Wanita Bahu Laweyan

Wanita Bahu Laweyan
Part 155. SAKIT HATI


"Sebagai masyarakat Jawa yang masih memegang teguh ajaran leluhur, aku bukan bermaksud untuk menggurui kalian. Hanya saja sebagian masyarakat Jawa percaya dengan cerita mistis tentang wanita bahu laweyan."


"Bagi sebagian orang yang terbiasa hidup modern akan mengesampingkan cerita ini. Namun, tidak sedikit yang masih percaya akan hal itu."


"Tunggu sebentar, Mama kok merasa merinding, ya?" ucap Nyonya Kirana sambil mengusap lengannya secara berulang.


Tuan Abi hanya tersenyum melihat istrinya yang terbiasa sesuka hati dan sering terlihat asal-asalan dalam menyimpulkan sesuatu itu kini mulai ketakutan. Sebenarnya hal seperti ini sudah biasa terjadi. Bahkan sejak dulu mitos atau fakta, Tuan Abi masih belum sepenuhnya percaya.


"Lanjutkan aja Yul!" perintah Tuan Abi pada adiknya itu.


"Biasanya wanita yang disebut wanita bahu laweyan itu sangat cantik dan nyaris sempurna, hanya saja siapa yang berani berhubungan dengannya akan mengalami nasib sial."


"Kok bisa?" tanya Nyonya Kirana penasaran.


"Karena ia selalu diliputi aura makhluk halus yang sangat jahat. Akan banyak terjadi keganjilan-keganjilan yang tidak bisa dijumpai pada wanita normal lainnya. Misalnya saja, suaminya meninggal di malam pertama."


Sorot mata Fano mengarah tajam ke arah adik Ibunya itu. Sebenarnya ia pernah mencari artikel itu sebelumnya, namun entah kenapa semua terasa bohong hingga ia nekad meneruskan acara perjodohan dengan Anindita.


Setelah beberapa saat mengenalnya, satu persatu keganjilan mulai terjadi dan membuat ia tidak bisa menikahinya. Justru kolega bisnisnya Bisma yang menikah dengan Dita hingga ujungnya ia meninggal juga.


"Belum lagi suasana mistis yang selalu mengiringi hidupnya. Ia bahkan suka menyendiri, sering melamun dengan tatapan kosong dan pendiam."


"Tunggu, tunggu ... kenapa semua ciri-ciri itu semua ada di dalam diri Anindita, kamu nggak ngarang cerita supaya aku membatalkan rencana perjodohan kali ini, kan?"


Yuli justru tersenyum menghadapi tuduhan dari kakaknya itu. Wajar jika mereka menolak opini yang baru saja ia ucapkan, karena semua ini memang agak sulit diterima akal sehat.


"Satu lagi yang harus kalian tahu yaitu wanita bahu laweyan itu kebal akan ilmu santet, teluh dan yang lainnya. Namun, siapa saja lelaki yang berani menikahinya maka ia akan meninggal dengan cara mengenaskan."


"Seorang perempuan terpilih menjadi bahu laweyan, maka di dalam dirinya melekat sifat-sifat negatif atau buruk yang membuatnya berbeda dengan perempuan lainnya."


"Mereka juga tidak akan dapat memiliki keturunan."


Merasa jika yang diucapkan oleh tantenya itu menyinggung keputusan yang akan diambil oleh Fano setelah ini, ia bergegas berdiri dan meninggalkan ruang keluarga. Meninggalkan kedua orang tuanya yang masih saling memandang satu sama lain.


Nyonya Kirana memegang tangan Yuli, menatapnya dengan sendu.


"Bagaimana jika Fano tetap menginginkan perjodohan ini terus berlangsung. Aku tidak mau kehilangan Fano, Yul."


Yuli memegang tangan Nyonya Kirana dengan lembut.


Nyonya Kirana menundukkan kepalanya, ia benar-benar takut jika apa yang dikatakan adiknya terjadi. Sementara itu, Fano mengusap dadanya secara berulang.


"Aku tahu apa yang terbaik untukku, kenapa semuanya seolah menolak apapun yang aku inginkan. Bahkan alam pun seolah menolak keinginanku ini!"


Fano meremas dadanya yang bergemuruh. Tubuhnya luruh ke lantai. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, bibirnya terlalu kelu untuk mengucapkan sepatah atau dua patah kata.


Sementara itu di rumahnya, Dita memandang hamparan belakang rumahnya. Mencoba untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa mengalihkan pikirannya dari kedatangan Fano barusan.


Tiba-tiba ada burung gagak yang berbunyi di atap gazebo di halaman belakang rumah Dita. Merasa akan ada firasat buruk yang datang, Dita segera menutup jendela kamarnya.


Ia memegang dadanya, mencoba berdoa agar tidak terjadi hal-hal yang buruk seperti yang ia pikirkan. Setelah merasa sedikit tenang, Dita pergi ke kamar mandi.


Membasuh wajah lalu memandang ke arah cermin di hadapannya.


"Apakah aku tidak bisa menghapus takdir buruk ini? aku sudah lelah."


"Di ujung pengharapanku ini, sebaiknya aku tidak melakukan pernikahan kembali, atau pun berdekatan dengan lelaki."


"Aku tidak mau ada keluarga lagi yang bersedih atas pernikahan yang terjadi denganku."


"Aku ikhlas jika setelah ini tidak bisa menikah lagi."


"Mungkin akan lebih merasa bahagia jika lelaki yang kucintai bisa bersanding dengan orang yang lebih tepat daripada aku."


"Seandainya saja aku bisa pergi, aku lebih memilih untuk pergi."


Tidak lama kemudian, ponsel Dita berdering. Dita bergegas untuk pergi keluar dan melihat ponsel miliknya.


"Nomor tidak dikenal? Siapa?"


Dita segera membuka pesan tersebut.


"Assalamu'alaikum. Saudari Anindita, kami sudah menerima sumbangan atas nama Anda. Apabila berkenan silakan datang ke Pondok Darussalam, Desa Lembayung besok pagi jam 08.00 WIB untuk acara peresmian gedung baru. Semoga Anda berkenan datang dan semoga kesehatan, kebahagiaan selalu menyertai. Aamiin. Wa'alaikumsalam."


"Sumbangan? Kapan aku melakukannya? Ataukah itu Lusi da Nurul yang memberikannya atas namaku? Ah, sudahlah biarkan esok aku datang ke sana."