
Ternyata kepulangan Dijah dan Pak Parman sudah ditunggu oleh Ibunda Yudistira. Beliau sudah berdandan rapi dengan sebuah tas yang ia bawa di salah satu tangannya. Ia sudah tidak sabar ingin segera pergi dan menuju rumah dukun tersebut.
Melihat Dijah sudah mendekatinya, Ibunda Yudistira segera menjemput kedatangan Dijah.
"Sudah dapat semuanya, Dijah?" bisiknya sambil mengamati sekitarnya.
"Sudah, Nyonya."
"Ya sudah kalau begitu, kalian bersiaplah. Aku menunggu kalian di dalam mobil!
Ibunda Yudistira segera merebut tas yang Dijah bawa dan memasukkannya ke dalam mobil.
Saat ini Ibunda Yudistira sudah bersiap untuk berangkat kembali ke rumah Mbah Darno. Tidak lupa ia membawa semua persyaratan yang dibutuhkan nanti di sana. Ia sudah memastikan semuanya.
"Dijah, Parman?"
"Dalem, Nyonya."
"Sudah siap?"
"Sudah."
"Kalau begitu, mari kita segera pergi!"
"Baik Nyoya."
Setelah semuanya siap, maka mereka segera berangkat. Tidak lupa semua barang sudah berada di bagasi.
Jalanan pagi ini lumayan lengang, oleh karena itu, tidak membutuhkan banyak waktu perjalanan mereka cukup lancar. Cuaca hari itu juga cukup cerah, membuat langkah Ibunda Yudistira terasa ringan karena seolah alam mengamini tindakannya.
Seperti kemarin, setelah sampai di tempat pangkalan ojek, maka Ibunda Yudistira beserta Dijah segera melangkahkan kakinya untuk menaiki ojek. Kebetulan hari ini tukang ojeknya agak berbeda sehingga perjalanannya lumayan memakan waktu empat puluh lima menit.
Akibat semalam hujan, akhirnya mereka kesulitan melewati rute ke rumah Mbah Darno. Sampai secara tidak sengaja, air bekas hujan semalam mengenai baju Ibunda Yudistira.
"Bisa bawa motor nggak sih, Mas? Baju saya sampai kotor seperti ini?"
"Ma-maaf, Nyonya saya tidak sengaja!"
Ibunda Yudistira menoleh kepada Dijah.
"Baik, Nyonya."
Dijah tidak punya pilihan lain kecuali tetap mendukung keinginan majikannya.
Sebelum masuk ke dalam pekarangan rumah Mbah Darno, Ibunda Yudistira permisi kepada Tuan Rumah. Setelah itu beberapa saat kemudian, pintu gubuk it terbuka dengan sendirinya.
KRIETT
Mata Dijah seolah melihat bayangan putih sedang membuka pintu untuk kedatangan mereka. Melihat pintu rumah sudah terbuka buru-buru Ibunda Yudistira segera masuk di susul dengan Dijah.
Dari kejauhan kedua tukang ojek terkejut dengan penampakan dari gubuk tersebut. Setau mereka dari dalam sana tidak ada kehidupan, tetapi kejadian barusan membuat buku kuduk mereka meremang.
"Rasanya sangat tidak nyaman jika kita terus berada di sini, entah kenapa firasatku mengatakan hal yang tidak enak."
"Sama, Jo. Aku juga merasa begitu sejak tadi, akan tetapi kita membutuhkan uang ini. Jadi sebaiknya kita tetap menunggu di sini saja."
"Aku juga berpikir begitu. Ya sudah kalau begitu."
Meskipun terpaksa, mereka tetap bertahan di sana. Tidak butuh waktu lama, kini Ibunda Yudistira dan Dijah sudah sampai di sana.
"Bagaimana apakah semua syarat yang aku minta sudah kamu siapkan?"
"Sudah, Mbah."
"Kalau begitu, siap sajikan semua syarat yang aku minta. Lalu kalian bersiap untuk terus berjaga sepanjang malam!"
"Baik."
Setelah semua syarat sudah tersaji di depan Mbah Darno, maka ritual segera dimulai. Mulutnya komat-kamit, sementara tangannya memegang menyan yang sudah dibakar. Mulutnya berkobar dengan sebuah api kecil yang terlihat di sana.
"Jabang bayi Anindita Puspa Ayu Batari, aku siapkan sebuah hadiah untukmu. Selama tujuh turunan maka kelurgamu akan berada dalam pengaruh jin dan kekuatan ilmu hitamku!" ucap Mbah Darno dengan berapi-api.e
Tidak lama kemudian terlihat kepulan asap dari tangan Mbah Darno. Berbau anyir dan seperti bau busuk yang sangat menusuk. Semula Mbah Darno menggenggam tanah yang berasal dari kuburan. Lalu setelah itu tanah yang ia genggam tiba-tiba saja menghilang setelah mengeluarkan asap tebal.
Sementara itu, Dijah yang terus memperhatikan semua yang dilakukan oleh Mbah Darno sama sekali tidak mengedipkan matanya. Terlihat sekali jika Dijah ketakutan tetapi kakinya tidak bisa digerakkan. Seolah ia tidak boleh meninggalkan tempat itu sampai ritual tersebut selesai dilakukan.
"Bagaimana ini, kenapa rasanya sangat tidak nyaman?" gumam Dijah.