
Menjadi janda untuk yang kesekian kalinya membuat Dita benar-benar menutup dirinya dari lingkungan sekitar. Bahkan ia tidak mau ditemui oleh kedua orang tuanya sekalipun.
"Maaf, Pak, Bu. Biarkan Dita menyelami kehidupan Dita sendiri, karena bagaimana pun ini adalah kehidupan Dita."
"Maaf karena aku telah lancang membentak kalian, bukan maksud hatiku untuk melukai Bapak dan Ibu."
Dita masih terisak di belakang pintu. Rasa sesak di dalam dadanya membuat Dita semakin tidak tega jika terus menerus mencoreng nama baik kedua orang tuanya.
"Apakah kalian tidak bisa melihat jika aku benar-benar sudah tidak mempunyai niat untuk menikah kembali. Di mana aku bisa mendapatkan kasih sayang yang sama seperti sebelumnya?"
"A-aku hanya ingin melihat kalian kembali sama seperti saat aku kecil."
Sungguh sulit bagi Dita bisa bertahan sampai saat ini. Beberapa kali gagal dalam menjalani hubungan bahtera rumah tangga membuat Dita tidak ingin melanjutkan hidupnya kembali. Rasa putus asa telah membunuh semua harapan Dita.
Gunjingan dari para tetangga membuat Dita tidak bisa bernafas dengan tenang. Jika mungkin yang mengalami hal ini bukanlah Dita, sudah pasti ia sudah putus asa dan tidak tahu bagaimana kehidupan mereka setelah ini.
"Bersyukur Mas Tito sudah kembali ke alamnya!" ucap Laluna dengan halus.
"Andaikan aku bisa memilih, aku tidak ingin terlahir di dalam kehidupan yang seperti ini. Penuh dengan banyaknya lika-liku ujian kehidupan.
"Aku ingin hidup yang biasa, sama seperti orang lain yang bisa menikmati indahnya kehidupan bersama pasangan mereka."
"Melewati hari-harinya dengan penuh keceriaan, dilengkapi hadirnya malaikat-malaikat kecil di antara cinta mereka, yang seolah menjadi penyempurna ikatan cinta suci."
Dita menatap sendu ke arah jendela. Ingin rasanya ia menyibak tirai yang menutupi kamarnya. Namun, Dita takut akan ada orang yang bisa melihatnya dengan kondisi memprihatinkan.
Sepi, sendiri dan seolah terpenjara di dalam sebuah istana, justru membuat Dita merasa begitu kesakitan. Butir-butir air mata mulai membasahi kedua pipi. Menjadi saksi bagaimana ia bisa bertahan.
Jika orang lain bisa berbagi, tidak demikian dengan Dita. Ia justru ingin memikul beban hidupnya sendirian. Lagi pula, tidak akan ada seorangpun yang mau diajak berbicara.
"Apakah aku bisa mempunyai kehidupan yang layak seperti manusia pada umumnya? Ataukah harus mengakhiri semuanya seperti ini?"
Dita menepuk dadanya berkali-kali.
"Eyang, aku tidak sanggup bertahan. Sungguh aku lelah dengan ujian yang tidak pernah habis di dalam takdirku ini."
Di luar Dita terlihat tegar. Namun, di dalam hatinya ia sangat rapuh. Sejauh apapun ia terlihat tegar, hasilnya sama saja.
Duka dan nestapa yang Dita alami membuatnya jatuh tersungkur. Sulit bangkit meski hanya untuk sesaat. Namun, terpaksa bangun ketika tubuh masih merasa lelah.
Sementara itu di luar kamar Dita, lebih tepatnya di ruang tengah. Mbok Nem sedang menjelaskan situasi yang terjadi kepada Dita selama dua hari kemarin kepada junjungannya Kanjeng Ibu dan juga Tuan Handoko.
Betapa keduanya merasa marah dan kecewa karena ternyata besan mereka seolah ingkar dengan semua janji-janji manisnya.
"Katakan dengan cepat, Mbok. Jangan membuatku menunggu," ucap Nyonya Sekar tidak sabaran.
"Mohon maaf sebelumnya, Kanjeng Ibu."
Mbok Nem menangkupkan kedua tangannya terlebih dahulu sebelum ia kembali mulai bercerita.
