Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
PART 167. SESAL


"Kalau Fano tidak kunjung membuka mata, maka jangan salahkan jika aku bertindak lebih dulu!" ucap Nyonya Kirana.


Tidak ada seorang ibu yang bisa melihat anaknya terluka. Apalagi ia adalah putra satu-satunya. Jika sampai Fano dinyatakan koma tentu saja itu akan menambah kepedihan di dalam dadanya.


Maka dari itu saat ini, Nyonya Kirana ingin sekali membuat perhitungan pada Keluarga Handoko. Mungkin saja suaminya akan bertindak hal yang sama ketika mendengar kabar jika semua ini berkaitan dengan Keluarga Handoko. Beruntung Yuli masih menutupi hal ini, tetapi sebagai seorang ayah seharusnya ia peka terhadap situasi yang terjadi.


Rasanya Nyonya Kirana sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Rasa tidak terima sudah memenuhi isi hatinya.


Padahal sebelumnya ia hanya berniat baik, yaitu datang ke Keluarga Handoko untuk mempersunting putri dari teman bisnis suaminya itu. Akan tetapi justru niat itu membuat keluarganya terkena asap dari hubungan Dita dan Fano yang belum terjalin.


Meskipun sebelumnya ia pernah mempunyai niat yang sama, tetapi semua itu batal secara sepihak karena Dita sudah menikah dengan Hastito. Sehingga Nyonya Kirana memutuskan jika Fano dan Dita akan memasuki sebuah tahap mengenal satu sama lain ataupun sebagai teman.


Naas, baru saja bertemu beberapa kali tetapi efeknya sudah mereka rasakan. Ditambah lagi dengan kecelakaan Fano yang sedikit parah.


Di belakang Nyonya Kirana masih ada Yuli yang setia mendampinginya. Sementara itu suami Nyonya Kirana masih menstabilkan perusahaan milik keluarganya.


Bagaimanapun kehidupan harus berjalan seperti biasanya. Masih banyak orang yang menggan-tungkan hidupnya di dalam perusahaan milik Rahardja.


Nyonya Kirana tidak bisa menahan tangis dan gemuruh di hati. Salah satu tangan memegang tangan Fano sambil mengusap punggungnya.


"Maafkan Ibu ya, Nak. Maaf ... jika bukan karena ibu sudah pasti semua ini tidak akan terjadi. Mungkin saja kamu masih bisa bercanda tawa bersama ibu dan ayah."


Sebanyak apapun usaha Nyonya Kirana dalam mengajak Fano berbicara, pada kenyataannya ia sama sekali tidak mendengar. Kecepatan yang digunakan Fano dan kurangnya konsentrasi saat mengemudi membuat Fano mengalami kecelakaan tunggal.


Mobilnya oleng dan membentur dinding pembatas jalan. Belum sempat ia menghentikan laju mobil, seolah dari arah belakang ada sosok yang mendorong mobil Fano agar masuk ke dalam lereng gunung yang berada di sisi salah satu jalan.


Jika teringat kondisi Fano, maka Nyonya Kirana akan tetap menangis. Seperti saat ia sudah berada di rumah, ia melampiaskan amarah dan berbicara dengan pantulan dirinya di dalam cermin.


"Apa jadinya jika rencana pernikahan Fano dan Dita tetap berlangsung?" gumam Nyonya Kirana sambil mematut dirinya di depan cermin.


Keraguan kini mengguncang di dalam diri Nyonya Kirana. Apalagi ketika mengingat bagaimana Fano sangat mencintai Dita. Namun, semua harapan Nyonya Kirana musnah ketika takdir tidak berpihak kepada kedua Fano maupun Dita.


"Maafkan Ibu, Nak, karena ibu harus mengunakan cara ini agar kau bisa terlepas dari Keluarga Handoko."


Padahal dulu ia sempat menolak rencana perjodohan ini, akan tetapi setelahnya Nyonya Kirana mencoba menerima permintaan sulit dari Fano. Terlebih karena melihat raut wajah Fano yang begitu bahagia saat menyebut nama Dita.


"Jodohmu bukanlah Dita, jadi jangan berharap kau bisa bersamanya. Ibu akan membawamu pergi dari sisi Dita dan Keluarga Handoko secepatnya!" janji Nyonya Kirana pada dirinya sendiri.


