
"Awwwaaaassss ...."
"Ckitttt .... bruaaakkkkk!"
Mobil Dita berhenti beberapa meter setelah insiden tabrakan tadi. Detak jantung ketiga orang di dalam mobil Dita masih berdetak tidak karuan. Ketiga orang di dalam mobil tersebut saling berebut oksigen di sana.
Seolah baru saja lolos dari kematian membuat ketiga orang di dalam mobil itu tercekat nafasnya. Perasaan Dita masih berdebar-debar saat ini. Rasanya sangat tidak mungkin jika saat ini mereka selamat dari kecelakan maut tadi. Namun, kenyataanya mereka selamat.
Truk Kontainer yang tadi menabraknya tadi bukan truk biasa. Terbukti ketika Dita ditabrak truk tersebut badannya hanya merasakan panas dan sedikit rasa benturan disertai angin yang cukup kencang.
Mungkin jika truk tadi nyata, mungkin mobil Dita akan terseret jauh. Anehnya truk tersebut seolah menembus tubuh Dita dan yang lainnya.
"Truk apakah ta-tadi?" ucap Sam dengan nafas tercekat.
Baru kali ia merasakan hal tersebut, seolah hampir saja nyawanya menggantung lalu kembali lagi.
"Hosh ... hosh ... hosh ...."
Deru nafas Dita terdengar lebih besar saat ini. Beberapa kali mulutnya mengucap istighfar, dan mengucap alhamdulillah karena mereka masih selamat.
Saat ini mereka baru saja keluar dari hutan tersebut. Beruntung tepat saat Dita menginjak rem mobilnya, mereka sudah keluar dari hutan.
"Ki-kita masih selamat, kan Dit?" ucap Rani tergagap.
Keringat dingin mengucur deras di kening Dita, namun di dalam tubuhnya masih terasa panas. Hingga ia meraih sebotol air mineral untuk melegakan tenggorokannya.
Sam masih tidak bisa berkata-kata saat ini. Terlebih tubuh meraka masih utuh tanpa terluka sedikitpun, hanya saja kepala mereka sedikit sakit saat ini karena keterkejutan mereka.
Dita meraih dua botol air mineral dan menyodorkannya pada Sam dan Rani.
"Alhamdulillah kita masih selamat," ucapnya kemudian.
Keduanya mengangguk, sungguh kejadian barusan membuat mereka sedikit memahami jika dunia lain itu ada.
"Udah mendingan, kan? Nanti kita mampir masjid untuk ibadah, gimana?"
Sementara itu, Rangga sedang memasang sesuatu di depan rumah Dita. Ia masih penasaran dengan Dita, kenapa guna-guna yang ia pasang beberapa hari yang lalu tidak mempan. Kini jalan satu-satunya hanyalah memasang sesuatu di depan rumah Dita.
......................
Rumah Juna.
"Bagaimana perasaan kamu, Nak?"
"Sudah mendingan, Bu. Di mana Dita?"
"Beberapa saat yang lalu dia sudah pulang."
"Kenapa Dita tidak menginap, bukankah ini sudah masuk senja?" ucap Juna khawatir.
Nyonya Sinta duduk di tepi ranjang putranya. Membelai tangan Juna yang sudah tidak terlalu pucat.
"Apa kamu benar-benar mencintai Dita?"
Juna mengangguk, tetapi sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Nyonya Sinta bisa membaca dengan jelas raut wajah Juna saat itu.
"Kalau kau benar mencintai Dita, sebaiknya kamu mengikuti perkataan Ibu. Ini semua demi kebaikan kamu."
Juna yang awalnya membuang muka kini menoleh pada ibunya.
"Dengarkan perkataan Ibu. Jika kamu mencintai Dita sebaiknya kamu harus menyembuhkan dirimu terlebih dahulu, sekalian menyelesaikan study S2 kamu. Setelah semuanya selesai maka kamu boleh mengejar Dita kembali."
"Kenapa tidak di ikat dengan tali pertunangan terlebih dahulu?"
"Karena Dita harus menyelesaikan studynya terlebih dahulu, Nak. Lagi pula masa iddah Dita belum selesai."
Juna menghembuskan nafasnya secara kasar. Sungguh hal seperti ini tidak pernah terpikirkan olehnya. Entah kenapa saat pertama kali melihat Dita, hati Juna sudah terpaut di sana dan tidak bisa berpindah ke lain hati. Entah daya tarik yang mana yang membuat Juna bertahan akan cintanya pada Dita. Meskipun kemungkinan untuk memiliki Dita hanya kecil, namun ia akan tetap berjuang untuk itu.