"Jadi begini, Kanjeng Ibu. Ceritanya dua hari yang lalu kami pergi ke pohon beringin di tengah perkebunan teh. Di sana kami disuruh melakukan sebuah persembahan oleh Kanjeng Nyai."
"Benar, Kanjeng Ibu. Saya tidak berbohong, bahkan Den Ayu juga melihatnya, karena kami menyakini jika Kanjeng Nyai benar-benar datang dan membantu kami untuk menemukan jasad Den Bagus Tito."
"Ngomong apa kamu, Mbok. Kok semakin lama semakin melantur?"
Mbok Nem tetap diam tanpa ekspresi. Nyonya Sekar semakin gusar meskipun beberapa info tentang Dita sudah berhasil ia dengarkan.
"Ma-maksud Mbok, Tito sudah meninggal sejak lama?" ucapnya ketakutan.
"Benar, saat kami temukan sudah dalam bentuk tulang belulang. Kami juga terkejut dengan penemuan itu, terlebih Den Ayu."
"Setelah menemukan jasad Den Bagus, kami membawa pulang dengan segera. Namun, lagi-lagi langkah kaki kami dicekal oleh besan Anda, Ibunda Den Bagus dan juga ayahnya."
Nyonya Sekar menggeleng tidak percaya, begitu pula dengan Tuan Handoko.
"Ibu dan Ayah Tito sudah mendengar sebuah informasi dari seseorang yang mengatakan jika Den Ayu akan mudah diguna-guna. Sehingga ketika Den Ayu harus bertahan, Ibu juga akan tetap bertahan.
Seolah ucapan Mbok Nem hanyalah bualan agar ia tidak dimarahi karena tidak becus menjaga Dita selama mereka pergi.
Mbok Nem masih menunduk, ia menjadi ragu untuk meneruskan ceritanya, apalagi Nyonya Sekar dan Tuan Handoko seolah ragu dengan kebenaran yang baru saja ia ungkapkan.
"Tunggu sebentar, Mbok. Saya penasaran sejak kapan Mbok Nem bisa berkomunikasi dengan leluhur kami?"
"Saya hanya mewarisi apa yang diamanatkan dari leluhur saya, Kanjeng. Saya tidak berani merubah tradisi ataupun segala hal yang berkaitan dengan mereka."
Kini kedua orang tua Dita saling memandang satu sama lain. Tidak ingin membuat Mbok Nem ragu ataupun curiga, Tuan Handoko mengakhiri percakapan mereka.
Di dalam kamar, Dita masih menangis. Dia duduk di tepian ranjang. Tatapannya semakin kosong. Apa yang pernah diajarkan oleh suaminya Bisma seolah sudah diabaikan olehnya.
Samar-samar, Dita mendengar panggilan yang menyebut namanya.
"Dita, istriku tersayang. Aku sangat ingin menemanimu, tetapi sepertinya jodoh kita hanya sampai di sini."
Deg
"Siapa itu? Kenapa aku seolah sangat familiar dengan suara itu?"
Pikiran Dita semakin jauh berkelana. Semakin masuk dalam dunia yang ia ciptakan sendiri. Sementara itu di luar sana, Danu semakin rajin mengaji.
Ia benar-benar memanaskan dirinya agar bisa bersanding dengan Anindita Ayu Puspa Batari, wanita impiannya. Sebuah status bukanlah sesuatu yang bisa menghalangi cintanya.
Baginya hanya Dita wanita yang pantas dan cocok bersanding dengannya. Dalam setiap doa dan sujudnya ia selipkan nama Dita di sana.
Lantunan doa-doa ia panjatkan kepada pemilik kehidupan, berusaha mengambil hatinya agar ia bisa mendapatkan apa yang menjadi impiannya selama ini. Melihat perubahan Danu yang semakin religius membuat kedua orang tuanya bersyukur.
"Semoga apa yang kamu inginkan segera terkabul ya, Nak. Ibu hanya bisa mendoakan dirimu dari sini."
Danu masih ingat betul bagaimana ia terjebak di dalam alam ghaib, hanya saja saat itu ia tidak mempunyai ilmu sehingga bagaimana makhluk itu menjebaknya ia tidak bisa keluar.
"Dinda, apakah kau masih mengingatku? Jika iya, semoga Allah selalu melindungi setiap langkahmu sama sepertiku yang selalu mendoakan kebaikan tercurah kepadamu. Aamiin."