Entah kenapa, tiba-tiba saja Nyonya Kirana mendapat bisikan agat secepatnya pergi ke Kediaman Tuan Handoko.


"Aku akan pergi, sekarang!"


Rasanya Nyonya Kirana sudah tidak tahan dengan yang terjadi di dalam keluarganya. Dengan segera ia mengambil tas dan bergegas pergi. Kebetulan saat di tangga, ia bertemu dengan Yuli, adiknya.


Merasa ada sesuatu hal tidak baik yang akan dilakukan oleh kakaknya, Yuli berusaha untuk menahannya.


"Mbak mau ke mana?"


"Mbak mau ke keluarga Handoko," ucap Dita sambil melangkah pergi.


Nyonya Kirana tetap melangkah pergi sampai akhirnya tangan Yuli mencekal lengan Nyonya Kirana sebelum sampai pintu utama. Tentu saja Nyonya Kirana menoleh ke arah Yuli.


"Ada apa lagi, Yul?"


"Mbak, jangan pergi dulu. Tolong dengarkan aku baik-baik. Jika Mbak percaya akan kemampuan dariku, tolong biarkan aku bergerak dengan kekuatanku sendiri. Itu akan jauh lebih aman daripada kita bertindak lebih gegabah dan membuat Keluarga Handoko merasa curiga pada keluarga kita."


Yuli masih mengatakan hal lain lagi agar Nyonya Kirana tidak bertindak gegabah.


"Mbak ingat, tidak ada yang meminta Fano untuk melamar Dita. Justru kita yang datang dengan niat baik untuk melamar Dita di hadapan kedua orang tuanya. Sebenarnya Dita tidak suka dengan acara perjodohan, tetapi demi menghormati hubungan kerja sama antara kedua belah pihak membuat Dita menerima semuanya."


"Yul, Mbak sudah tidak tahan."


Yuli menarik lengan Nyonya Kirana dan mengajaknya untuk duduk sejenak sambil merapal doa agar kakaknya lebih tenang. Beruntung Nyonya Kirana sudah bisa mendengarkan suara adiknya.


"Baiklah jika itu yang kamu mau, tetapi ingat Yul, mbak tidak bisa menahan lebih lama lagi tentang keinginan hati Mbak. Aku akan tetap pergi mendatangi Keluarga Handoko untuk waktunya mbak tidak tahu."


"Terserah apa yang Mbak mau, asalkan Mbak bahagia itu sudah lebih dari cukup."


"Kalau begitu, biarkan Mbak istirahat."


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantar Mbak sampai di kamar."


Setelah memastikan kakaknya tidak melakukan hal yang berbahaya, Nyonya Kirana memilih untuk pergi ke kamar. Rencananya nanti sore ia akan pergi ke Rumah Sakit untuk melihat kondisi Fano.


Pada saat yang sama, Dita sedang dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Ia tidak akan menunjukkan wajahnya agar pihak keluarga Fano tidak mengenalinya.


Hanya membutuhkan waktu selama kurang lebih dari satu jam perjalanan, Dita sudah sampai di Rumah Sakit tempat Fano di rawat.


"Semoga kamu nggak kenapa-napa ya, Mas."


"Aku merasa bersalah karena tiba-tiba kamu kecelakaan setelah datang berkunjung ke rumah."


Dita menundukkan wajahnya, lalu mencoba mengatur nafas dan debaran dada yang terlalu bergetar hebat. Sama menakutkannya seperti ketika ia merasakan jika sedang disidang oleh dosen saat kuliah.


Saat ia melangkah menuju ruang perawatan Fano terdengar jika beberapa suster menggunjingkan acara perjodohan antara Dita dan Fano.


"Hm, aku jadi penasaran sama orang yang sering membuat sosok laki-laki di dekatnya terluka."


"Sama, aku juga. Oh, ya ... kalian tahu nggak jika pasien di kamar 202 itu korban wanita yang viral karena membuat suaminya meninggal di malam pertama."


"Oh, ya. Berarti itu bukan mitos, tapi fakta."


"Setuju."


Beberapa obrolan dari suster membuat Dita seolah sedang berada di tempat yang salah. padahal ia adalah pelaku utama. Akan tetapi jika sampai dirinya difitnah, maka ia tidak akan memaafkan hal itu. Maka dari itu Dita justru membiarkan mereka menggosip pagi-pagi.