Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Bab 112. BERTEMU LAGI


Karena Dita mempunyai usaha hampers yang lumayan bagus, akhirnya Fano merekomendasikan hal itu pada temannya. Alhasil ada salah satu teman Fano yang memintanya untuk mengantarkan ke toko Dita.


"Iya, bentar gue chat pemiliknya dulu, siapa tau dia lagi nggak ke tokonya," ujar Fano sambil mengetikkan pesan kepada Dita.


"Emang kamu dekat dengan pemiliknya?"


"Nggak dekat amat, kok. Cuma dia kenalan Mama aku."


"Oh, ya sudah kalau begitu aku ngikut saja sama kamu."


Sesaat kemudian Fano segera mengirim pesan kepada Dita. Kebetulan Dita baru saja meletakkan ponselnya dan pergi ke kamar mandi. Seketika cermin di hadapan Dita bergetar seolah ada sesuatu yang berada di dalamnya.


Lalu saat Dita sudah kembali, ia melihat ponselnya bergeser, sehingga mau tidak mau ia segera mengambil ponsel tersebut. Anehnya, ada bekas no-da lengket yang tertinggal di atas meja riasnya. Berwarna merah pekat seperti da-rah.


Dita menyentuh noda tersebut lalu menciumnya. Seketika bau anyir bercampur bunga kenanga menyeruak. Menusuk hidung dan membuat perutnya bergejolak.


"Astaga, no-da apa ini?"


Tidak mau membuatnya berpikir aneh-aneh, ia segera meraih tisu dan mengelap no-da tersebut. Setelah bersih ia membuang tisu tersebut ke tong sampah.


Setelahnya ia membuka aplikasi hijau dan membaca pesan di dalamnya.


Isi chat


^^^"Dita, tempat kamu ada macam-macam hampers, kan?"^^^


"Ada kok, mau hampers untuk acara apa dan kapan?"


^^^"Ultah anak usia lima tahun, katanya dia minta aku antar ke tempat kamu. Bolehkah aku mengantarnya?"^^^


"Kenapa pake nanya? Bukankah kamu selalu datang tanpa aku minta?" (emot marah)


^^^"Iya, cewek jutek, pokoknya kamu sudah memberi ijin, maka jangan salahkan jika aku datang ke sana!" (emot kiss)^^^


"Dasar lelaki aneh," gumam Dita.


Dita memang tidak ingin dekat dengan lelaki, hanya saja bisnisnya membuat ia harus tetap berhubungan dengan siapa saja.


Meskipun rasanya ingin menghindari Fano, tetapi selalu ada cara untuk mendekatinya. Sepertinya memang takdir mereka terhubung dengan benang merah, sehingga bagaimanapun caranya Dita menghindari Fano, akan tetap bertemu dengannya.


Berbeda dengan Fano, seberapa banyak keraguan yang mendatangi, selalu saja ada cara untuk mendekati Dita dengan berbagai cara.


Lima jam kemudian.


Sesuai kesepakatan, kali ini Fano dan temannya sudah mendatangi toko milik Dita. Sementara itu Dita sudah berada di sana dan menyambut kedatangan Fano.


"Selamat datang, Tuan."


"Terima kasih."


"Lah, ini pemiliknya, Nona Anindita."


"Oh, masih muda sekali, ya," ucapnya ramah lalu melirik ke arah Fano.


Dita tersenyum masam lalu menyenggol dada Fano dengan sikunya. Tentu saja membuat Fano mengaduh.


"Kenapa kamu seperti itu?" bisik Fano.


"Sialan, pasti kamu bilang pemilik toko ini orang tua, ya?"


Fano tersenyum kikuk, "Maaf, cuma bercanda."


"Nggak lucu!"


Sementara itu teman Fano memperhatikan interaksi Anindita dengan Fano.


"Sebenarnya hubungan mereka apa, sih?"


Lalu sesaat kemudian Dita yang menyadari jika diperhatikan teman Fano segera mengalihkan perhatiannya.


"Maaf, Pak. Mari saya antarkan Anda melihat-lihat hampers di sini. Kalau boleh tahu untuk acara apa, ya?"


"Untuk acara ultah anak saya usianya lima tahun. Sementara itu temanya adalah super Hero."


"Kebetulan ada di sebelah sana, mari saya antar."


Belum sempat Dita memasuki ruangan itu, tiba-tiba saja ada barang terjatuh dari lantai dua. Lebih tepatnya di ruangan Dita.


PRANG!


Sebuah vas bunga keluaran terbaru, yang baru saja dibeli Nyonya Sekar memang sengaja ditaruh di ruangan toko Dita. Padahal barang itu merupakan salah satu koleksi Nyonya Sekar sebagai hadiah pernikahan. Merasa ada yang tidak beres, Dita bergegas naik ke atas.


"Mas Fano, minta tolong temani dulu ya, aku mau cek keadaan di ruanganku," pamit Dita


Tidak menjawab ucapan Dita, namun Fano mengangguk sebagai ungkapan setuju.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Fano sambil memperhatikan arah laju Dita.


Dita terlihat terburu-buru menaiki tangga, hingga secara tidak sengaja ia terpeleset.


"Aarghh!"


Sontak Fano berlari dan segera menolong Dita. Pelipis Dita tampak ber-da-rah hingga membuat Fano panik. Sementara itu ruang kerja Dita seolah sedang ada orang yang mengamuk karena terdengar suara sangat gaduh. Fano bingung antara harus memeriksa ke atas atau membiarkannya dan menolong Dita.


BERSAMBUNG