes dengan derasnya.


"Ma-ti, kau!"


"Hiat!"


"SRASH!"


Tanpa berkata-kata lagi, gerwo langsung menyerang dengan sekali terjangan cukup cepat dan kuat. Tubuhnya dengan cepat melompat-lompat dan berpindah dari dahan satu ke dahan lainnya untuk mengejar leluhur Dita. Dengan gerakan cukup gesit, leluhur Dita bisa menghindari serangannya.


"Sesuai dugaanku, dia bukan bangsa manusia. Kekuatannya cukup patut diperhitungkan!" desis gerwo.


Gerakan yang cukup cepat seolah menghilang, membuat gerwo kehilangan jejaknya. Hanya sepersekian detik, wanita itu sudah berdiri di belakangnya.


"BUGH ... BUGH ... BUGH!"


Seperti memukul sebuah batang kayu, tubuh gerwo sangat keras. Pada saat itu leluhur Dita berhasil memukul tengkuk gerwo.


"Arghhhh!"


Gerwo terhuyung sambil memegangi kepalanya. Tubuhnya hampir menabrak sebuah pohon Pinus yang cukup besar.


"Sekarang kamu tahu jika kekuatanku tidak bisa kamu remehkan meskipun aku terlihat sudah tua dan tidak berguna!"


Tanpa luluhur Dita duga, gerwo menyemburkan ludah ke arahnya.


"Rasakan ajianku, wahai wanita tua!"


Beruntung leluhur Dita bisa menghindarinya.


"Ajianmu tidak akan mempan padaku! Aku berbeda. Kamu tidak akan mudah melukaiku!"


"Asem!"


"Kecut!"


"Kurang a**r! Kamu ngajak aku bercanda, nggak akan mempan!"


Sekali lagi gerwo menyerangnya dengan membabi buta. Begitu pula dengan leluhur Dita yang mengibaskan tangannya untuk menghalau serangan dari gerwo.


"Rasakan ini!" teriaknya.


Gerwo terkecoh dengan gerakan gesit leluhur Dita, hingga tubuhnya menerjang batang pohon yang langsung ambruk dan terhempas di tanah.


Kurangnya kewaspadaan dari gerwo membuat ia ikut terseret ranting pohon dan membuat tubuh gerwo terkena batang pohon yang tumbang.


"Brak!"


"Blarrr ... pyaar ...."


Awalnya ia berniat untuk menjaga keseimbangan tetapi nasib sial justru mengenainya hingga ia terjatuh dengan cukup keras.


"Sia-lan!" desis gerwo sambil mengusap kedua tangannya.


Sesaat kemudian ia menepuk kedua tangannya ke tanah hingga membuat suara seolah berdentum dengan kerasnya. Secara sadar gerwo kembali mengarahkan serangannya ke arah leluhur Dita, tetapi leluhur Dita masih sempat menghindar ketika tanah begtar dengan hebatnya.


Leluhur Dita kembali melesat ke arah gerwo dan mengarahkan selendang miliknya. Bagaikan sebuah keris bermata tajam, selendang itu langsung melukai tubuh gerwo hingga membuatnya menggigil lalu sesaat kemudian menghilang.


"Alhamdulillah!"


Leluhur Dita segera menoleh ke arah sang cucu dan membawanya pergi dari alam ghaib.


"Nenek tidak akan membiarkanmu terluka dan berada lebih lama di sini!"


"Bertahanlah cucuku! Nenek akan segera membawamu keluar!"